Kisah Dr. Dinar, Dari Back Office Sampai Aktivis Kontra Feminis

Kisah Dr. Dinar, Dari Back Office Sampai Aktivis Kontra Feminis

0 691

Di hadapan para Profesor dan Doktor itu, seorang wanita berhibab lebar sedang berdialog seru. Satu per satu pertanyaan terlontar, wajah-wajah memincingkan mata. Yang ditanyakan bukan suatu yang biasa: Studi Komparatif Pemikiran Epistemologi Frithjof Schuon dan Syed Muhammad Naquib al-Attas. Mendengarnya saja kita sudah membuat dahi berkernyit. Apa itu?

ALHIKMAH.CO–Namun dengan mantap, kandidat doktor itu berargumentasi, mempertahankan disertasinya Doktoralnya. Suasana tegang, dan akhirnya terucaplah,“Selamat anda berhasil…” begitu usai bertubi pertanyaan melanda. Senyum merekah dari Dinar Dewi Kania. Sekarang ia resmi menyandang gelar Doktor bidang Pendidikan dan Pemikiran Islam, sebuah bidang yang diakuinya sepi dari minat para muslimah.

Pembaca, apa yang ada dalam benak kita ketika mengetahui ada wanita  yang masuk dalam dunia pemikiran dan filsafat? Bergelut dengan istilah asing seperti aksiologi, epistemologi, Schuon, worldview, aql, metafisik, dan lain sebagainya. Sosok tersebut akan kita temukan pada Dr. Dinar Dewi Kania, Doktor lulusan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor.

Kepada Alhikmah sepenggal November silam di Depok, ia mengisahkan  bagaimana ia sampai ‘jatuh cinta’ pada dunia pemikiran wabil khusus sekarang ia diamanahi sebgai Direktur Center for Gender Studies (CGS), wadah penelitian tentang wanita, gender, dan kontra feminis. “Saya dari kecil memang suka baca. SMP saya rutin menulis diari, dan di SMA 8 Jakarta saya membacanya kembali. Di sana ada pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan itu Siapa? Hakikatnya seperti apa?” Dr. Dinar mengawali kisahnya.

Akhirnya saat SMA Dinar mulai membaca buku-buku tentang filsafat, buku pemikiran dan tertarik pada dunia politik-sosial hingga berkali-kali ia bolos dari kelas IPA yang sebenarnya tak sreg bagi dirinya. Ia lebih suka mendekan di perpustakaan, berkawan buku, sambil menyisakan beragam pertanyaan.

“Saya cari buku Barat, walau ada buku Islam seperti Al Ghazali. Namun, seperti tidak ada kaitan apa yang saya yakini dengan Tuhan, proses penciptaan. Yang penting, keyakinan masing-masing,” kenang Dinar. Senang di bidang sosial, tapi malah ‘terjerumus’ di IPA, Dinar diminta masuk ke ITB. ‘Saya berontak,” kata Dinar sambil tersenyum.

Dirinya pun mengambil UMPTN pada tahun 1993 untuk jurusan IPS. “Qadarullah saya nggak dapat. Saya mikirnya, kalau gitu, saya senang jalan-jalan juga, traveling, saya ambil ke Sekolah TInggi Pariwisata Enhai di Bandung, seneng jalan-jalan jadi penulis, simpel aja saat itu,” kenang Dinar.

Tiga tahun ia selesaikan sarjana mudanya saat itu di Enhai, namun masih tetap menyimpan pertanyaan besar dalam dirinya, hingga sedikit terbesit merasa ‘hampa’. Pertanyaan kecil yang sayup-sayup disimpannya, dibawanya untuk melanjutkan S1nya ke FISIP Universitas Indonesia.

Namun, dirinya harus kuliah sambil bekerja di sebuah hotel di Jakarta. “Saat itu, karena faktor ekonomi, saya harus kuliah sambil kerja. Akhirnya saya diperingatkan harus pilih kuliah atau kerja,” kata Dinar. Ia pun akhirnya memilih bekerja, karena memang untuk memenuhi kebutuhannya.

Pindah kerja ke bilangan Sudirman, sebuah perusahaan penerbangan (Airlines) membuat Dinar kini menjadi wanita karir. Sambil bekerja, Dinar pun melanjutkan S1nya di Universitas Trisakti yang dirasa dekat dengan tempatnya bekerja, sambil terus secara mandiri belajar tentang pemikiran dan sedikit tentang Islam. Dalam lubuk hatinya masih merasa ada yang mengganjal namun apa itu tak bisa dijelaskan dengan mudah. HALAMAN SELANJUTNYA