Kisah sang Dosen Tuna Netra, Tetap Berkarya dengan Segala Keterbatasan

Kisah sang Dosen Tuna Netra, Tetap Berkarya dengan Segala Keterbatasan

0 210

“Sesulit apa pun keterbatasan yang dialami, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus bersyukur apa yang kita miliki,”

TAK ada yang menyangka, Ridwan Efendi (40) Dosen Bahasa Arab Fakultas Syari’ah UIN Bandung yang kini menjadi pemateri pada perhelatan Sepekan Kajian Islam Ramadhan di Ballroom Hotel Savoy Homann Bandung ini ternyata tuna netra.

Walaupun ia memiliki keterbatasan fisik, terutama penglihatannya, ia tetap semangat dalam mensyi’arkan Islam dan metode menghafal Al-Qur’an braile. Ke manapun ia pergi selalu ditemani oleh asistennya. Menurut pemaparannya ia tidak bisa melihat sejak tahun 1986 pada usia 10 tahun disebabkan oleh terserang penyakit mata.

Pria kelahiran Bandung, 13 Februari 1976 pernah menamatkan S1 jurusan Bahasa Arab di UIN Bandung hanya 3 tahun 7 bulan dengan predikat cum laude. Kemudian melanjutkan S2 di UIN Bandung jurusan Bahasa Arab, dan S3 di UIN Jakarta di jurusan Bahasa Arab. Walaupun ia seorang tuna netra, tak ada yang berubah dari kesehariannya, seakan biasa saja, laiknya manusia normal penuh dengan perjuangan dan lain sebagainya.

Selama perjalanan hidupnya ia mengisi waktu pada komunitas-komunitas tuna netra. Ketika berada di satu komunitas tuna netra, Ustadz Ridwan Efendi merasa terjiwai karena sama-sama merasakan dan mengalami. Ia mengisakan, ketika bergaul dengan sesama tuna netra itu memiliki ciri khasnya masing-masing.

“Seorang tuna netra, untuk bisa melihat orang cantik saja tidak bisa, namun dengan pendengaran saja itu sudah bisa menerka apakah itu cantik atau tidak. Secara konkrit mungkin memang, tidak bisa menerka, tetapi secara abstrak bisa merasakan. I can feel it,” katanya sambil terkekeh.

Memang, kesulitan-kesulitan kerap terjadi. Meskipun demikian, ia merasa bersyukur dengan apa yang ia dapatakan sekarang. Ketika istri melahirkan anak pertamanya, walaupun ia tidak bisa melihat, namun ia bisa mendengar dan merasakan tangisan seorang bayi laki-laki yang lahir ke alam dunia.

Kemudian ketika mengajar di kampus, ia meminta mahasiwa sebagai asistennya untuk menuliskan materi yang akan disampaikan. Dalam mengajarpun ia berusaha menciptakan suasana kelas tidak jenuh dan membosankan, membuat kontrak belajar yang santai namun pada intinya materi harus tetap disampaikan kepada mahasiswa.

Selain itu, di balik keterbatasannya, ia membuat Yayasan Sosial Ketuna Netraan yang dinamainya Saman Netra Mulya yang fokus terhadap bagaimana cara membaca al Qur’an braile bagi tuna netra. Ketika mengisi acara di Kajian Islam Ramadhan yang digelar Gerakan Muslimah Indonesia (GMI) pun, ia menyampaikan materi tentang metode mudah belajar Bahasa Arab. Yang lebih menekankan pada aspek pendengaran, bunyi-bunyi morfem tertentu, dan akronim.

Keterbatasan dan kekurangan bukanlah hambatan untuk terus berjuang bertahan hidup di dunia nyata ini. “Sesulit apa pun keterbatasan yang dialami, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita harus bersyukur apa yang kita miliki,” ungkapnya.

Di akhir perbincangan, ia kembeli memberikan segurat pesan. “Ya, di luar sana masih banyak orang yang memiliki keterbatasan, namun mereka tetap semangat dalam menjalani hidup dan meraih impiannya. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Namun tergantung kita dalam memaksimalkan usaha dan memberdayakan potensi diri untuk terus maju dan berkembang.” (dila/alhikmahco)