Kultus Hussein RA dan Asal-Usul Ritual Karbala

Kultus Hussein RA dan Asal-Usul Ritual Karbala

Ritual perayaan Asyura oleh penganut Syiah. Pic source: tempo.co

“Kekuatan Asyura bertumpu pada duka-cita (Azadari) dan upacara-upacara peringatakan lainnya, hampir sama dengan upacara Catholic Lenten (empat puluh hari sebelum paskah). Biasanya orang-orang Kristiani melakukan seperti hari Minggu Suci (Holy Week) dan peringatan Jumat Agung (Good Friday) serta prosesi jalan Salib (Way of the Cross).”

Sayyidina Husein radhiallahu ‘anhu, adalah cucu kinasih Rasulullah SAW. Dalam suatu riwayat Rasulullah SAW bersabda: “Husein dari aku dan aku dari Husein” (HR. Tabrani). Beliau sangat senang apabila melihat cucunya itu tertawa, dan sering terlihat Rasulullah SAW duduk bahkan bermain bersamanya.

Di kalangan para Sahabat nabi SAW dan ahlul bait (keluarga Rasulullah), sayyidina Husein sangat dihormati. Ia dikenal berbudi luhur, sangat sopan, alim, dermawan dan gagah berani. Khalifah Mu’awiyah ra, menaruh hormat padanya. Hussein sering diundang ke istana Mu’awiyah untuk diberi hadiah dengan jumlah yang banyak. Bahkan, sebagai bentuk khidmah kepada keluarga Rasulullah, Mu’awiyah memberi gaji kepada sayyidina Husein sebagai haknya dari Baitul Mal.

Peristiwa pembunuhan yang dialaminya di Karbala tentu saja membuat semua kalangan bersedih dan mengutuk para pembantainya. Umat Islam pastinya bersedih atas kesyahidan Husein di Karbala. Namun, umat Islam tidaklah tepat mengenang dengan tradisi ‘aneh-aneh’ dengan memukuli diri sendiri.

Bagi komunitas Syi’ah, tragedi Karbala adalah peristiwa yang harus dikenang dan diratapi secara mendalam, bahkan cenderung berlebihan. Ekspresi kedukaan dan penyesalan yang berlebihan membuat pengikut Syi’ah tersentuh emosinya. Semangat dan emosi yang terlampau “tinggi” ini menjebak mereka masuk perangkap ideologi-ideologi ghuluw.

Dengan dalih meratapi kesyahidan sang Imam, mereka melakukan ritual yang melibatkan emosi dan fisik dengan cara menyiksa dan menganiaya diri sambil berdarah-darah. Bahkan sampai memukulkan rantai dan pedang ke tubuhnya. Dengan begitu akan menambah pahala orang yang melakukannya.

Semua Ahlussunnah adalah pecinta ahlul bait. Namun cinta Ahlussunnah berdasarkan tuntunan al-Qur’an dan ajaran penghulu ahlul bait. Ahlussunnah tentu sangat berduka atas terbunuhnya cucu Rasulullah SAW itu secara tragis. Akan tetapi, kepedihan yang begitu mendalam tersebut, bagi Ahlussunnah tidak perlu diekspresikan secara berlarut-larut dengan menyiksa diri. Sebab, dalam ajaran Islam tidak ada doktrin seperti itu. Bahkan niyahah (meratapi mayat) sangat diharamkan dalam agama.

Dalam catatan sejarah, ekspresi menyiksa diri tersebut awalnya berasal dari ritual orang-orang Kuffah yang menyesal karena telah berkhianat kepada Hussein, sehingga mengakibatkan syahidnya beliau.

Ketika Yazid menjadi Khalifah dan mengangkat Ubaidillah bin Ziyad menjadi gubernur Kuffah, orang-orang Kuffah menginginkan agar Husein datang ke Kuffah untuk dibaiat menjadi pemimpin mereka. Mereka ini mengaku ‘Syiah-nya ahlul bait’. Abdullah bin Abbas mengingatkan agar Husein tidak memenuhi undangan orang Kuffah. Ternyata peringatan Abdullah bin Abbas benar. Begitu Husein sampai di Kuffah, orang-orang Kuffah berpaling dari Husein dengan alasan ketakutan kepada Ubaidillah bin Ziyad yang memang dikenal bengis, kejam dan pandai mempengaruhi orang.

Ketika pasukan Ubaidillah bin Ziyad menyerbu rombongan Husein, orang Kuffah tidak ada yang membantunya. Bahkan ada yang ikut terjun di dalamnya di belakang pasukan Ubaidillah. Ubaidillah memperlakukan secara keji jasad sayyidina Husein. Sampai-sampai Yazid bin Mu’awiyah muak bahkan menyesal dengan perbuatan Ubaidillah.

Orang-orang Kuffah yang mengaku ‘Syi’ah Ahlul Bait’ ikut menyesal. Mereka yang berada di barisan tentara Ubaidillah suatu saat mendatangi Ali Zainal Abidin. Sejarawan Syiah bernama Ya’qubi menceritakan; ‘Ketika sayyidina Ali Zainal Abidin ra memasuki kota Kuffah, beliau melihat orang-orang yang mengaku sebagai Syiahnya Husein (ayah Ali Zainal Abidin) menangis. Lalu Ali Zainal Abidin berkata:

“Kalian telah membunuhnya tapi kalian menangisinya. Siapa yang membunuhnya jika bukan kalian, kalianlah yang membunuhnya”.

Orang-orang Kuffah ini akhirnya menyesali perbuatan mereka, dan di bawah pimpinan Sulaiman bin Sord mereka membentuk komunitas sebagai wadah penyesalan diri. Komunitas itu dinamakan Attawwabun (orang-orang yang bertaubat). Wadah ini menampung orang-orang Syiah yang pernah berkhianat kepada sayyidina Husein ra.

Namun, bentuk ritual itu awalnya biasa-biasa saja. Tidak ada memukulkan pedang atau benda tajam ke tubuh sendiri. Ritual itu hanya berupa tangisan-tangisan sambil berteriak-teriak. Ritual ghuluw dengan memukulkan pedang ke tubuh mereka muncul pada saat dinasti Shafawiyah menguasai Iran pada abad ke-17. Unsur-unsur Persia dan kepercayaan asing banyak yang menginfiltrasi pada ajaran Syiah ketika  masa dinasti beraliran Syiah itu, termasuk ritual Karbala dengan mengalirkan darah sendiri ketika Asyura.

Vali Nasr, seorang ilmuan keturuan Iran berpendapat ritual Asyura itu merupakan kesempatan untuk pertobatan kolektif atas dosa-dosa mereka melalui ratapan dan penyiksaan diri sendiri. Ratapan ini digambarkan oleh Vali Nasr mirip dengan ritual Catholic Lenten. Dalam buku Shia Revivals ia menulis: “Kekuatan Asyura bertumpu pada duka-cita (Azadari) dan upacara-upacara peringatakan lainnya, hampir sama dengan upacara Catholic Lenten (empat puluh hari sebelum paskah). Biasanya orang-orang Kristiani melakukan seperti hari Minggu Suci (Holy Week) dan peringatan Jumat Agung (Good Friday) serta prosesi jalan Salib (Way of the Cross).”

Vali Nasr yang tinggal di Amerika mengaku sering melihat ritual orang Kristiani itu memiliki kemiripan dengan ritual Karbala. Menurutnya, praktik ekstrim dengan menumpahkan darah sendiri melalui sayatan di kulit kepala, menyerupai ritual penyesan Penitentes yang dilakukan di beberapa lingkungan Katolik yang aslinya tumbuh di semenanjung Iberia.

Dulu konon, otoritas Syiah pernah melarang ritual tersebut. Mereka tidak ingin membiarkan praktik seperti itu. Walau kenyataannya ini menjadi acara utama pada prosesi peringatan Asyura hingga kini.

Oleh karena itu peringatan atas kesyahidan sayyidina Husein semestinya diwujudkan dalam bentuk peringatan yang sesuai dengan kedudukan beliau. Alangkah baiknya jika peringatan itu berisi ceramah, penyampaian sejarah Rasul SAW, ahlul bait dan para sahabatnya yang berkorban dan berjihad di jalan Allah.

Peringatan tersebut seharusnya menjadi momentum untuk membina diri dan akidah. Bukan dengan menghancurkan diri dan berkhianat terhadap ajaran sang Imam. Itulah yang harus dilakukan jika kita benar-benar termasuk orang yang mendukung dan mencintai al-Husein ra.

Artikel ini ditulis oleh Kholili Hasib, peneliti Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPas) Surabaya. Disunting sesuai dengan kebijakan keredaksian.