Khusyu’ dalam Shalat

Khusyu’ dalam Shalat

0 6
pict from daarutt tauhid

ALHIKMAHCO,– Ibadah shalat tidak hanya terdiri dari gerakan-gerakan dan bacaan yang harus ditunaikan, hanya demi terpenuhinya rukun dan syarat sah shalat. Karena yang demikian saja, belum cukup untuk bisa diterima amalan shalatnya di sisi Allah SWT.

Sebagaimana yang disabdakan baginda Rasulullah SAW “Adakalanya seseorang melakukan salat tetapi tidak akan dicatatkan baginya di sisi Allah walau hanya seperenamnya atau sepersepuluhnya.  Tak akan diterima dari salatnya seseorang kecuali sekadar yang dilakukannya dalam keadaan sadar (khusyu’),(HR. Abu Dawud dan Nasa’i).

Cukup banyak keterangan seperti itu yang dinukilkan dari Rasulullah SAW, para sahabat, dan tabi’in yang menekankan persyaratan khusyu’ dalam shalatnya. Hal itu dikarenakan tujuan dari shalat sendiri bukan sekadar gugur kewajiban, melainkan sebagai bentuk penghambaan agar manusia senantiasa mengingat Allah SWT.

Sebagaimana yang termaktub dalam ayat berikut: “Sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku,” (QS. at-Thaha [20]: 14). Maka dalam pelaksanaan salat, dibutuhkan konsentrasi dan kekhusyukan agar dapat mencapai tujuan dari salat itu sendiri. [i]

Kata khusyu’ sendiri disebutkan dalam al-Qur’an yang makna bahasanya berkisar pada hina atau menunduk, merendahkan diri dan tenang, serta ketakutan atau kering. Allah SWT berfirman: Pada hari itu manusia mengikuti (menuju kepada suara) penyeru dengan tidak berbelok-belok; dan merendahlah semua suara kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja.” (QS. Thâhâ [20]: 108). [ii]

Berdasarkan penjelasan tersebut, kiranya dapat disimpulkan bahwa yang namanya khusyu’ adalah sikap menghadirkan Allah SWT dalam shalatnya. Adapun menurut imam al-Ghazali, sekurangnya ada lima kondisi yang harus diperhatikan ketika sedang melakukan salat. Yakni menghadirkan Allah dalam hati, bersungguh-sungguh dalam upaya memahami makna yang terkandung dalam setiap ucapan, lalu menghadirkan rasa takut, harap, dan malu yang dilatarbelakangi kelemahan sebagai makhluk yang ditunjukan semata-mata hanya kepada Allah.

Rasulullah bersabda : Sesungguhnya salat itu ketetapan hati dan penyesalan diri. Engkau rendahkan dirimu seraya berucap Allahumma,, Allahumma,, (Ya Allah, Ya Allah). Barangsiapa yang tidak berbuat demikian, maka salatnya tidak sempurna. [iii]

[i] Muhammad Bagir, (2008), Fikih Praktis I, Jakarta: Karisma, hlm. 147-148

[ii] Ahmad Ibnu Faris, (1994), Muqayis al-Lughah, Beirut : Dar al-Fikr, hlm. 150

[iii] Al-Ghazali, (2003), Mutiara ihya Ulumudin, Bandung: Mizan, cet. 15, hlm. 61