Kisah Pengungsi Suriah Nekat Lompat ke Kereta Lewati 10 Negara Eropa

Kisah Pengungsi Suriah Nekat Lompat ke Kereta Lewati 10 Negara Eropa

pic source: The Guardian

Pengungsi Suriah, Ali Mustafa, melewati sepuluh negara sebelum akhirnya tiba di Inggris. Kini, ia merupakan seorang pembayar pajak, dan bekerja di sebuah restoran di Newcastle.

ALHIKMAH.CO–Ali Mustafa, akhirnya dapat menikmati hidup di tempat yang aman. Setelah melarikan diri dari Suriah karena serangan rezim Assad  yang meluluh-lantahkan kehidupannya, dan melakukan perjalanan melewati sepuluh negara yang berbeda, dia tiba di Inggris, pada akhir Juli 2015.

Itulah sepenggal kisah yang disampaikan Mustafa, pria berusia 37 tahun yang bekerja sebagai insinyur pertanian, saat diwawancarai The Guardian pada Agustus lalu, seminggu setelah ia tiba di Inggris dan mendapatkan suakanya.

Perjalanan penuh risiko dan jauh dari keluarganya, ia mulai pelariannya dari Suriah ke Libanon, tempat istri dan lima anaknya yang masih kecil menetap di sebuah apartemen sederhana di Hassbia. Saat keluarganya aman dan semua urusan mereka selesai, Mustafa memulai perjalanannya. Ia bertekad membawa orang-orang yang ia cintai ke Inggris, jika ia telah mendapatkan pekerjaan.

Ia melewati Turki, Yunani, Macedonia, Serbia, Hungaria, Austria, dan Jerman, Belanda, dan Perancis. Ia juga pernah melewati masa 24 hari di Calais. Setalah sekian kali gagal mencoba menyelundup, dia akhirnya memutuskan melompat ke sebuah kereta, bersembunyi di gerbong bersama dengan beberapa orang, sampai akhirnya sampai di Inggris.

“Melompat ke kereta yang tengah melaju di Calais sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bom rezim Assad di Suriah. Dulu di Syria, biasanya aku bisa memandangi langit, burung yang berkicau, dan mentari. Juga, aku bisa menikmati buah-buahan dan sayuran yang tumbuh dari dalam bumi, dan melihat kambing dan unta.

“Namun ketika perang dimulai, yang kami lihat di langit hanyalah pesawat perang dan helikopter, Pun, ketika melihat bumi yang kami pijak, yang kami lihat hanyalah tanah bekas pemboman. Kami pun pindah dari Dera ke Raqqa, namun rumah kami di Raqqa pun kena bom. Saya tidak akan  pernah melupakan teriakan salah satu puteriku yang terkubur di reruntuhan. Kami gali reruntuhannya, dan untungnya ia selamat,” kata Mustafa.

“Setelah kereta yang kami naiki melaju cepat dan mulai memasuki terowongan tanpa ketahuan, kami tahu kami berhasil melarikan diri,” kisahnya. “Di bawah gerbong, kami saling memeluk karena bahagia. Kami berjuang sangat keras untuk melarikan diri, namun akhirnya kami berhasil.”

Saat sampai di tujuan, Mustafa diberikan kebutuhan akomodasi sementara di kantor penampungan London. Ia lalu pindah ke Stockon-on-Tees, tempat di mana suakanya tengah diproses. Ia sempat mengalami rasanya ditelantarkan di tempat terbuang sebagai pencari suaka. Ia juga tidak diizinkan bekerja, tidak mendapatkan kesempatan-kesempatan pendidikan, manfaat umum lainnya.

Alhamdulillah, Mustafa hanya harus menunggu beberapa minggu sebelum diizinkan bekerja, belajar, dan melanjutkan hidupnya. Umumnya, suaka untuk pengungsi Suriah diproses lebih cepat, namun kebanyakan pencari suaka terjebak birokrasi selama bertahun-tahun.

“Saat wawancara, saya katakan pada pemerintah bahwa saya tidak membutuhkan bantuan finansial dari Inggris. Saya dapat bekerja. Yang saya butuhkan di Inggris hanyalah tempat aman. Jika perang selesai, saya ingin kembali ke Suriah untuk membangun kembali Suriah. Suriah adalah negeri saya yang sebenarnya,” ia pun menambahkan, “Orang yang menangani saya dalam wawancara sangat menyenangkan,”

Akhirnya, Mustafa mendapat pekerjaan di restoran Libanon di Newcastle saat ia diberi suaka. “Saya mulai membayar pajak-pajak pada pemerintah ketika saya melepas status pengungsi,”

Dia bekerja keras melakukan berbagai macam pekerjaan di restoran dan belajar memasak roti Libanon yang enak. Dia sempat memiliki pengalaman buruk saat seorang pelanggan datang setelah tragedi Paris. Pelanggan tersebut menanyainya asal negaranya. Ketika ia jujur mengatakan ia berasal dari Suriah, pelanggan itu menudingnya sebagai antek ISIS.

Saya sangat marah dan kesal. Saya bukanlah bagian dari ISIS. Saya memintanya untuk menatap mata saya, apakah ia bisa melihat pandangan teroris di mata saya? Namun setelah itu, ia meminta maaf. Ia memeluk saya dan menawari saya bantuan yang bisa ia lakukan,” ia tuturkan.

Sekarang, ia terdaftar sebagai mahasiswa di Newcastle College untuk memperbaiki bahasa Inggrisnya. Ia berharap bisa memperoleh gelar dalam insinyur pertanian, sehingga ia bisa menggunakan kemampuan dan keahliannya di Inggris.

Meski ia sudah hidup bahagia di Inggris, ia masih mencari cara untuk bertemu kembali dengan keluarganya. Ia merasa trauma dengan apa yang tengah terjadi di Suriah.

“Suara anak saya berteriak di bawah reruntuhan terus terngiang di ingatan saya. Saya banyak bermimpi buruk, saat saya mendapat kabar dari Suriah di Facebook. Terlalu banyak korban yang terbunuh. Ada ribuan cerita mengenai apa yang tengah terjadi yang sama buruknya. Saking banyaknya versi, saya tak tahu lagi mana awal dan akhir. Ayah saya masih terjebak di Dera, dan saya merasa sedih. Saya harap 2016 nanti bisa menjadi  tahun yang lebih baik untuk kami semua,” terangnya.

“Saya khawatir pada keluarga saya. Anak-anak saya tidak dapat bersekolah dan hidup mereka sungguh sulit di Libanon. Kami masih berhubungan via Skype dan Whatsapp. Saya sudah melewati perjalanan yang sangat berbahaya, hanya agar keluarga saya tak perlu lagi mengalaminya,” kata Mustafa.

“Istri saya sangat bergembira saat tahu saya terbebas dari status pengungsi. Sekarang saya tengah membuat rencana untuk keluarga saya agar bisa bergabung dengan saya di Inggris. Saya bekerja sangat keras untuk menabungkan uang demi biaya tiket pesawat mereka. Saya gembira akhirnya mereka akan bisa melakukan perjalanan dengan selamat. Saya tak sabar bertemu mereka, dan saya pasti akan menangis terharu.” (Aghniya/Alhikmah/The Guardian)