KH Noer Ali, Sang Singa Karawang-Bekasi

KH Noer Ali, Sang Singa Karawang-Bekasi

0 697
”Berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lain, menyerang pos-pos Belanda secara gerilya. Dari situlah K.H. Noer Ali mendapat julukan Singa Karawang-Bekasi”

ALHIKMAH.CO–Noer Ali adalah nama yang tak asing terdengar di telinga masyarakat Bekasi. Bahkan ada ungkapan populer “ bukan orang Bekasi kalau tak kenal KH. Noer Alie.” Ungkapan ini tidaklah berlebihan karena KH. Noer Ali adalah sosok dan ikon kebanggan masyarakat Betawi, khususnya di Karawang dan Bekasi pada era perjuangan mempertahankan kemerdekaan dari rongrongan imperialis, Belanda.

 

Dilahirkan di Kampung Ujungmalang, Desa Bahagia Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi tahun 1914, putra pasangan H. Anwar bin Layu yang seorang petani dan Hj. Maimunah binti Tarbin ini hidup dalam kondisi ekonomi pas-pasan.

 

Meski begitu, kemauannya untuk menuntut ilmu demikian kuat. Bahkan, demi mewujudkan keinginan untuk menuntut ilmu ke tanah suci, Mekah, KH. Noer Ali sengaja meminjam uang dari majikan ayahnya, yang harus dicicil selama bertahun-tahun. Berangkatlah ia selama enam tahun (1934-1940) untuk belajar di negeri impian.

 

Saat di Mekah, ia berkesempatan untuk menimba ilmu dari banyak ulama, semisal: Syekh Muhammad AH Maliki, Syekh Umar Hamdan dan Syekh Muhammad Amin Al Kutbi. Di masa itulah semangat kebangsaannya tumbuh, saat ia merasa dilecehkan seorang pelajar asing dengan kalimat satir, “Mengapa Belanda yang negaranya kecil bisa menjajah Indonesia? Harusnya Belanda bisa diusir dengan gampang kalau ada kemauan!”

 

Noer Ali pun “marah”, lantas menghimpun para pelajar Indonesia khususnya dari Betawi untuk memikirkan nasib bangsanya yang terjajah. Ia pun kemudian diangkat teman-temannya seperjuangan menjadi Ketua Perhimpunan Pelajar Betawi di Mekah tahun 1937.

 

Tahun 1940, sekembalinya ke tanah air, Noer Ali mendirikan pesantren Attaqwa, tak jauh dari kediamannya di Ujungmalang. Kelak, nama Ujungmalang berubah menjadi Ujungharapan, atas usul dia.

 

Fokus pembelajaran di pesantren saat itu hanya Fokus pada pengajaran cara membaca Alquran yang baik dan benar pada masyarakat sekitar. Barulah tahun 1950, KH. Noer Alie mendirikan lembaga pendidikan dasar Al-Huda, disusul pendirian pesantren Islam Bahagia (setingkat Madrasah Tsanawiyah). Tahun 1964, ia pun lantas mendirikan pesantren Putri, Al-Baqiyatushsholihat, yang kelak menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Attaqwa Putri.

 

Semua itu ia lakukan bukan tanpa alasan. Almarhum pernah memimpikan kampungnya menjadi kampung surga. Sebagian murid-murid yang belajar agama darinya, menafsirkan harapannya itu sebagai impian untuk menjadikan kampungnya sebagai pusat pengembangan agama Islam, dimana ajaran Islam dilaksanakan secara kaffah.

 

“Tapi bagi Ayah sendiri, kampung surga itu bermakna kampung yang penduduknya sejahtera secara lahir dan batin. Artinya secara ekonomi kampung itu harus cukup sehingga masyarakatnya dapat membiayai sendiri kehidupan lahiriyah, dan secara agamis masyarakat bersandar kokoh kepada aqidah, syariah dan akhlaq,”  kata putra tertua KH. Noer Ali yang juga Pimpinan Yayasan Attaqwa Pusat,  KH. Muhammad Amin Noer, saat ditemui kontributor Alhikmah, Erni Arie Susanti.

 

Amin menambahkan, sebagai sosok yang memiliki hobi menanam, sang ayah kerap memberikan contoh dengan mempraktekkan cara bercocok tanam langsung kepada masyarakat agar bisa mandiri. Tak jarang, KH. Noer Ali  mencangkul sendiri kebunnya untuk persemaian berbagai jenis tanaman. Ia pun tak sungkan turun ke sawah bersama para petani untuk menanam benih padi, lantas memanennya tatkala musimnya telah tiba. Para santri pun ia didik dengan meminta mereka ikut serta memotong padi saat musim panen. Hasil panen kemudian dijual, lantas digunakan untuk membeli bahan bangunan.