Khutbah Arafah KH Miftah Faridl: Berhaji untuk Keselamatan Bangsa

Khutbah Arafah KH Miftah Faridl: Berhaji untuk Keselamatan Bangsa

0 24

ALHIKMAHCO,– Bulan Zulhijah telah tiba kembali. Seperti biasa, setiap kali bulan ini tiba, sebagian masyarakat kita ikut mengalir merakit perjalanan ke Tanah Suci. Sebuah fenomena yang menakjubkan. Perjalanan ruhani yang kerap disebut juga wisata spiritual. Karena itu, layaknya sebuah wisata, perjalanan haji sering menyiratkan sejumlah keistimewaan, baik bagi para pelakunya maupun orang-orang di sekitarnya.

Pada tahun ini tidak kurang dari 160-an ribu jamaah haji Indonesia berangkat untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Dari Jawa Barat saja, tercatat sebanyak sekitar 30 ribu jamaah akan berangkat memenuhi panggilan-Nya. Sebanyak itulah masyarakat Jawa Barat akan menapaktilasi jejak-jejak para Nabi menunaikan kewajiban menghadap Sang Khaliq. Dalam perjalanan menelusuri sejarah para Nabi itulah mereka akan menemukan jejak-jejak yang Allah sendiri istimewakan.

Tidak berlebihan jika bersamaan dengan keberangkatan para jamaah calon haji itu, terukir pula dalam ingatan mereka tempat-tempat ijabah, sebuah fasilitas spiritual yang Allah sediakan. Tempat-tempat ijabah itu menjadi salah satu target ziarah para jamaah haji ataupun umrah. Di tempat-tempat itulah para peziarah menumpahkan segala pintanya.

Sekurang-kurangnya ada tiga tempat ijabah yang sangat populer di kalangan para peziarah ke tanah suci. Pertama, Multazam, sebuah tempat sempit di antara Hajar Aswad dan Pintu Ka’bah. Di tempat ini jutaan jamaah berjubel, ikut antri mencari giliran, agar dapat dengan tenang memanjatkan do’a. Begitu mendapat giliran, spontas menangis, meratap memanjatkan do’a, meminta segala kebaikan untuk dirinya, kelurga, dan juga saudara-saudaranya. Bahkan dalam tradisi masyarakat muslim Indonesia, sering para jamaah calon haji mendapat titipan untuk dido’kan.

Multazam memang menjadi tempat istimewa untuk berdo’a. Di atas keistimewaan itulah, untuk mendapatkannya pun menjadi sangat berat. Padahal, menurut ijtihad para ulama, di sekitar Ka’bah, jika ditarik garus lurus secara diagonal dari titik Hajar Aswad dan pintu Ka’bah hingga ke belakang Maqam Ibrahim, semuanya adalah Multazam. Di sekitar tempat itulah, seluruh jamaah dapat mengajukan permohonan kepada-Nya.

Kedua, jauh dari Kota Makkah, yaitu Raudlah di Madinah. Raudlah adalah tempat sempit, di pojok kiri-depan Masjid Nabawi, di antara Rumah Rasul dengan Mimbarnya. Rumah Rasul pun kini telah berubah menjadi Makam Rasulullah, Abu Bakar as-Shiddiq, dan Umar bin Khattab. Untuk memudahkan mengindentifikasi tempat dimaksud, pemerintah Saudi sengaja membedakan warna karpet yang menjadi alas tempat melaksanakan shalat, karpet dengan warna dasar krem-hijau. Sementara area masjid sesisanya diberi karpet dengan warna merah yang sekarang diganti dengan warna hijau tua.

Kehadiran para jamaah calon haji di Madinah, termasuk beribadah di Raudlah, memang tidak termasuk bagian dari manasik haji yang disyaratkan. Para jamaah calon haji yang tidak sempat ke Madinah pun, tetap syah hajinya. Akan tetapi, karena alasan-alasan tertentu, hampir semua jamaah calon haji ataupun umrah, dari negeri manapun, hampir pasti menyempatkan diri untuk berziarah ke Madinah. Raudlah adalah salah satu target yang dikunjunginya.

Salah satu alasan kehadirannya di Madinah, umumnya jamaah menganggap penting dengan tujuan berkunjung ke Kota Nabi, kota yang pernah menjadi medan perjuangan Rasulullah dalam sejarah hidupnya. Secara teknis juga sayang, sudah jauh-jauh datang ke Makkah jika tidak dilanjutkan ke Madinah. Karena itu, setiap jamaah baik haji maupun umrah rela berjubel untuk antri dapat shalat dan berdo’a di Raudlah. Ditumpahkanlah segala harapan dalam do’a-do’a yang diucapkannya.

Ketiga, padang Arafah, tempat pelaksanaan puncak ibadah haji, Wukuf. Prosesi Wukuf sendiri dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah, dimulai waktu Dzuhur hingga menjelang Maghrib. Substansi kegiatan Wukuf terfokus pada do’a pertaubatan. Semua jamaah berdo’a seusai melaksanakan shalat dzuhur dan ashar serta mengikuti khutbah Arafah. Inilah puncak haji sebelum keesokan harinya melaksanakan thawaf ifadlah di Baitullah dan jumrah di Mina. Bahkan di antara dua tempat istimewa,Arafah dan Mina, itu para jamaah pun masih akan menikmati pengembaraan ruhani tengah malam, mabit sejenak di Muzdalifah.

Dibanding dua tempat sebelumnya, Multazam dan Raudlah, Arafahtidak selamanya menjadi tempat istimewa untuk berdo’a. Arafah menjadi tempat ijabah hanya sekitar setengah hari dalam setahun, yaitu ketika Arafah digunakan tempat pelaksanaan Wukuf. Di luar itu, Arafah sama saja dengan tempat-tempat lainnya di Tanah Suci. Karena itu, khususnya bagi para jamaah calon haji, jangan lupa, dan jangan menyia-nyiakan kehadirannya di Arafah. Manfaatkan secara maksimal untuk mengajukan berbagai permintaan hanya kepada-Nya. Allah akan mengabulkan setiap do’a hamba-hamba-Nya.

Di tempat-tempat itulah, saya yang juga akan berangkat menunaikan ibadah haji tahun ini, menghimbau seluruh jamaah untuk tidak melewatkan momentum istimewa yang tidak pernah terjadi di tempat dan waktu yang lainnya. Sebuah anugerah “bonus” istimewa yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang melaksanakan ibadah haji. Seperti diisyaratkan Rasulullah, di ketiga tempat itu, Allah mengutus para Malaikat untuk membukakan pintu taubat hamba-hamba-Nya, sekaligus mengabulkan segala yang dimintanya, selama permintaannya itu dimaksudkan untuk kebaikan.

Karena keistimewaan ijabah itulah, adalah pada tempatnya jika kita rawat kepedulian untuk keselamatan bangsa kita sendiri. Berhaji memang bukan untuk kepentingan ritual individual, tapi juga harus dapat berimplikasi pada kebaikan bersama. Kemabruran haji salah satunya dapat dilihat pada seberapa besar manfaat bagi kehidupan kolektif yang lebih besar. Di sinilah kita dapat membuat fokus bersama untuk mengajukan permohonan kebaikan bagi masyarakat, bangsa, dan negara kita, agar ke depan tidak ada lagi kegelisahan ataupun kegaduhan yang diakibatkan berbagai persoalan bangsa yang selama ini kita hadapi.

Kita panjatkan do’a bersama. Bisa dibayangkan, jika 30 ribu jamaah asal Jawa Barat, atau sekitar 160 ribu jamaah haji Indonesia, semua berdo’a bersama memohon kebaikan bagi bangsa dan negara ini, dan Allah mendengar segala permintaan itu, maka pasca bulan Zulhijah Indonesia akan benar-benar menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur, tidak ada lagi kegelisahan ataupun kegaduhan, sosial politik maupun ekonomi.

Inilah tantangan yang tidak sederhana yang dihadapi bangsa Indonesia. Kita harus berkomitmen bersama untuk membebaskan semua elemen bangsa ini dari berbagai kegelisahan, kegelisahan politik yang seakan masih diwarnai beragam kegaduhan, kegelisahan ekonomi yang seakan masih diwarnai beragam krisis, atau bahkan kegelisahan moral yang semakin melanda berbagai lapisan masyarakat kita.

Secara matematis, kita hampir tidak lagi sanggup menghadapinya, dan secara rasional kita hampir terjebak ketidakberdayaan. Pilihan akhir yang dapat kita lakukan adalah menanti anugerah pertolongan Allah yang Mahakuasa. Jika kita kembali pada momentum istimewa seperti digambarkan pada peristiwa haji di atas, maka berdo’a di tempat-tempat ijabah itulah kita fokuskan permintaan itu, dengan harapan Allah akan mengabulkan setiap permintaan hamba-hamba yang tahun ini mendapat giliran memenuhi Undangan-Nya sendiri.

Penulis adalah Ketua Umum MUI Kota Bandung, Pembimbing Utama Haji Safari Suci, dan Dewan Pembina Sinergi Foundation