Kisah Wirianingsih, dan 10 Anak Penghafal Al Quran

    0 33

    “Jika antum datang ke rumah kami, pasti kaset atau radio yang melantunkan ayat-ayat Quran itu selalu menyala 24 jam non-stop. Sampai sekarang anak-anak dewasa dan ada yang sudah berkeluarga, itu tetap kami lakukan”

    Berbicara Islamic Parenting, tentu tidak bisa lepas dari yang namanya Al Quran sebagai role dasar konsep-konsep pendidikan anak. Maka sebetulnya, menjadikan pedoman itu terpatri di dalam hati menjadi satu kewajiban sekaligus asa muslimin muslimat dunia.

    Pembaca, dari sekian contoh yang bisa dihadirkan, tak salah juga bila ingatan kita disegarkan kembali oleh muslimah inspiratif satu ini. Bila pembaca masih ingat satu figur yang sempat marak mengisi beberapa laman berita, khususnya di media-media Islam, tentang kesepuluh anaknya yang penghafal quran. tak salah bila memunculkan nama Wirianingsih. Berkat keuletan dan kesabarannya, anak-anaknya kini menjadi penyebar syiar-syiar Al Quran di pelbagai tempat. Selain itu, beliau juga turut mendedikasikan dirinya di jalan dakwah.

    Sebut saja anaknya yang ketiga, Maryam Qonitat yang sedang berada di Malaysia, membuka lembaga tahfidz di sana. Atau anaknya yang nomor enam, Ismail Ghulam Halim yang menginisiasi gerakan tahfidz di kalangan mahasiswa, lewat Indonesia Quranic Foundation. Sementara ia sendiri, setelah menghantarkan anak-anaknya menjadi para penghafal quran. juga membuka lembaga tahfidz di lingkungan rumahnya.

    Lantas, apa yang membuat seorang Wirianingsih memilih jalan hidup yang demikian?  Kepada Alhikmah, beliau bercerita banyak hal. “Sebagaimana dipahami secara umum, Al Quran itu petunjuk hidup, membuat bahagia, tenang secara ideologi,” ucapnya saat ditemui di Jakarta sepenggal oktober kemarin.

    Rasanya sulit, imbuh Wiwi, ketika kita membangun masyarakat Islami tanpa membangun diri dan keluarga lebih dahulu. Otomatis saat ia akan menikah, Wiwi mengaku mencari pasangan yang mengerti perjuangan, saling mendukung dan membantu dalam dakwah.

    “Dan saya juga ingin, mengajarkan anak-anak baca, tulis, menghitung, termasuk baca tulis Al Quran itu di tangan ibunya sendiri. Sebagaimana saya diajarkan langsung oleh ibu dulu,” tutur Wiwi mengenang.

    Maka pelbagai aturan dan pengondisian lingkungan mulai ia bangun sedari anak-anaknya masih sehijau daun. “Jika antum datang ke rumah kami, pasti kaset atau radio yang melantunkan ayat-ayat Quran itu selalu menyala 24 jam non-stop. Sampai sekarang anak-anak dewasa dan ada yang sudah berkeluarga, itu tetap kami lakukan,” tutur wanita yang juga salah satu anggota DPR-RI wilayah DKI-3 periode 2014-2019 ini.

    Wiwi juga membuat kurikulum pengajaran dan target sendiri. Baginya, yang penting, setiap hari anak-anaknya harus membaca Al Quran. “Saya juga membuat target-target misalnya sampai 6 tahun anak saya harus menghapal 10 kisah sahabat Nabi, lalu harus hapal kisah 25 Nabi dan Rasul. Kemudian, sambil beriringan juga kita ajarkan lafadz Al Quran, memahamkan nilai-nilai Al Quran, membiasakan mereka dengan gerakan shalat, termasuk memahamkan kalimat tauhid sejak dini,” tutur Wirianingsih.

    Ia juga menjelaskan bahwa hal yang demikian ini sebaiknya lebih banyak dilakukan oleh orang tua di rumah. Karena, kunci kesuksesan seorang anak ialah bagaimana sosok ibu dan ayah selalu hadir di setiap perkembangan sang anak.

    “Ada suami saya yang hampir tiap hari mengingatkan kepada anak-anak, di manapun kalian berada jangan sampai melupakan dan jauh dari Al Quran. Hapalan yang 30 juz itu, anugrah yang tidak diberikan kepada semua orang.  itu mahal sekali. Jangan sampai nikmat itu dicabut, sehingga Naudzubillah malah menjadikan kita jauh dari Al Quran,” ungkap Penasihat Umum PP Salimah ini.

    Kendati petuah itu meluncur pada anak-anaknya, sebetulnya, Wiwi merasa, nasehat itu juga mengingatkan dirinya. “Kalau ini nilainya, maka yang muncul adalah rasa takut kepada Allah,  dengan begini kita akan menjaga dan menjauhi hal–hal yang tidak disukai Allah, konsep seperti ini kita terapkan dalam rumah,” sambungnya.

    Sehingga, menurut Ketua bidang Pertahanan Keluarga PKS ini, tidak ada alasan untuk mencampuradukkan Al Quran dengan hal-hal yang justru menjauhkan anak dari nilai-nilai Qurani. Seperti tontonan ataupun musik-musik yang melenakan.

    Bukan tanpa onak, Wiwi beserta suami mendidik dengan gaya seperti ini. Namun, mereka selalu membangun komunikasi yang demokratis. Agar, anak-anaknya juga menjalankannya tidak terpaksa. Anak selalu diajak berdiskusi dalam memutuskan suatu perkara, sehingga menghasilkan dialog yang membangun jiwa, mengevaluasi, menentramkan hati pikiran mereka.

    Setelah dasar qurannya dirasa cukup terpatri dengan baik, anak-anaknya pun mulai meniti pilihannya masing-masing. Ada yang di sains, ada yang ke syariah. Namun, karena Alqurannya telah tertanam, Wiwi tak pernah merasa gundah. “Jadi pondasinya dulu yang dibangun, sehingga ketika mereka dewasa dan bisa membedakan mana yang baik dan buruk, tugas orang tua tinggal mengawal. Kita hanya berharap apa pun yang menjadi passion mereka, semoga memberikan manfaat bagi perkembangan Islam kelak,” tuturnya.

    Ada satu hal lainnya yang ia yakini, ini buah dari perjalanan panjangnya di dunia pergerakan dakwah dan kajian taklim. Menurutnya, tidak akan ada orang yang tidak tersentuh dengan Islam, apalagi jika mereka mendalami Al Quran, maka mereka akan membelanya. Atau ketika kita memilih untuk melupakan Quran, mudah bagi Allah untuk menggantikan kita dengan generasi lainnya.

    “Saya termasuk yang meyakini bila kita menjadikan Al Quran benar-benar sebagai petunjuk hidup, maka sebetulnya kehidupan kita akan digiring pada lapisan-lapisan keberkahan yang hakiki,” tandasnya. (dita/ed.pipin/alhikmah)