Maaf itu Belajar

Maaf itu Belajar

0 161

Jangan lelah untuk memaafkan. Posisi dimana kita adalah sebenar-benarnya pemenang. Pemenang atas amarah yang sekian waktu terpendam. Sebaliknya, jangan pula kita merasa jengah untuk meminta maaf. Bukankah masing-masing kita adalah pribadi-pribadi lemah, yang tak mungkin murni lepas dari kesalahan. Tentu saja dengan catatan niat yang tulus mengharap ridhaNya semata.

Maka cobalah renungkan. Dalam konteks hubungan sosial horizontal, siapa saja yang selama ini diperkirakan sering tersakiti oleh polah, pun ucapan kita. Meski rasa-rasanya tidak kita sadari, terlebih yang secara sadar diperbuat. Bila perlu, buat daftar tertulis, meski akan memerlukan berlembar-lembar kertas buram, saking banyaknya yang masuk kriteria demikian. Setipis apapun kriteria itu.

Tak harus serumit menyusun rencana strategis seperti halnya lembaga-lembaga modern menetapkan jalan untuk menelurkan kebijakan-kebijakan, yang tentu saja memerlukan diskusi relatif panjang. Manakala lembaran daftar itu sudah terisi, maka mulailah mencicil dari yang paling memungkinkan untuk sesegera mungkin dimintai maafnya. Syukur jika bisa bertatap muka secara langsung. Jika tidak, banyak medium yang tak memberikan celah sedikitpun bagi kita beralasan.

Lalu, mengapa kita yang harus memulai?

Karena maaf itu belajar, maka jangan pernah kita berharap menunggu siapapun datang untuk mengiba maaf atas kesalahan yang diperbuat. Boleh jadi tak akan ada siapapun yang merasa demikian. Jika benar begitu, sampai kapan kita akan menunggu?

Karena maaf itu belajar, maka tali ukhuwah yang nyaris terputus lantaran egoisme masing-masing kita, akan terus diperjuangkan agar kembali terjalin erat. Bekal menapaki jalan kehidupan, yang tak selamanya datar. Satu waktu jika bersua tebing terjal.

Salah itu wajar? Tanpa berani mengambil resiko melakukan kesalahan, setiap kita hampir pasti akan stagnan, lantaran takut berbuat ini itu. Tentu bukan berarti harus tabrak sana tabrak sini, menjadikan wajar sebagai pembenaran.

Maka maaf itu belajar. Bersinergi dengan kesalahan, maaf adalah sebagai penyeimbang. Cara kita belajar berlapang dada untuk mengakui bahwa betul apa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan. Tentu dengan parameter aturan-aturan yang telah diwahyukan Allah Azza wa Jalla kepada RasulNya yang mulia. Bukan belaka di batas logika, etika, terlebih estetika.

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf :199)