Langgar Peraturan Menteri, Umat Islam Bandung Minta KKR Digelar di Gereja

Langgar Peraturan Menteri, Umat Islam Bandung Minta KKR Digelar di Gereja

0 207

ALHIKMAHCO,– Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang digelar warga Nasrani, Selasa (6/12/2016) di Sasana Budaya Ganesha ditunda. Hal ini sehubungan dengan permintaan umat Islam yang ingin pelaksanaan kegiatan dilakukan di gereja saja.

Ketua Pembela Ahlu Sunnah (PAS), Roinul Balad sebagai perwakilan umat Islam menjelaskan permintaan pemindahan tempat itu disebabkan tujuan acara dan fungsi gedung yang tidak sesuai. Ia mengutip SPB 2 Menteri pada pasal 1 poin 3, “Rumah ibadat adalah bangunan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadat bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadat keluarga.”

“Sementara jika kita baca penjelasan KKR sendiri, ‘Kebaktian Kebangunan Rohani KKR sebenarnya identik dengan ibadah-ibadah yang pernah dilakukan Kristus dahulu seperti khotbah di bukit, pelayanan di tempat-tempat umum sehingga orang-orang kebanyakan (umum) bisa datang berbondong-bondong untuk mendengar pengajaran firman Tuhan, didoakan dan mengalami mujizat kesembuhan Ilahi, diselamatkan dengan percaya dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi.’ Berdasar penjelasan ini maka dapat kita simpulkan bahwa KKR adalah rangkaian ibadat. Sementara ibadat harus dilaksanakan di tempat atau rumah ibadat,”paparnya kepada Islamic News Agency (INA),Senin malam (5/12/2106).

Roin melanjutkan, acara KKR sendiri belum mengantongi izin dari Kemenag Jabar. Pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Kemenag, dan mereka menyatakan tidak pernah mengeluarkan surat rekomendasi untuk acara KKR.

“Sementara adanya surat yang di keluarkan oleh Bimas Kristen yang mengatas namakan Kemenag Jabar tidak bisa dipakai sebagai izin kegiatan. Surat izin atau rekomendasi harus keluar dan ditandatangani oleh Kepala Kemenag langsung,” jelasnya.

Hingga H-1, Manager Pengelola Gedung Sabuga, Gatot Riyanti menegaskan pihaknya masih menanti kelengkapan berkas surat, termasuk izin acara.

“Kami tegaskan ini bukan bentuk intoleransi kepada non-muslim, tetapi justru membantu pemerintah menaati peraturan khususnya SPB 2 Menteri tersebut. Jangan disalahartikan ini sebagai bentuk arogansi Ummat Islam kepada non-muslim, dalam hal ini kaum Nasrani. Justru ini untuk menjaga suasana kondusif dengan tidak melanggar aturan,” tegas Roin.

Pantauan di lapangan, acara KKR telah disosialisasikan dengan marak di berbagai tempat seperti baliho, spanduk, bahkan sejumlah stiker dipasang di angkutan kota (angkot). (Iman/Islamic News Agency/Alhikmah)