Kisah Berhijab Sherly Azzahra : Hidayah di Tepi Jurang

Kisah Berhijab Sherly Azzahra : Hidayah di Tepi Jurang

0 34

Sherly Azzahra

Perubahan menjadi pribadi yang lebih baik memang butuh proses, terutama untuk orang-orang sekitar yang belum memahami kita, agar dapat menerima hal yang bagi mereka masih terasa janggal dan diluar kebiasaan.

Pembaca, mungkin kita pernah mendengar istilah bahwa hidayah Allah itu bisa datang dari mana pun, kapan pun, dan pada keadaan apa pun. Hal itu persis yang saya alami. Ketika itu saya menghadiri sebuah seminar bisnis yang sesungguhnya dalam seminar tersebut tidak membahas tentang jilbab sama sekali.

Siang itu saya mengendarai motor menuju lokasi. Tak saya sangka, ternyata saya harus melalui jalan yang cukup berbahaya, sebab melewati jalur setapak yang berdekatan dengan jurang. Perjalanan itu pun berakhir ketika saya tiba di lokasi.

Meski masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), saya menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut yang pesertanya ternyata didominasi oleh orang-orang lanjut usia di atas 50 tahun.

Ketika itu saya cukup kesulitan berkomunikasi dengan mereka sebab daya pendengaran mereka telah menurun. Meski lelah, bagi saya yang masih hijau, itu adalah pengalaman berharga untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan publik.

Pertemuan hari itu pun berakhir. Saya mengucap pamit dan pulang melalui jalan yang sama, namun tak disangka, konsentrasi saya buyar akibat rasa lelah yang teramat sangat. Saya pun terjatuh dan nyaris terperosok ke jurang.

Alhamdulillah, Allah masih menjaga dan menitipkan umur pada saya. Dari kejadian itu, tebersit dalam pikiran saya, bekal apa yang sudah saya siapkan untuk di akhirat kelak. Disitulah jadi titik balik saya untuk hijrah lebih baik dengan diawali berhijab.

Tidak ada yang menginspirasi saya di awal berhijab. Hanya ketika mulai berhijab lebar, saya terinspirasi ketika membaca buku melukis pelangi karya Oki Setiana Dewi.

Sebenarnya, kali pertama saya behijab ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saya behijab saat itu bukan karena dorongan dari diri sendiri, melainkan memang tata tertib dari sekolah yang harus diikuti.

Begitu lulus dan masuk jenjang pendidikan selanjutnya, saya pun memutuskan untuk melepas hijab. Alhamdulillah, ketika menginjak kelas 3, karena ada peristiwa penuh hidayah dan hikmah itu, saya putuskan untuk berhijab sampai saat ini.

Ketika memutuskan untuk istiqamah berhijab, saya belum ikut kajian agama untuk menambah pengetahuan keislaman terutama yang berkaitan dengan hijab. Hal tersebut dikarenakan saya masih sangat baru di Bandung. Tujuan saya ke kota besar ini adalah untuk melanjutkan sekolah.

Saya bahkan tidak memiliki sanak saudara, hanya Allah yang menolong saya melalui bisnis yang saya geluti. Disanalah, Allah mempertemukan dengan orang-orang saleh yang merekomendasikan untuk ikut halaqah setiap minggu, bahkan hingga saat ini, Alhamdulillah, saya masih mengikuti halaqah bersama muslimah yang lain.

Tidak hanya khalaqah, saya pun mengikuti seminar-seminar lain, misalnya tentang hijab yang disampaikan oleh Ust. Felix Siau. Menambah ilmu dengan salah satunya mengikuti seminar, memberikan semangat serta memperkuat saya untuk istiqamah mengenakan hijab. Sebab, menurut saya, istiqamah itu akan muncul jika kita memahami ilmunya.

Berproses

Perubahan menjadi pribadi yang lebih baik memang butuh proses, terutama untuk orang-orang sekitar yang belum memahami kita, agar dapat menerima hal yang bagi mereka masih terasa janggal dan diluar kebiasaan.

Apalagi jika yang kita lakukan adalah mengikuti ketentuan Allah serta menjalankan syariat Islam sebagai muslimah yang taat. Tidak sedikit yang menyayangkan keputusan saya untuk berhijab. Meski begitu, ada pula yang mendukung bahkan memberikan dorongan agar saya dapat senantiasa konsisten untuk berhijab.

Menanggapi celetukan orang-orang yang berpikir saya lebih cantik tanpa hijab, ya, senyumin saja. Lalu saya katakan, Alhamdulillah, segala puji hanya milik Allah. Sebab bagi saya, cantik itu relatif. Ada yang bilang cantik dan juga sebaliknya yang pasti luruskan niatnya saja. Niat berhijab itu untuk dilihat cantik atau karena Allah, dan itu hanya Allah yang tahu.

Dari reaksi-reaksi itulah, saya jadi selektif memilih teman bergaul. Saya lebih memilih untuk berteman dengan orang-orang yang satu pemahaman. Walaupun begitu, mungkin ada beberapa yang menyindir perubahan yang saya lakukan tapi tidak saya tanggapi, tak ambil pusing dengan perkataan mereka, atau sampai baper. Karena tekad saya untuk berhijab sudah mantap.

Ketika itu, bahkan orangtua belum setuju saat saya memutuskan untuk berhijab. Tidak ada hal khusus yang dilakukan untuk meyakinkan orangtua. Hanya memberikan pengertian melalui sikap kita yang mencerminkan lebih baik dari sebelum berhijab.

Misalnya dengan menunjukkan bahwa dengan hijab juga masih bisa berprestasi. Ketika itu saya menulis artikel di kampus, Alhamdulillah menang. Kemudian hadiah yang saya terima, diberikan kepada ke orangtua. Perlahan-lahan orangtua mengerti dan mau menerima. Seiring berjalannya waktu, Alhamdulillah, ibu saya pun tertarik dan mau berproses juga untuk berhijab.

Merasa Aman dan Tenang

Hijab bagi saya adalah penutup, penolong, dan sebagai kehormatan yang tinggi bagi wanita. Karena itu saya bersyukur mendapat kesempatan dari Allah untuk menyempurnakan iman dengan mengikuti perintah-Nya.

Adapun perubahan yang saya rasakan, ketika sebelum berhijab merasakan dunia yang bebas menghampiri. Namun setelah berhijab terasa lebih aman dan tenang, seakan ada yang menjaga. Baik dari segi perilaku dan pergaulan sehari-hari.

Saat ini saya lebih banyak menyibukkan diri dengan beribadah baik melakukan ibadah wajib dan sunnah. Tak lupa, sebagai owner Shezza Hijab, saya pun mencari ide baru untuk koleksi baru. Meski begitu, yang paling penting adalah menjaga koordinasi dengan tim dalam mempersiapkan marketing, produksi, dan lain-lain. Pun sebagai istri, saya pun melakukan aktivitas ibu rumah tangga dan menemani anak-anak bermain.

Saya pun menambah pengetahuan keislaman saya dengan turut sert dalam komunitas positif, mengikuti kajian, seminar, baca buku, dan doa. Semoga Allah membimbing terus dan menetapkan iman Islam.

Seperti dikisahkan Sherly kepada Jurnalis Alhikmah, Nurma Mustika