Komunitas Islam Ini Berhasil Pertahankan Berdirinya Masjid Selama 6 Abad di Lithuania

Komunitas Islam Ini Berhasil Pertahankan Berdirinya Masjid Selama 6 Abad di Lithuania

pic source: BBC

Selama lebih dari 600 tahun, umat Islam telah lama hidup di wilayah Baltik Lithuania, kendati Spanyol telah mengusir suku Moor (umat Islam yang menduduki beberapa wilayah Spanyol) karena perselisihan agama, pada Abad Pertengahan lalu.

Pembaca, barangkali anda tak akan mengira bahwa diantara lebatnya hutan dan luasnya danau di Lithuania, sebuah masjid telah berdiri selama 600 tahun. Hal ini merupakan sebuah bentuk toleransi dari pemegang kuasa saat itu, meski mengetahui konflik agama tengah menimpa belahan Eropa sana.

Sebagaimana bangunan lainnya di wilayah Baltik, masjid tersebut berupa bangunan berbahan kayu. Bilah-bilah kayu itu menyusun rapi masjid, tak lupa jendela berbingkai dengan bahan yang sama. Di bagian atas masjid, lapisan seng membalut atap.

Yang membuatnya istimewa, di puncak atap terdapat menara kaca yang ditutupi sebuah kubah, layaknya yang biasa dipasang dalam sebuah gereja. Kubah tersebut dipasangi bulan sabit kecil di atasnya, sebuah simbol yang jarang ditemui di masjid Eropa. Di masjid itu, terdapat sebuah makam tua dari bangsawan Tatar bernama ‘Allahberdi’ yang meninggal pada 1621. Ini menjadikan masjid ini unik, lagi menentramkan.

Untuk menuju masjid yang dibangun sejak 1558 ini, diperlukan waktu 20 menit perjalanan ke sebelah barat daya Vilnius, ibukota Lithuania. Masjid ini terletak di sebuah desa bernama Keturiasdesimt Totoriu. Nama kota tersebut merujuk pada 40 Tatar, yang menurut cerita adalah jumlah keluarga Tatar yang menetap di Lithuania lebih dari enam abad. Mereka menetap disana atas undangan raja saat itu, Vytautas.

Saat itu, kerajaan  tengah mendapat tekanan dan ancaman terus menerus dari kerajaan Kristen di bagian barat, Ksatrian Teutonik. Pasca perang militer di Laut Hitam, Vytautas pun membawa sejumlah besar muslim dari tatar Krimea, dan sebagian kecil Yahudi Karaite untuk membantu mempertahankan wilayah Lithuania. Hingga akhirnya, para Tatar dan Karaite berjuang bersama Vytautas memerangi pasukan Teutonik dalam perang Grunwald (sebuah wilayah antara Warsama dan Gdansk).

Sebagai balasan atas dukungan Tatar, Vytautas menghadiahkan umat muslim saat itu sebuah wilayah, disertai dengan hak kebebasan beragama. Padahal, saat itu adalah tahun dimana suku Muslim tertua di dunia, Moor, diusir dari Spanyol.

Saat ini, setelah 600 tahun lamanya, ada sekira 120 orang yang merupakan keturunan Tatar di Keturiadesimt Totoriu. “Kami (keturunan Tatar) ada disini karena Vytautas telah memberikan wilayahnya,” ujar Fatima Stantrukova (75), seorang mantan pengajar Sastra Rusia.

Penduduk Tatar terus tumbuh dan menyebar ke bagian selatan dan barat Lithuanua. Kini, ada ratusan masjid yang didirikan di desa-desa sekitar kota Vilnius, dan Minsk. Namun seiring dengan berjalannya waktu, bahasa dan budaya Tatar kian terkikis sejak awal abad 18.

“Dengan berlalunya waktu, mereka lupa dengan bahasa dan adat-adat mereka,” tulis Muhammad Murad Al Ramzi, seorang peneliti pada abad 19. Ia melanjutkan, “Meski begitu, mereka tidak pernah kehilangan iman mereka sebagai seorang muslim,”

Sebagai muslim, masyarakat Tatar mendapat banyak tekanan dari waktu ke waktu. Pada periode Uni Soviet berkuasa, semua pemimpin agama dibunuh atau diasingkan ke Siberia. Buku-buku dan arsip dibakar. Masjid-masjid pun banyak yang pada akhirnya ditutup, karena Islam dilarang.

“Kami tidak membiarkan masjid ini jatuh ke tangan Uni Soviet. Waktu itu, kami gunakan masjid secara diam-diam,” kenang Fatima. Ia menuturkan, pada masa-masa buruk itu, imam-imam dan umat Islam di sekitar tetap menghidupkan masjid demi pendidikan anak-anak.

“Masjid adalah satu-satunya yang tersisa (dari peninggalan Tatar),” tukasnya.

Keadaan tersebut berubah saat jatuhnya Uni Soviet. Banyak pelajar muslim berdatangan dari Libanon dan Libya. Ramadhan Yaqoob, seorang keturunan Tatar, menjadikan kesempatan tersebut untuk mempelajari Islam, yang selama ini banyak dibatasi oleh pihak Uni Soviet.

“Datangnya para pelajar Libanon membantu kami melatih memimpin komunitas muslim disini,” kata Yaqoob. (Aghniya/Alhikmah/Worldbulletin.net)