Kisah Prof. Nina Lubis, Sejarawan Perempuan Pertama di Jabar

Kisah Prof. Nina Lubis, Sejarawan Perempuan Pertama di Jabar

0 538

ALHIKMAHCO,– Semenjak dianugerahi Habibie Award pada Desember lalu, Prof. Nina H Lubis kian melambungkan namanya sebagai sejarawan yang diperhitungkan di Indonesia. Ia yang disebut sebagai peneliti sejarah wanita pertama di Jawa Barat ini telah banyak menulis karya ilmiah yang dipresentasikan di sejumlah seminar Internasional.

Kontribusinya di dunia sejarah, tak perlu dipertanyakan. Ia banyak mengusulkan pejuang-pejuang di Jawa Barat agar dijadikan pahlawan nasional. Pada pemerintah, ia secara getol mengajukan 22 nama pejuang yang layak diajukan. Misalnya, Raden Ayu Lasminingrat, yang ia nilai sama berjasanya seperti RA Kartini dan Dewi Sartika dalam dunia pendidikan.

Bukan hal mudah. Jika tidak diiringi rasa cinta pada sejarah, ia tak akan sanggup menjalani rangkaian penelitian, dan seminar-seminar sejarah terkait usulannya.

Kecintaan Nina di dunia sejarah memang tidak bisa disebut datang begitu saja. Berawal dari rasa penasarannya pada kisah yang disampaikan sang pembantu. Melalui mulut pembantunya Nina kecil mengetahui kisah dan dongeng Sunda, seperti Ciung Wanara.

Saat SMP, rasa ingin tahunya muncul. Nyatakah kisah seorang anak yang dibuang ke sungai, lalu berhasil menjadi raja? Kian lama, rasa ingin tahunya semakin besar. Ini membawanya pada buku-buku sejarah yang terus ia baca. Mengkaji semakin banyak kisah-kisah menarik di masa silam.

Namun, menjelang tahun akhirnya di SMA, teman-temannya berbondong-bondong mendaftarkan diri ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Kegemarannya pada sejarah ia tunda sejenak. Nina memutuskan untuk turut mendaftarkan diri di salah satu universitas teknik ternama di Indonesia itu.

Sayang, dua tahun pertama di ITB justru membuat Nina kehilangan antusiasme belajarnya. Karena tak berminat, semangat belajarnya turun drastis. “Saya tak senang dengan bidang yang saya tekuni kala itu,” katanya, ditemui di Unpad, Senin (22/3/2016).

Ia pun memutuskan keluar. Atas bimbingan suaminya, ia kembali menemukan rasa cintanya yang terpendam pada dunia sejarah. Pada 1981, ia kembali berkuliah, dengan mengambil jurusan sejarah di Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara.

“Ternyata memang jiwa saya adanya di dunia sejarah. Dan saat itu, saya tidak pernah tanggung-tanggung mempelajarinya. Jika orang lain belajar banyak, saya belajar lebih banyak lagi,” ujar Nina.

pict from : harapanrakyat.com
pict from : harapanrakyat.com

Bagi Nina, sejarah adalah suatu peristiwa yang membimbing masyarakat, agar mereka bisa mengambil hikmahnya. Melalui peristiwa di masa silam, masyarakat diarahkan agar tidak kembali menginjak kesalahan yang sama.

“Kalau di masa lalu ada pemimpin yang melakukan kesalahan, ya jangan diikuti. Teladani saja yang baik. Misalnya, Moh. Toha yang menjadi pejuang muda pada kejadian Bandung Lautan Api. Dia berjuang untuk tanah airnya tanpa pamrih,” tuturnya.

Sebagai sejarawan, sekaligus pendidik bagi masyarakat, ia menyatakan bahwa hikmah sejarah ini tak bisa hanya sekadar omong. Nina perlu memberikan gambaran jelas, dengan bukti yang mendukung, mengenai sejarah sesungguhnya. Sebab jika tidak, ada banyak orang yang akan salah menafsirkan sejarah.

“Saat ini banyak pemuda yang mengikuti pendapat populer. Misalnya tentang PKI. Mereka dibilang benar, atau berpendapat komunis itu tidak salah. Disitulah perannya seorang sejarawan mendidik juga mengarahkan,” kata Nina.

Menurut Nina, cara mendidiknya adalah dengan menulis banyak buku dan artikel, agar bisa menjadi rujukan bagi masyarakat. Ia menegaskan, ilmu yang selama ini ia dapatkan adalah untuk kepentingan masyarakat. Ukuran sebuah ilmu, katanya, adalah sejauh mana ilmu tersebut memberikan kebermanfaatan.

“Jangan sampai karena pendapat yang salah, masyarakat jadi mengulang kesalahan yang sama. Kalau terperosok pada jurang yang sama, itu manusia atau keledai? Sejarawan itu, tidak akan membiarkan masyarakat menjadi keledai,” tutupnya. (Aghniya/Alhikmah)