Kisah Imam Syafi’i dan Sang Bunda

    0 132
    PICT_www.opoae.com

    “Aku tumbuh sebagai seorang anak yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Ketika itu guruku merasa lega apabila aku menggantikannya saat dia pergi,”

    Gaza yang cerah. Palestina kini sedang bergembira, telah lahir putra pasangan mulia yang bernasab sampai keluarga junjunan manusia paling mulia. Rasulullah shalallahi alaihi wasallam. Pasangan muda Idris bin Abbas dan Fatimah al Azdiyyah benar-benar girang tak terkira, sang buah hati nan dinanti kini telah tiba.

    Masih teringat beberapa waktu lalu, dialog sejoli ini. Saat Idris berkata pada istrinya Fatimah, “Apabila engkau melahirkan seorang putra, maka akan kuberi nama Muhammad dan akan aku panggil dengan nama kakeknya Syafi’I bin Asy-Syaib.”

    Dan kini, lahirlah Muhammad bin Idris bin Syafi’i yang karib disapa Syafi’i. Masa-masa indah bersama sang buah hati terbayang di benak sejoli Idris dan Fatimah. Dua orang ini dikenal sebagai hamba Allah yang shalih.

    Sejarah mengatakan, ketika Idris muda menemukan buah di pinggir sungai dalam perjalanannya ke Gaza disebabkan kelaparan yang hebat. Setelah ia makan buah itu, ia termenung, segera tersadar jika-jika buah itu bukanlah haknya. Ia susuri sungai, berusaha menemui sang pemilik kebun buah yang ia makan tadi. Setelah susah payah, akhirnya bersualah Idris dengan si empunya.

    “Buah itu aku ikhlaskan dengan dua syarat, jagalah kebun ini dan nikahilah putriku ini,” kata si Empunya takjub melihat kejujuran pemuda di hadapannya. Akhirnya, menikahlah Idris dengan Fatimah, seorang wanita yang terjaga pendengaran, pengelihatan, dan lisannya dari maksiat.

    Dan kini hari nan dinanti, hari lahirnya bayi mungil nan lucu, Muhammad bin Idris As Syafii. Kelak, Syafii akan menjadi salah satu tokoh terbesar bagi umat, orang-orang mengenal dengan sebutan Imam Syafii.

    Bayangan indah tentang menata keluarga bersama, mendidik anak agar menjadi ulama sudah begitu jelas. Namun, catatan takdir berkata lain. Kebahagiaan sekejap seakan sirna, tak sampai dua tahun berumah tangga, Idris harus meninggalkan keluarga kecil ini selamanya. Kesedihan hebat menggelayut pada diri Fatimah.

    Kini, ia hanya berdua dengan sang buah hati, Syafii. Menata kembali langkah, ia putuskan untuk melanjutkan cita-cita bersama. Walau sang suami telah tiada, sang Bunda bertekad untuk mendidik buah hati dengan segenap cinta, agar kelak Syafii menjadi seorang yang bermanfaat bagi umat.

    Dididiklah dengan serius putranya. Disapihnya dengan lembut. Teringat nasehat dan tindak laku mendiang suami, Fatimah tetap menjaga agar apa saja yang masuk ke dalam perut anaknya merupakan makanan halal.

    Pernah suatu ketika Imam Syafi’i kecil ditinggal dirumah sendiri oleh ibunya ke pasar. Ketika sendirian dirumah, Imam Syafi’i kecil pun menangis karena ditinggal sendirian. Sang tetangga, yang kebetulan juga sedang menyusui merasa iba dan iapun segera menyusui Imam Syafi’i kecil. Sesampai ibundanya dirumah, setelah mengetahui kalau anaknya disusui oleh tetangganya, ia merasa khawatir kalau ada hal yang tidak halal masuk ke tubuh anaknya melalui susu tetangganya tersebut.

    Fatimah mengangkat tubuh Imam Syafi’i terbalik dan mengguncang-guncang perutnya sampai semua yang masuk kedalam perutnya tadi keluar lagi.

    Begitulah, ibunda Imam Syafi’i menjaga anaknya dari hal-hal yang tidak halal akan masuk ke perutnya.

    Dari sini kita juga bisa melihat, Fatimah sangat  paham kalau ASI (Air Susu Ibu) ibu sangat berpengaruh terhadap watak, karakter dan kepribadian anaknya kelak. Makanya ia sangat berhati-hati terhadap air susu atau makanan yang masuk kedalam perut putranya.

    Setelah ditinggal suaminya tanpa warisan apapun, Fatimah dan Imam Syafii kecil tinggal dalam kondisi miskin. Fatimah hanya mengajar ilmu bagi-bagi anak-nak disekitarnya. Tak lupa, ia sebagai madrasah pertama dan utama bagi Syafii kecil. Diajarkannya menghafal Quran sedari dini.

    Lihatlah ketika senyum itu bersimpul, menyaksikan Syafii kecil melafalkan kalamMu ya Rabb..Bocah kecil itu memutar-mutar matanya, mengulang-ulang hafalannya. Satu per satu kalam suciMu terlantun, begitu indah. Begitu Fatimah mengeja, bersama Syafii kecil.

    Perhatian serius diberikan oleh Fatimah untuk pendidikan Syafi’i. Sampai saat Imam Syafii bermain, Fatimah selalu membacakan Al-Qur’an di dekatnya agar anaknya dekat dengan Al-Qur’an.

    Memang, dikisahkan Fatimah  biasa mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu beberapa hari saja, kemudian mengulangnya lagi dari awal. Akhinya, Fatimah pun bertekad untuk  eninggalkan Gaza ke Makkah, guna bersua dengan keluarga besarnya, dan juga agar anaknya bisa menimba ilmu sedari belia dari para Ulama di Hijaz.

    “Ibuku ingin agar aku seperti keluarga di Makkah. Ibuku takut aku kehilangan nama besar keluargaku bila tetap tinggal dan besar di luar Makkah,” kenang Imam Syafii.

    Tak hanya itu, Fatimah ingin anaknya belajar bahasa Arab langsung dari Suku Hudzail yang dengan kefasihan bahasa. Ajaran ini kelak membekas. Imam Syafi’i bukan hanya dikenal sebagai ahli fikih, melainkan pakar seni sastra dengan kumpulan puisi gubahannya.

    “Aku tumbuh sebagai seorang anak yatim di bawah asuhan ibuku, dan tidak ada harta pada beliau yang bisa diberikan kepada guruku. Ketika itu guruku merasa lega apabila aku menggantikannya saat dia pergi,” kenang Imam Syafii yang mengisahkan dirinya hidup dari mengajar sedari belia.

    Tegasnya didikan Fatimah bisa dilihat dari keteguhannya agar anaknya tak pulang sebelum menambah hafalan dan mendapat ilmu baru dari gurunya. Fatimah tak mau membukakan pintu rumah sebelum bertambah ilmu putranya. Hasilnya? Dalam usia 7 tahun Imam Syafii kecil sudah menjadi hafiz cilik, penghafal Quran 30 juz.

    Selama beberapa tahun, Imam Syafii sudah dapat menghafalkan kitab-kitab induk seperti Al Muwatha karya Imam Malik, juga kitab-kitab hadisnya. Melihat kecermelangan putranya, keputusan besar pun harus diambil.

    Dengan berat hati, Fatimah memutuskan untuk berpisah dengan putra sematawayangnya. “Pergilah engkau menuntut ilmu,” isaknya tak kuasa menahan air mata yang terus berderai.

    Bocah belia itu tak kuasa menahan haru. Dengan tekad bulat, akhirnya Syafii pergi mengembara ke penjuru dunia, menimba ilmu dari para ulama. Menjeka di Irak, Suriah, Madinah, Palestina hingga Mesir.

    Murid-muridnya terus tersebar, pengikutnya bertambah, hingga kita, di Indonesia menjadi pengikut mazhabnya. Semoga Allah sirami rahmat dan magfirah bagi Imam Syafii dan sang Bunda Fatimah yang dari rahimnyalah, ulama besar sepanjang zaman ini dilahirkan. (mr/dbs/alhikmahco)