Ketua P2TP2A Jabar Berharap Kaum Perempuan tak Lagi Dimarginalkan

Ketua P2TP2A Jabar Berharap Kaum Perempuan tak Lagi Dimarginalkan

0 48
Istri Gubernur jabar Netty Heryawan saat ditemui dalam acara Meet and Greet Penyanyi Humood Alkhadher, Selasa (8/3/2016) di Bandung

ALHIKMAH.CO—Di momen Hari Perempuan Internasional yang jatuh setiap tanggal 8 Maret, Ketua  Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Jawa Barat, Netty Heryawan berharap agar kaum perempuan mendapat tempat yang baik dan tidak lagi dimarginalkan (dipinggirkan).

Ia menyatakan angka kekerasan terhadap wanita yang terjadi di Jawa Barat masih banyak. Netty menegaskan bahwa peran perempuan sangatlah besar.

“Perempuan juga sebagai penentu kehidupan. Karena dalam setiap rumah tangga yang dikelola, perempuan adalah orang yang paling menentukan,” kata Netty beberapa waktu lalu di Bandung.

“Karena itu, saat perempuan menjadi korban diskriminasi, baik dalam bentuk kekerasan rumah tangga, kekerasan seksual, human trackfiking, tentu ini akan berakibat. Minimal pada ketahanan keluarganya pasti rapuh, pengasuhan anaknya berantakan, atau dalam konteks ruang publik, perempuan yang berkarier pasti berdampak dalam kinerjanya,” tambahnya usai mengisi acara di Gedung Dekranasda, Dago Bandung.

Menurut Ketua PKK Jabar ini, sejatinya setiap pemangku kepentingan harus menerapkan isu perempuan dalam lingkungan kebijakan dan kemudian diaplikasikan melalui program yang efektif dan tepat sasaran. Antara lain dengan meningkatkan partisipasi pendidikan dan kesehatan perempuan.

“Seperti anak-anak putus sekolah, buta huruf juga masih banyak di angka perempuan. Bidang kesehatan, seperti angka kematian ibu, dan anak, harus ditekan sedemikian rupa sehingga kualitas hidup perempuan meningkat,” imbuh Netty, Selasa (8/3/2016).

Sementara di ruang-ruang politik dan publik juga, Ia berpendapat harus diperbanyak dari kalangan kaum hawa ini. Perempuan-perempuan yang memiliki idealisme, integritas, dan komitmen. Sehingga apa yang menjadi penghayatan perempuan menjadi mampu dituangkan dalam kebijakan.

“Tentu saya berharap perempuan bukan sekadar ada, tetapi harus memiliki kapasitas dan kompetensi. Untuk mengartikulasikan berbagai bentuk kepentingan masyarakat khususnya kelompok perempuan dan anak yang sering kali termajinalkan dalam peran-peran yang sedang diemban,” pungkasnya (dita/alhikmah).