Laknat Bagi Penimbun Barang Dagangan

Laknat Bagi Penimbun Barang Dagangan

0 8

 

ALHIKMAHCO,– Sekalipun Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk melakukan jual beli. Tetapi Islam tidak pernah memperkenankan seseorang menimbun barang dagangannya untuk menumpuk kekayaan atas harta orang lain. Mengenai hal ini Rasulullah SAW pernah berkata, “Sejelek-jelek manusia adalah orang yang suka menimbun. Jika dia mendengar harga murah, merasa kecewa. Tapi jika mendengar harga naik, ia gembira.” (H.R Razin dalam Jami’nya) [i]

Menimbun barang atau ihtikar adalah memberi barang pada saat lapang, lalu menimbunnya supaya barang itu langka, dan akan dijual ketika harga melambung tinggi. Islam sangat mengecam perbuatan demikian. Namun, sebagian ulama ada yang membolehkan menimbun barang dagangan, selama barang yang ditimbun bukan bahan makanan. Seperti kata Ibnu Mubarak, dia berpendapat boleh menimbun kapas atau kulit kambing yang sudah  disamak.[ii]

Menimbun barang merupakan suatu perwujudan mementingkan diri sendiri. Di mana, pada saat yang bersamaan dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain.[iii] Para ulama sepakat bahwa diharamkannya menimbun apabila memenuhi dua syarat berikut, yakni dilakukan di suatu negara di mana penduduk negara itu akan menderita sebab adanya penimbunan. Kedua, penimbunan itu dimaksudkan untuk menatkkan harga, ketika kondisi barang tersebut sulit didapatkan oleh masyarakat, sehingga dia memeroleh keuntungan yang berlipat-ganda.[iv]

Rasulullah SAW mengancam orang yang demikian, sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut: Tidak akan menimbun kecuali para pendosa,” (H.R. Muslim). Dalam riwayat lain juga, dijelaskan “Barangsiapa menimbun bahan makanan selama empat puluh malam, maka sungguh Allah tidak lagi perlu kepadanya.” (H.R Ahmad)

Imam At-Thayibbi menyebutkan, bahwa hadits di atas tidak mesti empat puluh malam, namun bisa juga pada per periode tertentu yang menyebabkan kesengsaraan umum. Bahkan dalam riwayat Ibnu Asakir, disebutkan bahwa perbuatan menimbun itu tidak dapat ditebus, sekalipun dengan menyedekahkan harta penimbunan tersebut. [v]

[i] Muhammad Abu Ayyas, (), Keajaiban Salat. Dhuha, Jakarta: Quantum Media, hlm. 96

[ii] Salim bin Ied al-Hilali, (), Ensiklopedi Larangan, Bogor, Pustaka Imam Syafi’i, hlm. 215

[iii] Muhamad Sakir Sula, (2004), Asuransi Syariah, Jakarta: Gema Insan Pers, hlm. 372

[iv] M. Abu Ayyas, op.cit, hlm. 97

[v] Muhammad Sakir Sula, op.cit, hlm. 372-373