Kisah Owner Cantiqu Hijab: Tinggalkan Riba, Sambut Berkah Niaga

Kisah Owner Cantiqu Hijab: Tinggalkan Riba, Sambut Berkah Niaga

0 386
Pemilik Cantiqu Hihab, Maman Suparman

 

Puluhan tahun di dunia perbankan, nyatanya tak memberikan kedamaian. Apalah arti harta yang bergelimpangan, mobil mewah berjejeran, tapi itu semua berasal dari sesuatu yang Allah haramkan?

ALHIKMAH.CO–Pembaca, ketika seorang insan menyadari suatu kesalahan. Jarang rasanya untuk langsung bergegas banting stir kembali ke pangkuan kebenaran. Banyak hal yang selalu menjadi pertimbangan, akhirnya keadaan semakin memersulit untuk keluar dari pusaran.

Kepada Alhikmah, owner Cantiqu Hijab, Maman Suparman pun mengalami hal yang demikian. Ia berceritera, di tahun 2012, hatinya digelayuti rasa resah dan gelisah. Tersadar bila selama puluhan tahun itu, pekerjaannya sebagai Bankir di sebuah perbankan, ternyata erat sekali dengan yang namanya riba.

Hatinya tertohok ketika tahu hukum riba di dalam Islam, dan akibat bagi para pelaku akan berujung siksaan pedih di hari akhir. Apalagi setelah berkonsultasi dengan pelbagai ulama, hingga merujuk sebuah Kitab Tafsir ath-Thabari tentang riba. Tatkala menyadari itu semua, ada semacam hasrat yang mendorongnya untuk keluar saja. Namun keadaan kerap menyulitkan keputusannya, salah satunya promosi jabatan.

Saat itu Maman belum mempunyai pengganti dari pekerjaan ribawinya, maka di tahun 2012 itu, ia sempat merintis usaha konveksi terlebih dahulu. Niatya, setelah keluar dari pekerjaan tersebut, ada hal yang bisa menggantikan, sehingga kewajiban sebagai kepala rumah tangga tetap bisa dipenuhi. Dari usaha konveksi inilah, walaupun belum begitu berjalan, setahun kemudian, Maman memberanikan diri untuk resign dari perbankan.

“Dari dunia ribawi, kini saya coba cari dunia yang betul-betul dekat dengan Islam. Berniaga, sebagaimana kehidupan yang Rasulullah anjurkan. Tapi, berniaga juga ingin yang ada syi’arnya, maka tercetuslah untuk membuat usaha baju muslimah,” tukas Maman membuka percakapan.

“Dari langkah inilah, butik Cantiqu Hijab berawal. Sebelum ini, usaha konveksi saya namanya Mawa Heejra. Ada hijrah-hijrahnya gitu. Tapi sekarang jadinya brand kita namanya Cantiqu,” ungkap Maman di kantornya yang berlokasi di Jalan Sindang Reret No 168 Cibiru-Bandung.

Dalam berbisnis Maman hanya bermodalkan niat yang baik, ingin keluar dari apa pun yang bernuansa ribawi. Karenanya, Cantiqu Hijab pun ia lahirkan dengan prinsip yang baik. Prinsip berniaga ala Rasulullah.

“Sebetulnya tidak ada orang berdagang yang ingin rugi. Hanya saja, mau seberapa besar untungnya? Sementara Rasulullah mengatakan, tidak usah besar-besar kalau mengambil untung,” ungkapnya.

“Kalau di sini ada harga yang tujuh lima, delapan puluh, segitu juga kan sudah besar, sudah untung,” lanjut Maman.

Apa yang dikatakan Maman ini bukan tanpa dasar. Bergelut di dunia konveksi telah memberikannya pengetahuan baru. “Kenyataannya ya Kang, di bisnis konveksi ini banyak yang mengambil untungnya gila-gilaan. Bagaimana tidak, bahan bakunya yang berapa ribu, ongkosnya berapa ribu, dijual berkali lipat. Misalkan, biaya jahit Rp15.000, bahan baku Rp50.000. Total katakanlah biaya produksinya hanya Rp70.000. tapi harga jual bisa mencapai Rp700.000, kan serem.”

Maman tidak ingin mengambil keuntungan dengan cara seperti itu. Ia yakin, keuntungan dan rezeki sudah Allah tentukan. Bila itu sudah diyakini betul, tinggal dalam mencari rezeki, tempuhlah dengan cara baik dan benar. Cara yang bisa menambah nilai ibadah.

Maka tak heran, bila di perusahaannya, sebelum melakukan pengarahan, saban pagi selalu disempatkan untuk mengaji bersama, barang satu ‘ain atau satu halaman. Bukan hanya itu, Maman juga memberdayakan masyarakat setempat sebagai karyawannya.

Berkesempatan melihat ruang produksinya, tak terdengar suara bising mesin menderu. Tak tercium asap mengepul. Bahkan, seonggok mesin besar produksi laiknya di pabrik-pabrik lain. Yang terdengar dan terlihat hanyalah suara mesin jahit, celoteh-celoteh, tawa serta obrolan dari para karyawan. Mulai dari anak muda hingga yang sepuh.

“Lihat, semua manual. Ada yang kerjanya cuma menggunting benang. Ada yang menyetrika, ada yang melipat baju,” kata Maman.

“Kalau mengobrol dengan beberapa pengusaha lain, ide saya ini kerap diolok. Untuk apa mempekerjakan karyawan banyak-banyak? Kalau di sini, ada ibu-ibu yang nganggur, daripada diam di rumah, yuk mending di sini. Makanya semua dikerjakan manual. Kalau semua pengusaha berpikir untung besar dengan meminimalisir karyawan, nanti mereka ke mana?”

Eits, tapi jangan salah pembaca. Walaupun banyak karyawan, justru semakin hari, bisnis Maman semakin berkembang. Kesejahteraan mereka pun terperhatikan. Mulai dari asuransi kesehatan hingga bonus-bonus bagi karyawan berprestasi. Mulai dari tambahan dana, safari biasa, hingga menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci. Subhanallah.

Kini, Maman bisa tersenyum lega. Cantiqu Hijab sudah berjalan kurang lebih dua tahun. Syukur terus dipanjatkannya melihat Cantiqu di usianya sekarang, bisa bersanding dengan butik ternama lainnya.

“Dari mulai satu bulan pertama pegawai cuma empat orang, sekarang sudah sampai seratus orang. Keagenan juga sudah sampai angka tiga ratus. Outlet kita puluhan, tersebar di Indonesia. Alhamdulillah, beberapa negara tetangga juga suka ada permintaan, dari Malaysia, Singapura, Thailand juga,” ucapnya.

Memang, di Bandung saja, CantiQu bisa dijumpai di banyak tempat semisal di Amani Factory Outlet, Samaya, Pasar Baru, De moss. Di Jakarta ada di jalan Ir.H Juanda No. 2 Ciputat, Thamrin City. Di Pekanbaru ada di Jalan Hangtuah Ujung No. 93. Sementara di Surabaya ada di Jalan Rumput Lor No. 169. Dan masih banyak lagi, pembaca.

“Saya sudah lama di dunia kapitalis. Dunia ribawi yang tidak mendamaikan hati. Ya, sudah saatnya, ingin sama-sama mempunyai nilai manfaat kepada banyak orang. Salah satunya dengan berbisnis yang sesuai syariat Islam,” pungkasnya.

(Ahmad Fauzi/Alhikmah/Edited: Kevin)