Kunjungan Imam Palestina ke Bandung Membuat Hadirin Menangis

Kunjungan Imam Palestina ke Bandung Membuat Hadirin Menangis

0 195
Syeikh Syaldi Filian

“Orang-orang yang menolong ini, dengan gigih, mendidik anak-anak yatim kami seakan anak-anak tersebut adalah anak mereka sendiri,”

SYAIKH Syaldi Filian, ulama dan imam asal Palestina itu sedang mengenang. Mengisahkan derita sanak, famili, saudara,  karib, seperjuangan di kampung halamannya sana, Palestina. Seraya dengan mantap menatap sekeliling ruangan.  Di hadapan khalayak, tak ragu ia bercerita mengenai kekejaman zionis yang tega membunuh para wanita, juga kaum lansia.

Palestina, bumi suci yang terus dirundung duka dan luka, kata sang Syaikh. Kajian Sepekan Ramadhan yang digelar Gerakan Muslimat Indonesia (GMI) bekerjasama dengan Sinergi Foundation dan Sahabat Al Aqsha ini seketika menjadi sunyi. Khidmat, semua mata tertuju pada Syaikh Syaldi Fillian di depan. Mata semakin berkaca-kaca. Tak terasa, air mata meleleh, melewati pipi. Tampak jelas, para jamaah yang kebanyakan warga Bandung ini mengusap air mata di pelupuk matanya, sambil menahan isak tangis.

Syaikh berkisah dengan lirih, tentang anak-anak di Palestina tanpa orang tua, berceloteh riang tanpa mengenal ayah dan ibu mereka yang telah dibunuh Israel tanpa pandang bulu. Lorong-lorong bawah tanah yang kerap dibuat warga Palestina untuk melindungi diri, tanpa rasa kasihan dialiri arus air oleh tentara zionis, sehingga orang-orang dalam lorong mati tenggelam dan kehabisan nafas.

Ia bersyukur, di tengah semua penderitaan yang dialami warga Palestina, masih banyak pula pertolongan yang diberikan pada mereka. Dari seluruh penjuru dunia, negeri-negeri muslim berbondong-bondong mengulurkan tangannya, termasuk Indonesia. Atas semua pertolongan tersebut, bangkit pula kesadaran warga Palestina agar mampu melahirkan penerus, yang kelak akan menaklukan zionis.

“Orang-orang yang menolong ini, dengan gigih, mendidik anak-anak yatim kami seakan anak-anak tersebut adalah anak mereka sendiri,” ungkapnya di Hotel Savoy Homann Bandung baru-baru ini.

Maka, dimulai pula perjuangan para ibu di Negeri Syam (baca: Keutamaan Negeri Syam) tersebut mendidik dan mengajari putra-putra mereka dengan sungguh-sungguh. Imam Palestina tersebut meyakini, sebuah rumah harus dibangun atas ketakwaan. Ibarat dinding yang kukuh, ketaqwaan tersebut akan menghalangi zionis Israel membumihanguskan negeri mereka.

Syeikh Syaldi Filian
Syeikh Syaldi Filian

Syeikh Syaldi tanpa ragu meyakini dahsyatnya tarbiyah yang ditawarkan Islam. Ia menyebut, banyak bukti yang mendukung keberhasilan pendidikan Islam. Ibnu Abbas, keponakan Rasulullah, salah satunya, yang telah menjadi seorang imam kala usianya tujuh tahun. Ia pun menyebut nama dua mujahidin cilik lainnya, Muadz dan Muawwiz, yang rela mengorbankan dirinya demi membela agama Allah.

Sang Syeikh menyatakan, para ibu di sana telah mengetahui resiko yang mereka hadapi. Kendati telah mendidik dan membekali anak mereka sebaik-baiknya dengan Al Quran, suatu saat mereka harus rela melepas anaknya ke medan perang. Orientasinya satu: jihad di jalan Allah. Demi menaklukan zionis, para ibu di sana merelakan anak-anak mereka menjadi mujahid. (baca: Ini Rahasia Mengapa Gaza Sulit Ditaklukkan Zionis)

“Namun, kami semua harus bersabar atas semua resiko dan derita yang kami hadapi,” katanya. Ia mengutip QS Al Baqarah: 155, Allah akan menguji hamba-Nya dengan kelaparan, ketakutan, kekurangan harta, dan kekurangan buah-buahan.

Layaknya gunung, ia mengungkap kesabaran warga Palestina sangat besar. Ia, beserta warga Palestina lainnya, akan terus bersabar sampai batas sabar tersebut terlihat. Dengan tegas, ia mengatakan warga Palestina akan tetap di sana, menjaga kehormatan sebagai seorang muslim.

“Demi Allah, kami tidak akan tunduk pada mereka. Karena kami tahu, pertolongan Allah sangat dekat!” serunya. Dengan takzim dan haru, seisi ruangan mengamini doa dan harapan imam Palestina  tersebut.  Tak lama, hadirin inisiatif merogoh kocehnya, membantu meringankan beban mereka, berharap sedikit apa yang mereka berikan dapat membantu perjuangan. (Aghniya/Alhikmah)