Lukisan Kita

Lukisan Kita

0 144
google

Dalam sebuah bingkai lukisan, hampir selalu ada garis tepi. Sebuah garis pembatas konstruksi pesan yang ingin disampaikan kepada siapapun khalayak penikmatnya, bahwa sampai di situ keterbatasan karya.

Manusia, demikian pula. Tangan-tangan kentara dan ‘Yang Tak’, menghias kita, orang per orang, sehingga menjadi kita saat sekarang. Soal ‘Yang Tak’ adalah soal Kemahaan Pemilik alam Raya. Tak sulit memahaminya, tapi terkadang akal-akal sebagian manusia terlalu jumawa untuk mengakui, bahwa kita ada atas kehendakNya. Na’udzubillah. Jangan sampai kita terjebak di labirin itu.

Tentang tangan yang kentara. Ibu, bagian terbesar di antaranya, jika tak mungkin bicara yang paling besar. Coba renungkan saat-saat kita baru saja sebentuk gumpal darah, yang lalu dijadikan segumpal daging, dan seterusnya selama sembilan bulan berlangsung. Ada beban yang ia sungguh nikmati hari demi hari, meski harus dibayar dengan pening, mual, dan ragam kondisi yang sering fluktuasi, fisik, juga psikis.

Lalu lahirlah kita ke alam fana. Sering digambarkan sebagai kertas putih yang belum dilumuri tinta. Dan lalu kedua orang tualah yang amat berperan menjadikan lukisan diri ini menjadi indah, atau sebaliknya. Seperti Sabda Rasul Saw, “Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (muslim muwahhid), namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi….”(Muttafaq ‘alaih)

Tanpa menafikkan peran ayahanda, logis jika ibunda-lah yang kemudian dominan mewarnai sifat dan karakter anaknya. Tak berhenti seusai proses persalinan, enam bulan pertama kita lahir ke dunia, tidur yang kurang menjadi pemandangan harian. Tangis kita yang ‘mengea’ kencang, sering memecah kesunyian malam di saat ibunda baru saja berkesempatan sedikit merebahkan badan. Sebab lapar, dahaga, pun beragam penyebab lainnya.

Fase-fase kehidupan lalu berjalan. Dua, Tiga, Empat, Sepuluh, Dua puluh sekian tahun berlalu. Hingga kita masuk ke jenjang pernikahan, di mana sejarah lalu berulang.

Bagi seorang suami, menyaksikan langsung istri tercinta menjalani proses kehamilan hingga detik-detik persalinan adalah pelajaran luar biasa dari sang Empunya Semesta. Saat itulah, sebagian kita boleh jadi baru tersadar, betapa berat perjuangan ibunda. Saat berdarah-darah antara hidup dan mati, ia terus berusaha sabar untuk kita. Di ujung antara hidup dan mati, ia terus memperjuangkan kehadiran kita, generasi pelanjut cita-cita.

Saat melihat langsung, jasad jabang bayi yang terlahir ke dunia, senyumnya merekah. Luka bekas persalinan, bukan tak terasa. Syukur kehadirat sang Pencipta akan anugerah kehadiran kita, melupakan sejenak perih yang ada. Ia bahkan tak sabar ingin memberi kita kehangatan pelukannya, sembari memberikan kenikmatan air susu ibunda.

Pantas jika Islam, agama paripurna, memberi tempat istimewa kepada kedua orang tua kita, utamanya ibunda. Itulah yang dimaksud tangan-tangan yang kentara. tangan-tangan yang membingkai kita menjadi kita saat sekarang. jika dalam sebuah bingkai lukisan, hampir selalu ada garis tepi yang membatasi makna karya, maka dalam lukisan makhluk manusia, garis itu tetap ada. Ia tampak, salah satunya, ketika mampu menghadirkan keridlaan orang tua, termasuk ibunda, yang menjadi jalan turunnya Ridha Allah Azza Wa Jalla. Wallahu a’lam

Komentar ditutup.