Kisah Bidan Inspiratif: Episode dari Sudut Mushola Pasir Kaliki

Kisah Bidan Inspiratif: Episode dari Sudut Mushola Pasir Kaliki

0 69

“Tidak ada yang kebetulan. Peristiwa ini tidak akan kami lupakan seumur hidup, seakan Allah memberikan pertanda, clue, bahwa inilah jalannya, jalan pengabdian kami,”

Mimpi?

Apakah ini mimpi? Atau benar-benar nyata?

Seakan tak percaya. Ingatannya melompat ke 12 tahun silam, saat mendapati dirinya berada dalam sudut mushola mungil selebar tak lebih dari 5 x 5 m. Di hadapannya, teronggok seorang Ibu hamil 9 bulan dengan perut yang sudah membuncit, lemah dengan tatapan kuyu. Darah sudah nampak merembes.

Apa yang bisa ia lakukan? “Mungkin ini adalah jalannya,” gumannya dalam hati. Sepenggal 2004, dalam panas yang lengas, dua orang mahasiswa tingkat akhir D4 Kebidanan Unpad ini datang ke kantor Sinergi Foundation ingin ‘mewakafkan’ profesinya sebagai bidan.

“Saat itu ada program semacam infak profesi, kami ingin berikan kemampuan kami untuk umat,” kenang Giari Rahmilasari yang kala itu datang bersama Ari Indra ke Jalan Pasir Kaliki no 143. Kali pertama dua orang ini datang, disambut oleh pengelola Sinergi Foundation.

“Kami diskusi, apa yang bisa kami lakukan. Kebetulan tahun kemarinnya (2003) ada program bersalin ramadhan gratis,” kata Giari kepada Alhikmah di Stikes Aisiyah Bandung, medio Oktober 2016. Sambil mengobrol, tiba-tiba seorang staf SF ada yang datang.

“Teteh bidan kan? “ katanya terengah. Giari dan Ari melongo. “ia, memang kenapa?” “Itu ada yang mau melahirkan!” katanya.

“Itu ditangga teh,” katanya sambil menunjuk ke belakang. Peserta diskusi di lantai dua beringsut menuju tangga.

“Saat itu saya lihat ada ibu-ibu hami besar sedang duduk ditangga,” kenangnya. Para lelaki yang ada di sana membopongnya ke atas, di dalam sudut ruangan mushola. Giari dan Ari Indra nampak berusaha menenangkan si Ibu.

“Walau saat itu kami nggak ada persiapan apapun bahkan kami tidak memakai sarung tangan,” kenangnya. Diatur sedemikian agar si Ibu dapat melahirkan normal. “Waktu itu ternyata si kepala bayinya sudah kelihatan,” katanya. Dengan sabar dan tertatih, akhirnya si bayi bisa keluar namun tali pusar masih berpilin dengan sang Bunda.

Giari saat itu segera berlari keluar, berusaha mencari pinjaman alat yang dia temukan di Poltekes Bandung. “Kebetulan dekat di situ, sama kenalannya Ari Indra tadi, akhirnya dipinjamkan, mereka percaya,” katanya.

“Akhirnya sibayi kita pakaikan sarung dan muke untuk bedong,” kenangnya setelah akhirnya talipusar berhasil dipotong. Seisi ruangan terenyuh melihat bayi yang lahir di sudut mushola kantor SF. “Padahal si ibu ke situ bukan buat melahirkan, dan kebetulan saya sedang di sana, tapi melihat hal tersebut, tidak ada yang kebetulan,” lirihnya.

Si ibu, berasal dari Cililin Cijenuk Bandung Barat. Menumpang angkutan umum, hingga berjalan kaki berkilo-kilo si ibu ditemani seorang anak perempuannya mencari suaminya yang katanya pergi ke Bandung untuk mencari biaya persalinan istrinya kelak.

Tak ditemui, si Ibu mendatangi kantor SF di Pasir Kaliki untuk meminta biaya pulang ke kampungnya karena kehabisan ongkos. Saat itu pula, Giari dan kawannya, Ari Indra sedang ada di Kantor untuk bersama mengejar mimpinya, sebuah klinik bersalin bagi para kaum papa.

Lantas, apa yang terjadi? Rupanya jalan memeluk mimpinya mulai terkulai lebar.

 “Peristiwa ini tidak akan kami lupakan seumur hidup, seakan Allah memberikan pertanda, clue, bahwa inilah jalannya, jalan pengabdian kami,” tekad Giari.

Bolehkah kita bermimpi?

Dan kini, dua belas tahun kemudian, harapan sang bunda dari sudut mushola telah bermetamorfosis menjadi sebuah bangunan kokoh dengan tulisan: Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC).

Kini, ditemai relung cahaya yang membelai lembut ruang kerjanya, Giari termenung. Matanya berkaca-kaca. Apakah impiannya kini sudah terwujud? Apakah ini mimpi? Apakah ini benar-benar nyata ya Rabb? Subhanallah!

Di Rumah Bersalin bercat ramah itu, kini, dilahirkan wajah-wajah lugu nan lucu manusia saat kali pertama menatap dunia. Enam ribu tujuh ratus kelahiran bukanlah angka yang sedikit. Terbayang luapan kegembiraan ayah dan bunda. Terbayang raut haru keluarga mungil itu. Wajah kaum papa yang sehari-hari hidup di jalanan, kini memeluk buah hati mereka.

Masih segar dalam ingatannya, seorang Ibu datang tergopoh-gopoh menaiki beca, sebagai pasien pertama RBC di Holis, sepenggal 2004. Bangunan itu masih kontrakkan: 2 ruang nifas, 1 ruang bersalin, juga ruang serba guna tempat mereka berempat, dengan formasi satu dokter (Tito Gunantara), dua bidan (Giari dan Ari) dan satu layanan mustahik (Dian), memeluk mimpi-mimpinya.

Kini, Giari termenung sejenak. Apakah ini mimpi? Apakah ini benar-benar nyata? Wajah kaum pinggiran yang tersisih terukir sangat jelas. Senyum jarang merekah para ayah yang sehari-hari berjuang melawan kerasnya kehidupan jalanan.

Ucapan terima kasih yang benar-benar tulus. Air mata yang tumpah. Setandan pisang yang mereka bawa sebagai rasa syukur. Kenang-kenangan manis para para bidan yang begitu ulet melayani kaum papa ini. “Ada kebanggaan sendiri, bahwa pasien kami adalah para dhuafa, tapi profesionalitas kami tetap prima,” katanya.

Bagi Giari, episode dari sudut mushola merupakan jawaban atas panggilan hatinya saat datang ke kantor Sinergi Foundation. Panggilan jiwa yang sebenarnya sudah membuncah, bahkan sejak ia kecil.

“Ibu saya bidan. Dari kecil saya sudah melihat bagaimana tentang dunia kedokteran dan perbidanan,” kenangnya. Walhasil, Giari kini meneruskan jalan takdir sang Bunda. Setelah lulus dari SMUN 82 Jakarta, ia melanjutkan pendidikan D3 ke Poltekes Harapan Kita Jakarta dan lulus tahun 2003.

Sempat sejenak berpraktek di Jakarta, pada tahun 2004 dibuka program D4 Perbidanan di Unpad, dan saat itu ia mendaftar. Di sanalah, ia mulai kembali mengenangkan ajaran sang Bunda, hingga pengujung semester,i ia tekadkan untuk berkhidmat untuk umat.

“Karena dulu mama pun begitu. Pernah, malam-malam rumahnya digedor-gedor orang yang ingin melahirkan. Juga banyak rupanya warga yang tidak mampu yang mama tolong,” kenang Giary.

Menurut Giari, orang tuanya yang bergelut di dunia sosial membuat jiwa sosial Giari tumbuh. “Saya dididik orang tua dengan hal-hal sederhana, bergaul dengan siapa saja, ditambah saya punya kemampuan, kita sedekahkan kemampuan kita,” tegasnya.

Kini, tak ada lagi kisah seorang Ibu harus melahirkan di mushola. Tangis menyeruak setiap saat dari sudut Rumah Bersalin Cuma-cuma. Bidan-bidan berburu praktek di sana. Para mustahik berdatangan. Kaum papa tersenyum bangga. Tua muda bersua, beberapa tokoh mengunjunginya. Hanya syukur terlafal dari bibir Giari.

Apakah mimpi dapat menjadi kenyataan? Pembaca sudah tahu jawabannya.

Bermimpilah, dan berjuanglah, hingga suatu saat Tuhan memeluk mimpimu!

(mr/alhikmahco)