Komunitas Sensyari: Syairkan Syiar

Komunitas Sensyari: Syairkan Syiar

0 37

Panggung yang gemerlap. Lampu-lampu sorot berkelip, menimpa wajah para pemain. Rias wajah yang unik, berwarna-warni memukau penonton. Gerak tubuh lincah tak kalah memesona. Kadang, dipadu dengan kostum minim bahan. Dibenarkan, dengan dalih seni.

Pembaca, seni teater memang kerap menghibur para penonton. Pertunjukannya berisi tentang hidup sehari-hari, hanya sarat dengan nilai-nilai sosial. Usai pentas, tak jarang penonton mengantongi sejuta makna. Menarik hikmah, yang siap dituangkan dalam kehidupan sebenarnya.

Namun, sesering apa kita menyaksikan pentas yang sesuai ajaran agama? Tak malu lagi, kini para pemain teater itu memamerkan aurat. Pakaian hanya tinggal secarik di tubuh. Ditambah lagi, jarak antara laki-laki dan perempuan tak terjaga. Semua bebas berdekatan, bercampur baur, dan bersentuhan. Bukankah ikhtilat dilarang dalam Islam?

Pula, hampir tak pernah ditemukan, sebuah grup teater yang fokus berkisah tentang teladan Islam. Hanya di sudut-sudut temaram kota, pesantren-pesantren masih menampilkan drama tentang kisah teladan dalam kitab suci.

Pemikiran itu melatarbelakangi berdirinya Sensyar’i (Sensasi Syariah), grup teater besutan Argan Hasta Nugraha. Ia konsisten menampilkan pertunjukan teater yang berkisah tentang sejarah-sejarah keislaman. Ada banyak pentas yang dilakukan, salah satunya adalah drama musikal “Muhammad Al Fatih” yang sukses digelar awal tahun lalu.

Pemahaman mengenai seni dalam ajaran Islam, tentu tak langsung didapatkan. Ilmu itu baru didapat setelah ia jatuh bangun mendirikan grup teater. Sejak 2003, minat Argan di bidang seni memang menggebu.

Kala itu, ia masih duduk di bangku sekolah menengah. Berbekal pengalaman kabaret saat sekolah dasar, ia nekat mengajak lima orang teman sekolah, untuk menampilkan sebuah pertunjukan di acara perpisahan sekolah.

Ketika tak dinyana sukses, Argan mencoba membesarkan grup ini. Ia dan lima orang temannya itu merekrut dan menambah 35 orang lain untuk tampil di reuni akbar sekolah. Waktu itu, ia menamai grup ini Sensasi Kabaret.

Di tahun berikutnya. Sensasi Kabaret mendapatkan kesempatan untuk mengikuti lomba kabaret di Sukabumi. Lagi-lagi, tak disangka, mereka keluar sebagai juara. Rasa haru dan bahagia yang menyelimuti kelompok itu, melahirkan kedekatan antar anggota.

Sensasi Kabaret terus mengepakkan sayap. Mereka sering mengisi pertunjukan di banyak acara di Bandung. Sudah diputuskan. Mereka hendak menjadi grup teater yang go international.

Namun mimpi tinggallah mimpi. Badai cobaan menerjang Sensasi Kabaret. Terhitung dua kali sejak 2007, mereka terancam bubar. Sebabnya, kesalahpahaman kerap meliputi. Satu persatu anggota meninggalkan grup yang telah melalui banyak pengalaman bersama ini.

“Karena tidak ada dasar Islam, tidak ada pegangan, kita sampai sempat saling membenci, berprasangka buruk, menghujat, bahkan bermuka dua,” kata Argan, ditemui Alhikmah pertengahan Oktober lalu.

Lalu pada tahun 2014, Argan mulai sering mempelajari Islam di bawah bimbingan Ustaz Darlis Fajar. Ia mencoba kembali bangkit. Argan memutar kemudi Sensasi Kabaret. Yang mulanya kering oleh masalah duniawi, kini menjadi sarat dengan nilai-nilai Islam.

“Hati kami harus dibina agar dijauhkan dari penyakit-penyakit hati.” tegasnya.

Mereka berbenah diri, bersama-sama mengaji pada Ustaz Darlis Fajar uang siap membina mereka. Tak lupa, mulai mengkaji Al-Qur’an dan Hadits terkait seni dan drama musikal. Dan terutama, memperbaiki ibadah-ibadah dari para pengurus dan anggota.

Tahun 2015, resmilah grup baru yang dinamai Sensyar’i itu. Aneka fatwa ulama pun tak luput dipelajari. Rupanya, ada batasan-batasan dalam menjalani seni teater. Diantaranya: tidak boleh memerankan posisi Rasulullah, isteri-isterinya, dan khulafaurasyidin.

“Kemudian, kita juga tidak boleh ikhtilath (bercampur) antara pria dan wanita yang bukan muhrimnya, berperan menjadi lawan jenis, berperan sebagai malaikat, menggambarkan kiamat, surga atau neraka,” papar Argan.

Para anggota Sensyar’i pun diarahkan agar shalat tepat waktu. “Karena anggota Sensyar’i kebanyakan dari umum. Dulu, kalau latihan terdengar suara adzan, mereka lanjut bekerja saja. Tapi di Sensyar’i, semua harus break saat terdengar azan dan shalat dulu.” katanya.

Sepintas, batasan-batasan itu tampak menghambat proses pertunjukan, namun mereka bertekad tetap taat pada hukum Islam. “Kita ingin sami’na wa atha’na.” katanya.

Sebab ia menegaskan, visi misi Sensyar’i hanya satu: mendekatkan diri pada Allah dan Rasul-Nya. Itu saja. Dengan visi dan semangat baru, ia berharap Sensyar’i bisa berdakwah dengan minatnya di bidang seni teater.

Sebab itu, dalam pentasnya, Sensyar’i selalu konsisten mengampanyekan ajaran Islam, terutama yang berhubungan dengan sejarah. “Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa Islam dulu pernah jaya. Misal sejarah Muhammad Al Fatih, mungkin kebanyakan orang awam hanya tau namanya tapi harus tau juga perjuangannya,” terang Argan.

Kini, Sensyar’i telah banyak melakukan pertunjukan di berbagai event di Jakarta dan Bandung. Kebanyakan panitia acara, justru menyukai teater bernafaskan Islam dibanding tema umum. Secara rutin, Sensyar’i juga rutin mengadakan teater tahunan.

Jika dulu tujuannya adalah go international, maka sekarang Argan lebih ingin fokus pada sisi ukhrawinya. Lebih pada bagaimana pertunjukan yang ditampilkan bisa memberikan maslahat pada masyarakat yang menonton.

Pertengahan April lalu, Sensyar’i sendiri resmi mendirikan yayasan, yang bergerak di bidang tarbiyah pada masyarakat luas. Terutama pada anak-anak, mereka akan banyak memberikan pengajaran agama. Harapannya besar, yaitu agar masyarakat bisa tercerahkan wawasan keislamannya.

Terutama di tengah pesatnya kemajuan arus informasi dan teknologi, umat Islam seakan terbodohi dengan tontonan yang ada. “Kami ingin menjadi penyeimbang seiring banyak konten yang tidak layak ini.” tandasnya. (Ricky/ed.Aghniya/Alhikmah)

BERITA TERKAIT