Komunitas Koperasi Syariah Almunajat, Satu Kata untuk Rentenir: “Lawan!”

Komunitas Koperasi Syariah Almunajat, Satu Kata untuk Rentenir: “Lawan!”

1 297

“Bayangkan saja. Penghasilan petani dan pedagang yang tidak seberapa habis untuk membayar hutang kepada rentenir. Ingat, bukan membayar pokok hutang, tetapi membayar bunganya saja yang makin besar. Ini seperti masuk ke lingkaran setan,”

ALHIKMAH.CO–Perekonomian menjadi salah satu masalah pelik yang harus dipecahkan di negeri ini. Di mana sistem yang dibangun cenderung kurang berpihak pada rakyat banyak. Malah hal itu dimanfaatkan demi keuntungan ekonomi segelintir orang saja

Maka tak heran apabila banyak rakyat miskin hidup di negeri ini. Mereka tidak memiliki penghasilan tetap bahkan untuk makan dalam satu hari saja kelimpungan bukan main. Paling memilukan, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari tak jarang mereka harus meminta ‘bantuan’ kepada rentenir. Tentunya dengan konsekuensi yang cukup besar. Selain terperosok ke lembah maksiat, rakyat miskin ini juga tercekik oleh bunga yang teramat besar. Cerita kehilangan rumah dan tanah lantaran hutang seolah menjadi biasa. Saking banyaknya masyarakat yang terjerat mafia bernama rentenir.

Kondisi yang memilukan ini menjadi pemikiran segelintir ibu-ibu di kawasan Jl Gede Bage Selatan, Kelurahan Rancabolang, Kecamatan Gede Bage Kota Bandung. Kaum ibu ini melihat jika orang-orang di lingkungan mereka sudah banyak yang terjerat rayuan rentenir.

“Berangkat dari rasa iba itulah kami mencoba mendirikan sebuah koperasi syariah demi melawan keberadaan rentenir ini yang makin hari makin merajalela menjerat masyarakat,” ungkap Hj. Lilis Kosmawati, S.Ag saat ditemui Alhikmah sepenggal Oktober 2012.

Hj. Lilis mengaku pada mulanya ia bersama ibu-ibu di wilayahnya tidak mengetahui seluk beluk koperasi yang hendak ia dirikan. Hanya saja dalam hati mereka timbul perasaan greget untuk meminimalisir, bahkan menghapuskan ketergantungan warga terhadap rentenir.

“Bayangkan saja. Penghasilan petani dan pedagang yang tidak seberapa habis untuk membayar hutang kepada rentenir. Ingat, bukan membayar pokok hutang, tetapi membayar bunganya saja yang makin besar. Ini seperti masuk ke lingkaran setan,” tegas Hj. Lilis.

Berangkat dari hal itulah pada tanggal 3 Oktober 2011 kaum ibu ini mendirikan sebuah koperasi masjid berbasis syariah demi melawan rentenir. Di mula, para anggotanya adalah kelompok pengajian majelis taklim Almunajat Rancabolang. Setelah itu mereka mengajak kaum ibu dan bapak yang berada di wilayahnya untuk masuk menjadi anggota koperasi. Hal yang unik adalah setiap anggota koperasi syariah ini diwajibkan untuk mengikuti pengajian, minimal satu bulan sekali. Menurut Hj. Lilis ini dilakukan supaya para anggota mendapatkan siraman rohani untuk bekal kehidupan.

Program yang digulirkan oleh koperasi syariah ini bagi para anggotanya berbentuk simpan pinjam, perdagangan dan jasa. Program simpan pinjam ini selain berbentuk tabungan biasa juga bisa tabungan paket, di mana setiap satu minggu sekali ada salah seorang pengurus koperasi yang akan mendatangi para anggota untuk mengambil uang tabungan.

Selain itu, bagi anggota yang membutuhkan diberikan modal usaha dengan sistem pinjaman syariah. Tidak perlu memberikan agunan dasarnya hanya berupa kepercayaan saja. Hal ini tentu saja membawa angin segar bagi setiap orang, terutama para pedagang dan petani. Bahkan, menurut Hj. Lilis para sopir yang mangkal di wilayah Gede Bage juga banyak yang menjadi anggota koperasi.

“Tentu saja jika hanya berupa tabungan dan pemberian modal usaha kami tidak akan mampu melesat jauh melawan rentenir. Untuk itu kami mencoba juga membuka usaha untuk membantu misi kami ini,” ungkap Hj. Lilis.

Koperasi syariah ini membuka lini bisnis berupa usaha perdagangan di bidang pulsa elektronik, dan pembuatan kerupuk bermerek Fino. Bahkan koperasi ini sudah memiliki kios tersendiri di wilayah Derwati, Kota Bandung. Sedangkan kerupuk Fino penyebarannya sudah dilakukan tidak hanya di wilayah Kota Bandung, tapi sudah merambah ke beberapa wilayah lain, seperti Kabupaten Bandung, Cimahi dan Bandung Barat. Semua aktivitas ini melibatkan seluruh anggota koperasi. Ditambah lagi menjalin kerja sama dengan perajin kerupuk dan petani yang lain.

“Jika maju, kami ingin maju bersama. Makanya kami dalam lini usaha ini juga melibatkan pihak-pihak lain. Rejeki yang Allah berikan semoga bisa dirasakan oleh setiap orang, biar berkah,” ungkap Hj. Lilis.

Prinsip berkah inilah yang dipergunakan oleh koperasi syariah Almunajat dalam menjalankan misinya membasmi rentenir. Ternyata kaum ibu lewat aktivitas pengajian bisa memberikan manfaat luar biasa kepada lingkungannya masing-masing secara langsung. Salah satunya lewat koperasi syariah berbasis masjid. Subhanallah, patut kita contoh.

(Ferry Fauzi Hermawan)


Like & Share berita ini untuk berbagi inspirasi