Kisah Uus dan Saung Bambu Subang: Memulung Semangat Pemulung

Kisah Uus dan Saung Bambu Subang: Memulung Semangat Pemulung

0 334
Uus Hoerudin

“Tiada pahlawan yang tak memiliki ideologi, sebab itulah yang akan menggerakkan langkah pertamanya untuk mendobrak kejumudan yang terjadi di lingkungan. Perkara besar atau kecilnya jangkauan perubahan, lain persoalan. Apa pun pekerjaannya, yang namanya pahlawan selalu erat kaitannya dengan pengorbanan dan perubahan”

ALHIKMAH.CO– Bila kehidupan ini diibaratkan samudera, dan manusia adalah para pelayarnya. Ada satu lapisan masyarakat yang terjebak di dalam celah sempit dasar lautan yang disebut palung. Mereka tidak berada dalam bahtera, tidak juga sedang berenang-renang ke tepian. Bak sedang terpusar di jurang yang dalam, mereka tidak bisa bergerak bebas, pandangan mereka pun terbatas, bahkan untuk sekadar bernapas.

Syahdan, golongan manakah yang termasuk dalam pengandaian di atas? Itulah mereka, orang-orang yang termarjinalkan karena kemiskinan, di tengah kehidupan yang hedonis seperti saat ini. Mereka terasing secara sosial ekonomi. Tak mendapatkan perhatian selaiknya manusia, yang seharusnya dibimbing untuk dapat mengarungi kehidupan ini. Parahnya lagi, kadang mereka justru dimanfaatkan, dieksploitasi untuk mendukung kepentingan ekonomi bahkan politik golongan tertentu.

“Merekalah para pengemis, gelandangan, pemulung, pengamen, dan masyarakat dhuafa lainnya,” ungkap inisiator Lembaga Pemberdayaan Pemulung Bandung, Uus Hoerudin pada Alhikmah di Bandung sepenggal Oktober lalu.

10150621_10201727819258886_1286396364_n
Alumnus Pendidikan Fisika di UPI-Bandung ini berfikir untuk membantu mereka tidaklah cukup hanya memberi sesuap nasi, tidak cukup hanya memberi koin recehan. Menurutnya, seharusnya kita berpikir untuk memberikan solusi jangka panjang. Bukan hanya sekadar memberi kebutuhan konsumsi. Karena itu hanya akan menjadi solusi sesaat dan tidak menyelesaikan masalah.

Berpikir membantu mereka, adalah berpikir bagaimana mengangkat mereka dari dalam palung lautan yang sangat gulita, mengajaknya untuk bersama-sama berada dalam bahtera yang kukuh, menuju pantai harapan yang indah. Maka, melalui lembaga pemberdayaan yang dirintisnya 2010 silam, ia berusaha untuk mengangkat kehidupan masyarakat dhuafa, khususnya para pemulung di Bandung.

“Bisa dikatakan lembaga pemberdayaan pemulung ini sebagai koperasi bagi mereka. Di mana saya investasikan uang untuk membeli hasil memulungnya. Lalu barang bekas tersebut kembali dijual ke pengepul, dan bandar lainnya. Hasil dari penjualan itu, bisa diputar kembali untuk membiayai koperasi,” papar lelaki yang juga seorang guru di sekolah swasta Bandung.

Ke depannya, koperasi tersebut diharapkan bisa memenuhi kebutuhan pokok para pemulung tersebut,” lanjutnya. Namun demikian, untuk mewujudkan konsep yang terlihat sederhana itu, Uus merasa sulit bukan main. Selama ini, ia mengandalkan penghasilannya sebagai guru ditambah donasi dari kawan-kawannya yang tak seberapa. Beberapa yayasan yang memberikan bantuan pun belum menjadi donatur tetap.

Walaupun sebetulnya itu masalah, namun permasalahan yang dianggap paling krusial yang menimpa pemulung bukan sekadar kekurangan biaya. Menurut Uus, sebenarnya ketidakmampuan mereka itu kompleks. Mulai dari kesehatan, sikap mental, pergaulan, ekonomi. Sehingga untuk memberdayakan mereka memerlukan tenaga yang sangat besar untuk mengubahnya.

19655_1218536345204_2063905_n

Seolah setali tiga uang, kondisi pendidikan dan generasi muda di negeri ini pun tak jauh beda. Apalagi bila melihat kondisi tempat tinggalnya di Desa Kumpay-Subang. Dipercaya atau tidak, sejak tahun 1980-an, di daerahnya hanya ia dan adiknya-lah yang berhasil menempuh pendidikan sarjana. Sisanya, banyak yang terhenti di tingkat pertama (SMP). Bahkan, sekolah dasar belum purna, banyak sudah dinikahkan oleh orang tuanya.

Atas kondisi miris tersebut, Uus pun membuat sebuah komunitas belajar yang ia namakan Saung Bambu Subang (SBS) awal 2014 ini. Di mana secara filosofisnya, anak-anak itu seperti rumpun bambu, kecil, tapi kuat dan berguna. Karena itu, untuk bisa demikian, perhatian utama di SBS adalah pendidikan dan meningkatkan minat membaca.

1969315_10201727819018880_1628921907_n

Menurut Uus, ada dua faktor yang membuat anak tak melanjutkan pendidikan. Pertama, keterbatasan ekonomi. Kedua, pola pikir. Bila salah satunya bisa ditumbuhkan dan diberdayakan, maka bukan tidak mungkin anak-anak juga akan terdorong untuk terus melanjutkan pendidikan.

Satu di antara ayat ilmu yang menginspirasinya, “… Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S Az-Zumar : 9)

Uus Hoerudin, bukan orang yang bergelimang harta, hingga tak pernah ia memikirkan segala biaya yang dikeluarkan untuk membantu sesama. Bukan pula, seseorang yang memiliki jabatan penting di instansi negara, yang ketika ‘butuh’, tinggal tanda tangan dan uang pun mengalir. Ia hanyalah guru pengampu mata pelajaran Sains di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tapi kepeduliannya, dirasa nyata oleh pemulung Bandung dan anak-anak di sekitarnya.

Kepada Alhikmah, Uus berpendapat bila siapapun bisa melakukan hal yang lebih dari dirinya. Asalkan ada keinginan (ideologi), lalu diwujudkan dengan kepedulian, dan dibuktikan dengan pelbagai pengorbanan di lapangan.

Begitulah wujud pahlawan masa kini di kaca matanya. Tiada pahlawan yang tak memiliki ideologi, sebab itulah yang akan menggerakkan langkah pertamanya untuk mendobrak kejumudan yang terjadi di lingkungan. Perkara besar atau kecilnya jangkauan perubahan, lain persoalan. Apa pun pekerjaannya, yang namanya pahlawan selalu erat kaitannya dengan pengorbanan dan perubahan. Wallahua’lam. (Senandika/Alhikmah)