Jam 9 pagi Nia sudah ada di pasar untuk menjual kalung pemberian almarhumah ibunya.

ALHIKMAHCO,– Nia nampaknya harus merelakan kalung kesayangannya dijual. Pasalnya, tetangganya, Asih, sejak usia kandungan empat bulan ditinggal pergi suaminya entah ke mana.

Nia selalu merasa iba pada tetangganya yang tidak punya penghasilan ini. Nia sendiri hanya seorang karyawan biasa, namun sangat mensyukuri rezeki yang diterimanya. Asih kini numpang di rumah orangtuanya, seorang pensiunan PT Pos Indonesia.

Semalam Asih dibawa ke Puskesmas. Nampaknya dia akan segera melahirkan. Pak Sujana, ayah Asih, hanya pegang uang Rp 50 ribu karena waktu itu tanggal tua. Beliau minta tolong Nia untuk meminjaminya uang dengan jaminan TV 14 inci. Nia tak sampai hati melihat tetangganya yang sudah tua, pergi kesana kemari tanpa hasil. Dia memutuskan untuk menolong dan meminta Pak Sujana membawa kembali TV-nya.

Nia sudah menyerahkan kalungnya untuk dijual dan uangnya dipakai keperluan persalinan Asih. Namun Pak Sujana tidak berani menerima kalung Nia. Beliau meminta agar Nia saja yang menjualkan. Dan Nia pun bersedia menjualnya esok hari.

Jam 9 pagi Nia sudah ada di pasar untuk menjual kalung pemberian almarhumah ibunya. Kira-kira beberapa toko lagi akan sampai ke toko emas. Dalam langkahnya menuju toko yang dimaksud, Nia bertemu Ida, teman SMP-nya. Jadilah mereka bernostalgia.

“Kalau kamu ngga’ sibuk, temani aku makan soto dulu ya. Sambil ngobrol. Kangen juga sudah lama kita ngga’ ketemu,” celoteh Ida.

“Boleh aja,” kata Nia. “Kebetulan aku masuk siang,” lanjutnya.

Sambil menunggu soto terhidang, mereka ngobrol ngalor-ngidul. Dari obrolan itu, Nia jadi tahu bahwa Ida sudah jadi pengusaha berhasil meski usahanya tidak besar.

Ketika Ida bertanya ada keperluan apa, Nia menjelaskan bahwa dia ke pasar untuk menjual kalung yang uangnya akan dipakai untuk biaya tetangganya yang melahirkan.

“Memangnya suaminya ngga’ ada?” tanya Ida.

“Dia ditinggal suaminya sejak usia kandungannya 4 bulan,” jawab Nia.

“Kalung siapa gitu?” tanya Ida lagi.

“Kalung punyaku,” jawab Nia lagi.

Ida terdiam seiring tukang soto menghidangkan sotonya. Pembicaraan pun berhenti dan mereka berdua menyantap soto dengan nikmat.

Usai menyantap soto, Ida menyerahkan amplop coklat yang sudah dia isi beberapa lembar uang ratusan ribu.

“Nia, bulan ini aku belum ngeluarin zakat. Entah kenapa ‘koq aku nahan-nahan terus padahal suamiku sudah menyuruh terus. Tolong berikan saja pada tetanggamu yang memerlukan itu. Ngga’ usah bilang-bilang dari siapa. Mudah-mudahan bisa meringankan beban tetanggamu itu,” kata Ida.

Nia sangat terharu. Dia memang sayang pada kalungnya. Tapi dia sudah meniatkan untuk membantu Asih. Tidak dia sangka, niat tulusnya diganjar langsung oleh Allah.

Subhaanallaah…

Allah Maha Kaya dan Maha Mengetahui. Bahkan setiap getar hati dan sudut hati hamba-Nya yang terdalam.

Benarlah janji Allah: Allah Maha Kaya. Allah akan membalas setiap kebaikan dengan berlipat ganda. Allah akan menolong siapapun yang bersungguh-sungguh menolong Allah, menegakkan agama Allah dan melaksanakan perintah Allah.

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7)