Kisah Penghafal Quran yang Mendambakan Cahaya Kemuliaan

Kisah Penghafal Quran yang Mendambakan Cahaya Kemuliaan

0 362

“Di akhirat kelak, tatkala Allah memberikan sebuah cahaya kemuliaan kepada para orang tua, yang terangnya melebihi matahari. Terheran-heran mereka mengapa diberi cahaya demikian, lalu Allah menjawab, itu karena anakmu seorang penghafal quran…”

 

Pembaca yang baik hatinya, sebut saja saya Solihah. Karena saya ingin menjadi wanita yang solehah bagi keluarga saya. Amin. Saya berasal dari keluarga sederhana dan umum, tak ada satupun keluarga yang pernah mencecap pendidikan pesantren. Namun demikian, keresahan orang tua akan lingkungan tinggal yang buruk, membuat mereka memaksa saya agar tinggal dan melanjutkan pendidikan aliyah di pesantren.

Memaksa? Ya pembaca, saya dipaksa karena sebenarnya saya tidak mau mondok. Sebab dalam benak, mondok di pesantren itu seperti burung yang terkukung dalam kandangnya. Banyak aturannya, gak boleh begini, harus begitu, pasti akan melelahkan.

Namun apalah daya, kesulitan ekonomi kala 2007, akhirnya membuat orang tua mencari pendidikan yang gratis. Yah, walau seperti mencari jarum di setumpuk jerami, pendidikan gratis itu ditemukan juga. Sebuah Pesantren Salafiyah Miftahul Huda II di bilangan Ciamis.

Namanya pesantren, semua santri perempuan wajib mengenakan jilbab. Saya pun menggerutu, tuhkan, belum apa-apa sudah diatur-atur. Saya yang sedari SMP belum berkerudung, ya, mau tak mau akhirnya mengenakannya. Namun karena bukan lillah, kerudung saat itu, hanyalah selembar kain yang menutupi kepala. Di lingkungan pesantren saya berkerudung, tapi di luar itu, atau bahkan saat pulang ke rumah, rambut ini saya geraikan begitu saja. Astagfirullah.. ya Allah ampuni kekhilafan hamba dulu.

Di pesantren ini, pendidikan yang paling terasa adalah pendidikan tahsin. Di mana bacaan Al-Quran saya benar-benar diperbaiki. Saya mulai dikenalkan hukum bacaan Al Quran, kalimat mana yang dibaca idgham atau yang diizharkan. Lamat saya berfikir, ternyata saya baru tersadar, bahwa bacaan saya saat itu masih sangat kacau dan banyak salahnya.

Sesekali di pesantren ini juga saya menghafalkan surat-surat dalam Al-Quran, khususnya juz amma’, sebagaimana programnya. Namun memang belum terpikir untuk menghafalkan semuanya (hafizh). Tapi selulus dari sinilah, hati saya mulai lunak terhadap Al Quran. Pemikiran tentang Al Quran mulai sesuai haknya. Maka urusan kepribadian pun mulai saya benahi, termasuk berjilbab syar’i.

Kisah pendidikan saya belum selesai. Saya masih berkeinginan untuk kuliah di umum. Namun tak ada yang bisa membiayai, dari orang tua hingga kakak. Akhirnya saya kembali mencari pendidikan yang gratis.

Setelah ikhtiar, akhirnya bertemulah saya dengan pondok Tahfidzul Quran Al Multazam di Kuningan. Saya ke sana atas rekomendasi dari salah seorang kakak kelas yang juga alumnus pondok tersebut. Katanya, di sana itu lama pendidikan hanya tiga tahun. Program utamanya adalah menghafal quran.

Namun demikian, karena cukup banyaknya yang mendaftar sementara yang diterima sedikit, nama saya harus masuk daftar tunggu. Disitu saya khawatir dan mulai putus asa, sampai istilahnya memohon ke ustadznya agar saya diterima. Sebab bila ini tak lolos, ke manakah saya harus melanjutkan pendidikan? Saya juga tak terlalu banyak referensi maupun pilihan. Biaya dan waktu menjadi hambatan

Tapi Allah akhirnya memutuskan saya untuk masuk. Menjelang akhir pendaftaran, ada calon santri yang diterima mengundurkan diri dan akhirnya sayalah yang mengisi kekosongan itu. Disitu saya mulai tersadar akan pertolongan Allah, betapa selama ini Allah tak tidur.