Kuli Panggul itu Ternyata Sang Gubernur

Kuli Panggul itu Ternyata Sang Gubernur

2 321

Salman Al Farisi

Ketahuilah, kebaikan itu bukan karena banyaknya harta dan keturunan. Kebaikan itu karena banyaknya santunan dan manfaat dari ilmu yang kau miliki. Kau mengatakan bahwa kau tinggal di tanah yang disucikan, padahal bumi ini tidak diciptakan untuk seseorang. Berbuatlah seperti yang engkau ketahui dan persiapkan dirimu untuk menghadap hari kematian.

ALHIKMAH.CO–Hati Umar Ibn Al Khattab benar-benar gelisah. Raut mukanya benar-benar khawatir. Madinah kala itu sedang dilanda dag dig dug, sampai-sampai Amirul Mukminin berjalan ke pinggiran Madinah. Menanti kabar dari Madain, Persia, ihwal perang Qadishiyyah. Apakah umat Islam menang melawan Persia? Atau kalah?

Umar benar-benar gelisah, tak ada yang dapat menenangkannya kecuali seorang yang datang ke Madinah dan berjumpa Umar di tengah jalan. “Kaum muslimin menang,” kata orang tersebut, sambil melajukan kudanya ke Madinah. Sejenak berhenti, bertanya kepada Umar,”Di mana sekarang Amirul Mukminin?”

Umar tak henti-hentinya bersyukur mendapat kemenangan di pusat Persia, Al Madain. Seperti kebiasaan Umar, ia segera bermusyawarah dengan para sahabat di Madinah, dan harus menentukan wakil rakyat Madain dengan segera. Di utusnya seorang utusan membawa sepucuk surat kepada Salman Al Farisi, bahwa dia yang orang Persia kini mendapatkan amanah untuk menjadi wakil rakyat di Persia, Gubernur Persia.

Ketika surat itu tiba, Salman kaget bukan kepalang. Benar-benar ia tak menyangka bahwa ia akan menjadi Gubernur, bahkan tak ada keinginan sama sekali dalam dirinya. Namun apadaya, harus ada yang mengatur urusan kaum muslimin di Persia. Air matanya mengalir, begitu Islam meninggikannya, mantan budak itu kini kembali ke tanah kelahirannya, dan mengatur urusan umat di sana.

Mulai saat itu, Salman bertekad untuk selalu memimpin dengan keadilan dan berbuat yang terbaik yang Allah ridhai. Tak ada yang berubah dari Salman setelah menjabat. Kedermawanannya seperti laiknya ia sebelumnya. Gajinya ia habiskan seluruhnya untuk kaum fakir dan miskin.

Ia tegakkan musyawarah bersama penduduk Persia. Salman tak menuntut diberikan rumah dinas, atau kendaraan dinas. Ia benar-benar tak punya rumah, hingga sahabatnya, Khudzaifah memaksa Salman. “Maukah kau kami buatkan sebuah rumah?”
Salman balik bertanya,”Untuk apa? Apakah kau mau menjadikan aku raja dan membuatkan rumah untukku?”

Khudzaifah menjawab,”Tidak. Kami akan membuat rumah sederhana dengan atap terbuat dari bamboo. Jika berdirim kepalamu akan menyundul atapnya dan jika kau tidur, maka ujung kepala dan kakimu mengenai dindingmu.”

Salman menjawab, “Seakan-akan kau mengetahui apa yang ada dalam pikiranku.” Akhirnya Salman tinggal dalam gubuk sederhana itu. Ia hidup sangat sederhana dengan menganyam anyaman bambu dan bilik yang ia buat dengan tangannya sendiri, dan ia jual sendiri di pasar.

Tak ada perabotan karena sempit tempat tinggalnya. Hanya ada mangkuk minum yang juga mangkuk wudhunya. Tak ada pelayan yang melayani, semuanya dikerjakan sendiri, termasuk membuat tepung untuk makannya sehari-hari. Gubernur itu mudah ditemukan di jalanan, tengah merajut anyaman bambu.

Gubernur itu membeli daun kurma dengan harga satu dirham. Lalu ia menjadikannya keranjang-keranjang dan menjualnya seharga tiga dirham. Ia gunakan satu dirham untuk nafkah keluarganya, satu dirham untuk fakir miskin, dan satu dirham sisanya untuk membeli daun kurma lagi.

Para musafir yang datang ke Kota Madain Persia mungkin menganggap pemimpin Persia adalah seorang fakir miskin yang sering berjalan di pasar, tidur di gundukan pasir, atau seorang yang ada di lorong-lorong kota. Penduduk Persia sangat mengetahui tabiat pemimpinnya, hingga mereka sangat mencintainya.

Tak mungkin Salman korupsi satu dirham pun. Seluruh gajinya ia sedekahkan. Bahkan, satu dirham hasil keringatnya pun ia sedekahkan. Gubernur itu hampir setiap hari melayani rakyat.  Beberapa aduan ia selesaikan dengan bijak.

Pernah, saat  Salman sedang berjalan seorang diri melihat-lihat keadaan rakyat. Di sebuah tempat sepi, Salman berpapasan dengan seorang lelaki paruh baya yang sedang memikul karung yang cukup berat, dagangan dari Syam. Melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh, orang itu segera dipanggilnya; “Hai, kuli, kemari! Bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu.” Tanpa membantah sedikitpun, dengan patuh pria berpakaian lusuh itu mengangkut bungkusan berat dan besar tersebut ke kedai yang dituju.
Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, “Wahai, Amir. Biarlah saya yang mengangkatnya.” Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, “Siapa dia?, mengapa seorang kuli kau panggil Amir?” Ia menjawab, “Tidak tahukah Tuan , kalau orang itu adalah gubernur kami?” Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada ‘kuli upahannya’ yang ternyata adalah Salman al Farisi .

“Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu. Tuan adalah amir negeri Madain, “ ucap si pedagang. “ Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri.” Salman menggeleng, “Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.”

Setelah sekujur badannya penuh dengan keringat, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu, ia lantas berkata, “Kerja ini tidak ada hubungannya dengan kegubernuranku. Aku sudah menerima dengan rela perintahmu untuk mengangkat barang ini kemari. Aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?”

Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tanda-tanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur? Tak ada ajudan, puluhan wartawan yang mengikutinya, atau pun mobil mengkilap yang menemaninya.

23ba974c575c11e3a8320ee34e7602b1 8

Salman ‘blusukan’ tanpa ada media yang terus menerus mengikutinya. Tak ada pencitraan, karena dari dulu hingga selesai menjabat tetap seperti itu. Ia tetap sederhana. Pendidikan macam apa yang Rasul ajarkan hingga dapat menghasilkan para pemimpin teladan rakyat? Para wakil rakyat yang benar-benar menghargai rakyatnya?

Suatu saat, ketika Salman masih menjabat, ia mendapatkan surat dari sahabat yang dipersaudarakan dengan dirinya oleh Rasulullah, Abu Darda. Abu Darda tinggal di Syam, dan Salman tinggal di Persia. Mereka merupakan sahabat yang sangat dekat setelah Rasul persaudarakan.

“Salam ‘alayk, amma ba’du. Allah telah memberiku harta dan keturunan, dan aku tinggal di tanah yang disucikan.” Tulis Abu Darda. Salman membalas surat Abu Darda.

“Salam’alaykum, amma ba’du. Engkau telah menulis surat kepadaku mengatakan bahwa Allah telah memberimu harta dan keuturunan. Ketahuilah, kebaikan itu bukan karena banyaknya harta dan keturunan. Kebaikan itu karena banyaknya santunan dan manfaat dari ilmu yang kau miliki. Kau mengatakan bahwa kau tinggal di tanah yang disucikan, padahal bumi ini tidak diciptakan untuk seseorang. Berbuatlah seperti yang engkau ketahui dan persiapkan dirimu untuk menghadap hari kematian.”

Dengan sikap seperti ini, para sahabat nabi dapat memerintah dengan adil. Mereka dapat menjadi wakil-wakil rakyat teladan. Salman mengundurkan diri sebagai Gubernur Madain karena kecintaanya kepada jihad. Ia melanjutkan pembebasan Kuffah dan hidupnya ia habiskan dalam jihad fisabilillah.
sumber: berbagaisumber media Islam)/Alhikmah.co


LIKE & SHARE berita ini untuk berbagi inspirasi