Kota-kota Asia Afrika akan Wujudkan Smart City

Kota-kota Asia Afrika akan Wujudkan Smart City

0 38

ALHIKMAHCO,– Smart City (Kota Cerdas) merupakan konsep tatanan kota yang berbasis pada teknologi, demi mencapai kesejahteraan masyarakat. Demikian diungkapkan Prof. Suhono Supangkat, Ketua Asia Africa Smart City Summit di Bandung, Rabu (22/4/2015).

Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil, dalam acara yang sama menegaskan bahwa  Smart City bisa menjadi kunci bagi negara-negara Asia Afrika, yang memiliki populasi penduduk yang padat, untuk berinteraksi lebih efektif dengan warganya.

Terkait hal ini, Toshio Obi, seorang Profesor dari Waseda University, memberikan sarannya bagi pemimpin di negara-negara berkembang tersebut. Ia berpendapat, kota-kota di Jepang, seperti Tokyo dan Yokohama, bisa menjadi percontohan bagi kota yang ingin mengembangkan konsep Smart City..

“Tokyo adalah kota terbersih di dunia. Negara-negara di Asia Afrika bisa mengadopsi konsep tata kota Tokyo,” jelas Toshio Obi, dalam diskusi panel Asia Africa Smart City Summit, di Hotel Trans Luxury Hotel, Rabu (22/04/2015).

Terdapat empat hal yang ia sampaikan: pertama, agar negara-negara KAA tersebut mengembangkan kota dengan konsep konsep kontrol digital. Kedua, adanya investasi dana yang besar untuk pengembangan rencana Smart City ini. Karena, lanjutnya, sebuah kota harus mau berkorban  dana demi menciptakan layanan teknologi yang maksimal bagi masyarakat.

“Ketiga, perlunya desentralisasi, agar pemerintah daerah fokus mengurus kotanya sendiri,” ujarnya.

Keempat, masyarakat KAA harus mendirikan Asosiasi Smart City sedunia. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kooperasi yang baik antar negara dan bisa saling mengembangkan konsep Smart City yang sesuai untuk negara berkembang.

Ridwan Kamil sendiri, yang juga tengah mengembangkan Bandung Smart City, sepakat sehubungan dengan ide Toshio Obi dalam membangun asosiasi Smart City. Menurutnya, adanya organisasi resmi bisa memudahkan kota tersebut dalam membuat perjanjian dan payung hukum lainnya.

“Bayangkan jika ada 200 kota, dan harus membuat 200 perjanjian. Kan repot,” tukasnya. (Aghniya/ed:rl/Alhikmah)