KOTAK

KOTAK

0 99

Oleh : Ananda Putri Bumi * 

Ia menempelkan kedua tangannya ke dinding kaca di luar restoran cepat saji itu. Matanya memerhatikan orang-orang di dalam sana. Banyak sekali. Mereka mengantre membeli banyak makanan. Di tempat duduk barisan sebelah kiri, seorang anak seusianya sedang melahap ayam goreng dan menyeruput Coca-cola. Di belakang anak itu, seorang bapak tengah menyendokkan es krim ke mulutnya. Di meja-meja lain yang belum sempat dibersihkan, terlihat sisa-sisa makanan. Nasi yang hanya dihabiskan setengahnya, kentang goreng yang tampaknya masih utuh.

Ia menelan ludah dan meraba perutnya. Siang sudah hampir berlalu, tapi belum sedikit pun makanan masuk ke perutnya. Tidak banyak yang menyambangi masjid hari ini. Ia hanya mendapatkan dua ribu rupiah dari hasil menjaga sandal. Itu pun telah diambil semua oleh ibunya.

Ia lalu berjalan pelan sambil menyepak-nyepak batu-batu kecil di jalanan. Ia ingin pulang. Setidaknya bila tidak makan hari ini, ia ingin berbaring saja di salah satu sudut rumahnya. Tapi tadi ibunya marah-marah, karena ia hanya memberi sedikit uang. Di rumah, pasti kemarahan ibunya akan berlanjut. Kalau belum puas memarahi dengan menyemprotkan kata-kata pedas, ibunya akan melempar barang apa pun kepadanya untuk melampiaskan kemarahan. Ia tidak akan bisa tidur dengan tenang.

Terpikir olehnya untuk kembali ke masjid tempat ia biasa mengumpulkan uang recehan. Mungkin di sana masih ada orang yang akan shalat dan mau menitipkan sandalnya. Mungkin uang yang didapatnya nanti akan cukup buat membeli makanan. Tapi ia harus berhati-hati. Ia tak ingin ketahuan ibunya.

Ia menyeka keringatnya dengan lengan baju. Saat kepalanya menengadah, ia melihat sebuah spanduk di perempatan jalan di hadapannya. Spanduk itu berwarna putih bertuliskan huruf-huruf hijau. Sejak diajarkan membaca oleh salah satu kakak berjilbab di masjid, ia selalu membaca apa saja yang ditemuinya di jalan. Ia jadi senang membaca. Meski masih terpatah-patah, ia suka memeragakan kemampuannya di depan teman-temannya di jalanan.

“Se..la..mat Da..tang Bu..lan Su..ci Ra..madhan. Bu..lan Pe..nuh  Ber..kah dan Am..pu..nan,” ia membaca tulisan di spanduk itu.

Sejenak ia tertegun. Ia baru ingat, beberapa hari yang lalu kakak berjilbab itu bilang bahwa sebentar lagi bulan puasa. Ia lantas teringat pengalaman-pengalamannya pada bulan puasa yang sudah-sudah. Ia kembali memegang perutnya. Senyumnya pun mengembang. Tak lama, senyum itu berganti dengan tawa tanpa suara. Kini ia tertawa-tawa sambil melompat dan menari.

*

Sebentar lagi azan magrib berkumandang. Di dalam masjid, ia sedang bersama ibunya dan puluhan orang lainnya. Sebelum adzan, biasanya kotak berisi bermacam-macam kue dan segelas air mineral akan segera dibagikan. Benar saja.

Beberapa lelaki muncul. Mereka mengangkut plastik-plastik besar berisi kotak-kotak kue, lalu membagi-bagikannya. Seperti hari-hari sebelumnya, ia memilih barisan terdepan yang paling tepi agar mendapatkan kotak kue lebih awal. Pelajaran ini ia dapatkan dari bulan puasa tahun-tahun sebelumnya.

Dan setelah lelaki yang bertugas membagikan itu berlalu, dengan lihai ia akan beranjak dari tempatnya semula menuju barisan belakang. Maka ia akan mendapatkan kotak kue lagi. Kotak kuenya yang pertama akan disembunyikan dengan rapi oleh ibunya.

Kata ibunya, malam ini orang yang rumahnya besar di ujung jalan akan membagi-bagikan nasi kotak untuk orang-orang miskin. Meski tempatnya tidak jauh dan ia sudah hapal, ia cepat-cepat menghabiskan kuenya agar bisa segera pergi. Ketika akan berlari menuju rumah besar itu, ibu menarik tangannya dan membisikinya agar mengambil dua kotak. Ia mengangguk dan berlalu. Ia tahu, ibunya pasti akan menyusulnya ke rumah besar itu dan akan juga mendapatkan sekotak nasi. Kotak nasi yang satu itu untuk makan ia dan ibunya esok pagi.

Ibunya tadi juga mengatakan kalau subuh besok akan ada artis yang akan datang ke sekitar tempat tinggal mereka dan membagi-bagikan makanan untuk sahur. Ibunya pun berpesan agar ia mengambil jatah dua kotak. Kotak nasi yang dibagikan saat subuh itu untuk makan siang ia dan ibunya.

Setelah selesai menyantap nasi kotak di rumah besar itu, ia bergegas menuju masjid tempat ia biasa menjaga sandal. Nasi kotak yang masih utuh telah diamankan oleh ibunya.

Di masjid, orang-orang tengah melaksanakan rakaat terakhir shalat witir. Ia berdiri dengan tenang di samping sandal-sandal yang telah ia rapikan tak lama sesampainya di masjid. Jumlah sandal itu banyak sekali. Kalau bukan bulan puasa, tak pernah ditemuinya deretan sandal sebanyak itu di depan masjid. Ia menghitung sandal-sandal itu dan mengira-ngira jumlah uang yang akan diberikan kepadanya.

Setiap bulan puasa mereka selalu memberi lebih besar. Kalau hari-hari biasa, mereka hanya akan memberinya paling banyak lima ratus rupiah untuk sepasang sandal. Namun di bulan puasa, untuk sepasang sandal kadang ia bisa mendapatkan sampai tiga ribu rupiah. Untuk mendapatkan uang itu, ia hanya tinggal mengatakan, “Pak, Bu, sandalnya udah dijaga.” Dan mereka pun mengerti sambil merogoh saku.

Ia melompat sambil menari menuju rumahnya. Bibirnya tak henti-henti membentuk senyuman. Sesekali ia meraba kantong roknya yang menggembung. Ia belum sempat menghitung jumlah uang yang didapatnya, tapi ia tahu jumlahnya sangat banyak. Ibu pasti senang, pikirnya. Selama bulan puasa, ia jarang dimarahi. Paling-paling ibunya marah kalau ia mengambil jatah makanan lebih banyak.

*

Ia menempelkan kedua tangannya ke dinding kaca di luar restoran cepat saji itu. Matanya memerhatikan banyak sekali orang di dalam sana. Mereka memesan banyak makanan dan melahapnya. Mereka menyeruput minumannya. Ia menelan ludah, lalu memegang perutnya yang seharian belum terisi. Ia hanya mendapatkan tiga ribu rupiah dan semua telah diambil ibunya sambil mengomel.

Tidak ada makanan untuknya hari ini. Bulan puasa telah berlalu. Tidak ada lagi yang membagikan kotak berisi kue-kue. Tidak ada lagi orang-orang kaya dan artis-artis yang membagikan nasi kotak untuk makan malam dan makan sahur. Di depan masjid, sandal pun berderet beberapa pasang saja.

Ia lalu berjalan pelan sambil menyepak-nyepak batu-batu kecil di jalanan. Ia ingin pulang. Tapi ibunya pasti akan melanjutkan marah-marahnya sambil melemparkan barang-barang ke arahnya. Maka ia menunggu dulu hingga ibunya tertidur. Baru setelah itu ia akan pulang.

***

Ananda Putri Bumi, bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Bandung.