Kisah Sayyid Quthb: Telunjuk yang Bersyahadat

Kisah Sayyid Quthb: Telunjuk yang Bersyahadat

0 17
pic by firmadani

“Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf menyerah atau tunduk kepada rezim Thagut,”

Ulama, da’i, serta para penyeru Islam yang mempersembahkan nyawanya di jalan Allah, atas dasar ikhlas, senantiasa ditempatkan-Nya sangat tinggi dan mulia di hati segenap umat Muslim.

Di antara da’i dan penyeru Islam itu adalah syuhada (insya Allah) Sayyid Quthb. Bahkan peristiwa eksekusi matinya memberikan kesan mendalam dan menggetarkan bagi siapa saja yang mengenal beliau atau menyaksikan sikap keteguhannya.

Di antara yang begitu tergetar dengan sosok mulia ini adalah seorang polisi yang menyaksikan eksekusi matinya di tahun 1966.

Di penjara militer sudah biasa ia dan teman-temannya menerima sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan mereka menyampaikan bahwa yang dibawanya itu adalah para pengkhianat negara.

Karena itu, dengan cara apa pun, ia harus mengorek dan membuat mereka membuka mulut. Meski itu, harus dengan menimpakan siksaan keji di luar batas kemanusiaan. Tanpa pandang bulu.

Begitulah, hingga para polisi itu menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak mereka mengerti. Orang-orang yang dicap pengkhianat itu, senantiasa menjaga shalat mereka. Bahkan, bersiteguh menjaga qiyamullail-nya dalam keadaan bagaimanapun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk membelah daging-daging mereka, lisan-lisan itu senantiasa basah berdzikir kendati tengah menghadapi siksaan yang perih.

Beberapa di antara mereka, berpulang menghadap Allah, sebab ayunan cambuk yang entah sudah kali berapa diterimanya. Atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi, dalam kondisi mencekam itu, mereka mengahadap maut dengan senyum yang mengulum.

Perlahan, polisi-polisi ini mulai ragu, apakah benar orang-orang itu adalah para pengkhianat negara? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agama adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah, sebagaimana yang dituduhkan oleh atasan mereka.

Maka polisi yang bertugas di penjara tersebut secara rahasia menyepakati untuk sedapat mungkin tidak menyakiti orang-orang itu. Serta memberikan bantuan apa saja yang bisa dilakukan. Hingga pada akhirnya, datanglah seorang tahanan lelaki yang tak mampu berdiri. Melihat lukanya, jelas ia telah mengalami siksaan yang begitu berat. Sang lelaki ini pun, telah mendapat keputusan hukuman dari pengadilan militer. Lelaki ini bernama Sayyid Quthb.

Malam itu, seorang syeikh datang menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

Syeikh itu berkata, “Wahai Sayyid, ucapkanlah Laa Ilaha illa llah,”

Sayyid Quthb hanya tersenyum, lalu berkata, “Sampai juga engkau wahai Syeikh, menyempurnakan seluruh sandiwara ini. Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat Tauhid. Sementara engkau mencari makan dengan Laa Ilaha illa llah.”

Dini hari esoknya, beberapa tahanan dibawa ke tempat eksekusi, termasuk Sayyid Qutb ini. di lokasi eksekusi, tiap tentara menempati posisinya masing masing. Para perwira militer menyiapkan segala hal termasuk memasang tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentara eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher para tahanan.

Di tengah suasana ‘maut’ yang begitu mencekam itu, polisi ini menyaksikan peristiwa mengharukan dan menggetarkannya. Ketika tali gantung telah terikat di leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya untuk tetap teguh dan sabar. Serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di Syurga bersama Rasulullah dan para sahabat. Tausiyah-tausiyah ini pun diakhiri dengan pekik takbir. Allahu Akbar wa lillahil Hamd.

Di saat yang genting ini, terdengarlah deru mobil. Gerbang ruangan pun dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa. Ia memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar, “Saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap Anda dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menulis satu kalimat saja, sehingga Anda dan seluruh teman-teman Anda diampuni.”

“Tulislah Saudaraku, satu kalimat saja. Aku bersalah dan aku minta maaf..“

Hal ini serupa pernah terjadi ketika datang saudarinya Aminah Quthb saat Sayyid dipenjara. Ia membawa pesan dari rezim penguasa Mesir, meminta agar Sayyid mengajukan permohonan maaf kepada Jamal Abdul Nasser. Namun Sayyid menolak dan ia mengucapkan kata-kata yang terkenal sampai saat ini. “Telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf menyerah atau tunduk kepada rezim Thagut,”

Kembali ke perwira tinggi. Sayyid menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa beliau berkata, “Tidak akan pernah! Aku tidak akan pernah bersedia menukar kehidupan dunia yang fana ini dengan akhirat yang abadi.”

“Tetapi Sayyid, itu artinya kematian!” balas perwira itu dengan suara yang bergetar.

“Selamat datang kematian di Jalan Allah, sungguh Allah Maha Besar,” balas Sayyid Quthb.

Dialog itu tidak berlanjut, dan sang perwira memberi tanda, eksekusi pun dilakukan. Segera para eksekutor menekan tuas, tubuh Sayyid Quthb bersama rekan-rekannya menggantung. Innalillahi wa innaillaihi roji’un. []

Dirangkum dari buku Maalim Fi Ath Thariq penerbit Darul Uswah 2009, Mereka yang kembali kepada Allah karya Muhammad Abdul Aziz Al Musnad.

(Senandika/Alhikmah)