Ketupat Sayur Rp 3.500

Ketupat Sayur Rp 3.500

0 44

“Jika saja Sofyan dan penjual ketupat sayur itu kelak menjadi orang-orang besar dengan amanah besar, saya berharap mereka tetap seperti sekarang. Jujur dan tak serakah.”

ALHIKMAHCO,– Saya baru saja tiba di Jakarta, di kantor perwakilan tempat saya bekerja. Hari itu ada pertemuan dengan beberapa relasi yang harus saya hadiri. Pertemuan pertama dmembahas kerjasama peliputan berita. Pertemuan lainnya dengan pihak rekanan yang berminat untuk bersinergi dalam beriklan.

Alhamdulillaah, saya bersyukur, bahwa Allah telah memberi begitu banyak kesempatan kepada saya untuk mengisi hari-hari dengan melakukan yang terbaik.

Karena perut terasa lapar dan pertemuan masih satu jam lagi, saya meminta tolong Kang Sofyan, staf bagian umum, untuk mencarikan sarapan.

“Bapak mau sarapan apa?” tanya Sofyan dengan sopan kepada saya.

“Terserah Kang Sofyan deh. Makanan apa yang pagi-pagi begini sudah ada? Atau boleh saya tahu, ada apa saja yang dekat-dekat sini?” tanya saya.

“Ada ketupat sayur yang enak, Pak.” jawab Sofyan.

“Boleh juga,” saya setuju saja usul Sofyan. Ingatan saya melayang ke masa kecil saya di sebuah desa di Purwakarta. Seorang tetangga saya adalah penjual ketupat sayur. Saya sering mencegatnya pagi-pagi usai shalat subuh sebelum beliau pergi ke tempat jualannya di Pasar Jum’at.

Segera saya berikan uang Rp 20.000,00 kepada Sofyan. Sementara Sofyan membeli ketupat sayur, saya berganti baju dan bersiap-siap. Tak lama kemudian Sofyan tiba dan menyajikan ketupat sayur di meja, tak lupa dengan teh manis panas yang mengundang selera. Saya segera menyantap ketupat sayur Betawi yang lezat itu.

Usai makan saya melihat ada uang sejumlah Rp 16.500,00 yang tersimpan di dekat tas saya. Saya panggil Sofyan dan bertanya, ”Itu uang siapa?”

“Uang Bapak, kembalian ketupat sayur tadi,” jawab Sofyan.

Ya Allah, ketupat sayur itu isinya komplet betul. Ada sepotong telur ayam, sekerat daging ayam, ketupat dan juga kerupuk. Dan rasanya memang enak seperti kata Sofyan. Di Jakarta yang serba mahal, pedagang kecil itu menjualnya hanya seharga Rp 3.500,00.

Saya juga semakin terpekur ketika menyadari bahwa Sofyan yang saya beri uang Rp 20.000,00 mengembalikan sisanya dengan utuh. Padahal saya tidak tahu berapa harganya.

Saya terpesona dan kagum pada “orang-orang kecil” seperti Sofyan dan Penjual Ketupat Sayur itu. Penjual ketupat sayur mungkin bisa menjual lebih mahal, tapi tidak dilakukannya. Sofyan bisa menilap uang kembalian, tapi tidak dilakukannya.

Jika saja Sofyan dan penjual ketupat sayur itu kelak menjadi orang-orang besar dengan amanah besar, saya berharap mereka tetap seperti sekarang. Jujur dan tak serakah.

Dengan hati yang terharu biru, saya berdoa,”Ya Allah, berkahilah mereka. Tolonglah mereka dan jadikanlah hidup mereka diliputi kebahagiaan. Aamiin..”

“Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS Hud: 85)