Kisah Ayah 10 Anak Mencari Keberkahan Lingkungan Masjid

Kisah Ayah 10 Anak Mencari Keberkahan Lingkungan Masjid

2 149

PEMBACA, apakah pekerjaan yang paling bergengsi saat ini? Bekerja di belantara ibu Kota, dengan kesibukan super hingga larut malam. Paginya bergegas menuju gedung pencakar langit, dan malamnya uang dihabiskan untuk berhura-hura, menghilangkan stres bersama kawan?

Atau pekerjaan yang mendapatkan uang bergunung-gunung, bisa berpelesir di akhir tahun? Jawaban dari pertanyaan ini akan kita lihat pada sosok satpam di sudut Masjid Salman ITB. “Yang penting bekerja itu berkah,” ungkap Wahyu Nurdin, penjaga sekaligus ‘penunggu’ Masjid Salman di depan Kampus ITB.

Sudah lebih dari 8 tahun, ia menjalani pekerjaannya sebagai satpam alias security. Yang menarik ialah, Wahyu kini dikaruniai sepuluh orang anak. Dengan banyaknya tanggungan anaknya, juga pekerjaan yang dilakoni sebagai satpam, bagaimana ia menghidupi keluarganya?

Kepada Alhikmah, medio Oktober 2014 silam, Wahyu, ayah 10 anak ini berkisah ihwal perjuangan dirinya menafkahi keluarganya, juga tentang makna kepahlawanan zaman sekarang di tengah himpitan modernisme dan kapitalisme yang terus merangsek masuk dalam kamar-kamar keluarga muslim.

Sosok berbadan tegap ini tak merisaukan nafkah untuk istri dan kesepuluh anaknya. Baginya, ia harus bekerja sebaik mungkin, dan urusan rezeki Allah lah yang menjamin. “Saya tidak terlalu menghawatirkan soal materi. Karena sudah dijamin Allah. Saya selalu ingat cerita Aa Gym. Begini katanya, cicak aja yang nempel di dinding, makannya nyamuk yang terbang, tapi tetep bisa, apalagi kita, manusia,” tutur Wahyu mantap.

Menikah tahun 1994 dengan Yuyun Mulyani, Wahyu kini berusaha menjadi sosok ‘pahlawan’, sosok ayah dan pemimpin keluarga yang baik. “Menjadi pahlawan, bukan hal selalu besar. Minimal untuk diri dan keluarga sendiri,” ungkapnya.

Dididiknya anak-anaknya hingga kini anaknya yang paling besar Nurul Rahma Habibah sekarang kuliah di ATIKES. Nabila asy-Syifa, putri keduanya kuliah di Unpad. Putri ketiga, Muhammad Sayyid Al-Shiddiqi duduk di bangku SMK. Kemudian Salma az-Zahra di SMP 14. Selanjutnya yang ke lima, Arif Muwahid Kholilullah di SMP 16.Muqimuddin Mubarok dan Faizulhaq Arrabani masih SD. Abdullah Fatah Al’ahsani, Shabira Nur Hanifah dan si bungu Hasna Zahira Rahma masih kecil-kecil.

Menurut wahyu, ia bersyukur bisa mendidik keluarganya. Bahwa pekerjaanya sebagai penjaga keamanan di lingkungan Masjid, merupakan upayanya meraih keberkahan bagi dirinya dan keluarganya. “Gini, saya sering merasa ada banyak sekali berkah bekerja di tempat seperti Salman ini. Kalau dihitung di atas kertas, enggak mungkin saya bisa ngebiayain anak-anak saya yang banyak itu dengan gaji saya, ya katakanlah UMR. Tapi sampai sekarang, Alhamdulillah,” serunya penuh syukur.

Menurut pria kelahiran Majalaya ini, lapis-lapis keberkahanlah yang dia cari. Ia mencari keberkahan di rumah Allah, dan itulah keberkahan itulah yang lebih diperlukan dibandingkan materi, harta melimpah, atau sebagainya.

Salman ITB, hatinya terus terpanggil untuk mengabdi menjaga keamanan Masjid, membuat jamaah nyaman, hingga keberkahan itu bisa direguk, dan terpancar nyata dalam kehidupannya sekarang yang secara nalar sulit untuk dipercaya. Bagaimana mungkin seorang satpam membiayai 10 anaknya hingga kuliah?

Dengan semangat bekerja untuk ibadah, Wahyu terus meningkatkan semangat profesionalismenya. “Karena bekerja di tempat ibadah, selain saya bertujuan ibadah, saya juga ikut membantu ibadah orang lain, insya Allah berkahnya luar biasa sekali,” tukas Wahyu.

“Kan prinsip keamanan di Salman yang saya tangkap adalah bagaimana agar para jamaah bisa aman dan nyaman dalam ibadah. Sehingga saya memahami saya punya peran serta dalam menunjang keamanan dan kenyamanan ibadah jamaah. Insha Allah, semuanya serba ibadah. Masya Allah.”

Soal pahlawan, pandangan Wahyu mengenai pahlawan yang sudah diutarakan di awal tulisan menjadi terdengar sangat membumi. Sederhana namun memilikinilai kedalaman yang luar biasa. “Mengubah kondisi jadi lebih baik,” begitu katanya memaknai pahlawan.

Sesekali, ia memalingkan wajahnya seraya derai tawa khasnya meluncur dari mulutnya. Tengok saja ketika ditanya, apakah Bapak pahlawan bagi keluarga Bapak?

“Enggak tahu ya, saya hanya berusaha saja buat jadi tuntunan yang benar buat mereka. Saya berusaha melakukan yang terbaik buat keluarga saya. Hehe,” jawabnya dengan tawa yang ia sisipkan diujung bicaranya. (ajat/ed:rl/alhikmah)

Like & Share berita ini untuk berbagi inspirasi