Ketika Rasul dan Sahabat Bertani

Ketika Rasul dan Sahabat Bertani

0 539

Tanah-tanah menjadi produktif, tidak ada yang terlantar. Para pemilik tanah menggunakannya untuk mempersiapkan pangan. Rasulullah sendiri, sebagai pemimpin Madinah mulai mengatur persediaan cadangan pangan Madinah.

ALHIKMAH.CO–Genderang rebana bertabuh. Rasul nan dinanti telah tiba. Madinah, menyambut hangat sang Nabi. Suasa begitu haru. Ratusan kilometer, tanpa harta, tanpa kemewahan, semua berlalu. Kini, wajah-wajah baru siap menyambut di hadapan. Muhajirin dan Anshar, dua buah kaum yang namanya disebut oleh Allah dalam Al Quran kini melebur. Kaum Anshar, penduduk setempat dengan rela memberikan tanah usaha dan tempat tinggal kepada kaum muhajirin yang tak memiliki apapun. Habis hartanya menemani Rasul hijrah.

Bagaimanapun juga, Madinah, tempat baru Rasulullah harus menjadi Ibu Kota, pusat kehidupan umat Islam. Setelah hijrah, para sahabat mendambakan kehidupan yang lebih baik. Setelah membangun mesjid, Rasulullah mulai membangun peradaban Islam, mulai dari kajian ilmu, strategi perang, hingga arahan rasulullah tentang kesejahteraan masyarakat yang bermula dari pangan.

Pertanian dan peternakan merupakan hal yang amat penting yang Rasulullah terlibat di dalamnya. Bertani ialah sebagai bentuk syukur kepada Allah dan jalan mendapatkan rezeki.  Rasulullah begitu menghayati Firman Allah Ta’ala dalam surat Abasa yang turun padanya: “Lalu Kami tumbuhkan pada bumi biji-bijian (27) Dan buah anggur serta sayur-sayuran (28) Dan zaitun serta pohon-pohon kurma (29) Dan taman-taman yang menghijau subur (30) Dan berbagai-bagai buah-buahan serta bermacam-macam rumput. (31) Untuk kegunaan kamu dan binatang-binatang ternakan kamu (32).”

Sejauh mata beredar, Rasulullah melihat banyak tanah yang tak terpakai di Madinah. Tanah-tanah kosong melompong, padahal telah Allah amanahkan untuk dikelola. Maka, beliau pun bersabda “Andainya kiamat tiba dan pada tangan seseorang daripada kamu ada sebatang anak kurma, maka hendaklah dia tanpa berlengah-lengah lagi menanamkannya.” (Hadits  Riwayat Ahmad).

Para sahabat mulai berlomba-lomba menggunakan tanah kosong. Ada Umar yang sehari-hari berladang gandum, dan bahan makanan. Ada Utsman Ibn Affan yang hasil  ladangnya dijual ke luar negeri hingga Syam. Ada Abdurrahman Ibn Auf yang terjun beternak. Semua sahabat berlomba-lomba bertani, semua hanya dengan mengharapkan balasan terbesar, pahala Allah Ta’ala.

“Tiada seorang Muslim pun yang bertani, lalu hasil pertaniannya dimakan oleh burung atau manusia atau binatang, melainkan dia akan menerima pahala di atas hal itu.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

Bertani merupakan profesi yang sangat mulia dan membanggakan. Hampir semua sahabat besar adalah petani. Para pemilik lahan yang mampu bertani menggunakan lahannya. Rasulullah sejak datang di Madinah menghimbau kepada para penduduk Anshar agar dapat bekerja sama dengan Muhajirin dalam hal pertanian.

“Siapa yang memiliki tanah, hendaklah dia mengusahakannya, namun jika dia tidak berupaya melakukannya, maka hendaklah diberikan kepada saudaranya (supaya diusahakan) dan janganlah dia menyewakannya.” (Hadis riwayat Abu Daud)

Tanah-tanah menjadi produktif, tidak ada yang terlantar. Para pemilik tanah menggunakannya untuk mempersiapkan pangan. Rasulullah sendiri, sebagai pemimpin Madinah mulai mengatur persediaan cadangan pangan Madinah. Rasulullah mengangkat Hudzaifah ibn Yaman sebagai katib yang mencatat hasil produksi peternakan dan hasil produksi pertanian. Bisa juga negara membeli hasil pangan dan menyimpannya di gudang-gudang Madinah untuk didistribusikan ketika supply mengalami kekurangan.

Dengan kebijakan itu maka harga pangan bisa dijaga pada tingkat yang wajar. Kebijakan pengendalian harga dengan mengendalikan produksi dan permintaan menggunakan mekanisme pasar. Rasulullah pun melarang adanya monopoli pasar juga penentuan harga sepihak.

“Siapa saja yang turut campur (melakukan intervensi) dari harga-harga kaum Muslimin untuk menaikkan haga atas mereka, maka adalah hak bagi Allah untuk mendudukkannya dengan tempat duduk dari api pada Hari Kiamat kelak (HR Ahmad, Al Baihaqi, Thabrani)

Kehidupan bertani dan penguatan ketahanan pangan Madinah terus berlanjut hingga Rasulullah saw wafat. Pada zaman Umar, dibentuk baitul Mal untuk menyimpan harta dan juga badan ketahanan pangan negara pada tiap wilayah yang dipimpin oleh gubernur langsung. Umar juga berijtihad untuk pemanfaatan lahan produktif yang selama tiga tahun berturut-turut terbengkalai.

Saat nabi masih hidup, beliau saw pernah memberikan tanah kepada orang-orang dari Juhainah lalu mereka membiarkannya dan menelantarkannya, lalu datang kaum yang lain dan menghidupkannya.  Kemudian orang-orang Juhainah itu mengadukannya kepada Umar bin Khathab, lalu Umar berkata : seandainya itu dari pemberianku atau dari Abu Bakar maka aku tidak akan ragu, tetapi itu adalah pemberian Rasulullah saw (artinya sudah ditelantarkan lebih dari tiga tahun). Dan Umar berkata :

Siapa saja yang memiliki tanah lalu ia telantarkan tiga tahun tidak ia gunakan, lalu orang lain menggunakannya maka orang lain itu lebih berhak atas tanah itu.

Pada zaman Umar pula, pernah terjadi paceklik yang sangat parah, hingga menguras gudang-gudang penyimpanan cadangan makanan. Namun, para gubernur daerah dengan sigap membantu mengirimkan makanan dari wilayahnya agar Madinah, Mekah juga jazirah Arab tak terlanda krisis pangan.

Umar menulis surat kepada gubernurnya di Mesir Amru bin al–‘Ash  tentang kondisi pangan di Madinah dan memerintahkannya untuk mengirimkan pasokan. Lalu Amru membalas surat tersebut, “saya akan mengirimkan unta-unta yang penuh muatan bahan makanan, yang “kepalanya” ada di hadapan Anda (di Madinah) dan dan ekornya masih dihadapan saya (Mesir)  dan aku lagi mencari jalan untuk mengangkutnya dari laut”. Subhanallah! Wallahu a’lam.

(RU/ed:hbs/alhikmahco)

 

 

 

BERITA TERKAIT

0 5

0 92

0 45