Kisah Ali Mustafa Ya’qub: Senangi Hadits untuk ‘Bernostalgia’ dengan Sang Nabi

Kisah Ali Mustafa Ya’qub: Senangi Hadits untuk ‘Bernostalgia’ dengan Sang Nabi

0 142
pic source: dakwatuna

ALHIKMAHCO,– Kendati telah wafat, jejak keilmuan KH Ali Mustafa Ya’qub terkenang sepanjang masa. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai intelektual muslim yang mengerti, bahkan pakar dalam bidang hadits. Buku “Hadits-Hadits Palsu di Sekitar Ramadhan” menjadi salah satu karyanya di tengah masyarakat.

Kecintaannya pada hadits tumbuh saat ia menempa ilmu di Universitas King Sa’ud, Riyadh, Arab Saudi tahun 1976. Di sana, Ali Mustafa menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Syariah dan S2 di bidang Tafsir dan Hadits. Di masa mempelajari hadis ini, ia mulai dikenal sebagai salah satu pakar ilmu hadits.

“Ada nuansa lain yang saya rasakan ketika belajar hadits dibanding belajar ilmu lainnya. Seakan-akan kita hidup langsung bersama Rasul, nostalgia,” kisahnya.

Selain itu, ia senang karena nama Rasul selalu disebut setiap ia mempelajari hadits. Sehingga, ia bisa sekaligus  bershalawat padanya. “Inilah ilmu yang memberikan banyak pahala,” lanjut kyai Ali.

Apa yang diperolehnya saat ini tidaklah datang secara tiba-tiba. Perjuangan menuntut ilmu berlumur peluh. Sejak muda, Ali Mustafa memang telah memilih ’nyantri’. Bangku Aliyah adalah momentum utama, kala Ali muda gigih mewujudkan cita-citanya. Kala itu ayahanda yang dicintainya meninggal dunia. Sang ibu yang biasa mengirimi Ali uang, mengultimatum dia bahwa jika ingin lanjut sekolah harus dengan biaya sendiri.

”Sejak saat itulah, saya belajar serius. Pokoknya bagaimana caranya agar saya bisa menyelesaikan pendidikan dengan gratis,” tambah Rais Syuriah bidang Fatwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini.

Ia pun belajar dengan gigih, sembari mencari celah untuk mendapatkan beasiswa dan sekolah yang bisa menopang keinginannya untuk belajar. Kalau memungkinkan gratis. Ali Mustafa pun memilih pesantren Tebu Ireng Jombang sebagai pelabuhan pertama pendidikannya. Lantas, saat itu lah ia jatuh hati pada Arab Saudi. Tak lain, karena biaya kuliah di sana gratis.

Meski telah berpulang ke hadirat-Nya, semangat dakwah dalam karya-karya kyai Ali tak pernah sirna. Semoga Allah memberikan rahmat atasnya. (mr/Aghniya Ilma Hasan/alhikmah)