KH. Miftah Faridl Bahas Etika Bermasyarakat dan Berbangsa Menurut Al Quran

KH. Miftah Faridl Bahas Etika Bermasyarakat dan Berbangsa Menurut Al Quran

0 44

ALHIKMAHCO,– Allah Swt., sebagai Pencipta langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya telah memberikan ilmuNya tentang etika dalam kehidupan  bermasyarakat dan bernegara. Para pembaca bisa menelaahnya di dalam Alqur’an surat Al-Hujurat (49) yang berisi 18 ayat. Penjelasannya sebagai beikut:

  1. Kehidupan bermasyarakat dan bernegara harus didasari dengan pondasi ketaqwaan kepada Allah Pemilik alam ini (ayat 1),  sebab tanpa ketaqwaan kepadaNya, apapun yang  kita lakukan akan sia-sia tiada bermakna (ayat 1).
  2. Menghormati Nabi (ayat 2-5). Sekarang berarti menghormati para ulama sebagai pewaris Nabi (Ulama yang berakhlaq mulia bukan ulama yang jauh dari akhlak Nabi). Ulama adalah pagar utama masyarakat.
  3. Melakukan tabayyun atau check and recheck yakni  melakukan konfirmasi atas berbagai  berita yang kita terima seperti di media sosial, apakah berita itu benar atau dusta, agar kita tidak memutuskan sesuatu berdasarkan hoax yang akan membuat kita menyesal di belakang hari (ayat 6). Rasulullah Saw bersabda : Cukup seseorang itu disebut pendusta apabila ia selalu menyebarkan setiap informasi yang ia terima (tanpa check and recheck).
  4. Semua kaum muslimin harus tetap mengikuti Sabda Rasulullah karena apa pun yang diputuskan oleh Rasulullah selalu berdasakan petunjuk wahyu Allah. Rasul tidak mengikuti sesuatu hanya karena kehendak mayoritas masyarakat karena hal itu bisa melahirkan banyak kesusahan  (ayat 7-8).
  5. Apabila ada dua komunitas muslim bersengketa/ berperang maka hendaklah komunitas muslim lain bersatu untuk mengislahkannya.  Apabila satu kelompok menolak berdamai maka harus diperangi oleh seluruh muslim yang ada sehingga kelompok pembangkang itu mau berislah. Lalu dilakukanlah upaya perdamaian secara adil dan betul-betul menengahinya. (ayat 9). Jadi jangan biarkan dua kelompok anak bangsa bersengketa tanpa adanya upaya islah.
  6. Muslim itu berdiri di atas prinsip persaudaraan (ukhuwah). Oleh karena itu apabila ada dua orang muslim yang bersengketa maka seluruh muslim memiliki kewajiban untuk mendamaikannya agar Allah melimpahkan rahmatNya. (ayat 10). Jangan sampai kita membiarkan emosi liar yang mengarah kepada perselisihan berkepanjangan.
  7. Antara sesama anak bangsa tidak boleh tasakhar (mengolok-olokan) karena bisa jadi yang diolok-olokan lebih baik daripada yang mengolok-olokan. Tidak boleh menghina, juga tidak boleh memanggil orang dengan laqab (nama panggilan yang buruk menghinakan.(ayat 11).
  8. Sesama anak bangsa kita tidak boleh berprasangka buruk (su’uzhan), tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus), dan tidak boleh menggunjing (ghibah). (ayat 13), karena perbuatan itu bisa memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa.
  9. Perbanyaklah perbuatan baik, dan setahap demi setahap berusaha untuk menjadi orang yang benar-benar taqwa.  (ayat 14). Semakin banyak anak bangsa yang bertaqwa akan semakin berkahlah negeri ini.
  10. Selalu berjuang di jalan Allah dengan bersungguh-sungguh, baik dengan harta maupun jiwa. Tidaklah pantas disebut warga negara yang hebat (good citizen), jika belum menampakan sikap kejuangan. Allah Maha mengetahui siapa orang-orang yang benar-benar pejuang dan siapa yang sekadar mengaku pejuang. Dia Maha Mengetahui apa-apa yang  baik di langit maupun dibumi.  (ayat 15-18). Orang yang memiliki sikap kejuangan dan siap berkorban adalah pariot bangsa. Marilah menjadi patriot bangsa, patriot NKRI.

Apabila konsep ini dilaksanakan oleh seluruh anak bangsa, Insya Allah Indonesia akan menjadi negeri yang aman, tenteram dan bermartabat. Aamiin. []