Ketika Islam Berbicara Etika Bercanda

Ketika Islam Berbicara Etika Bercanda

1 211

BERBEDA halnya dengan sabar yang tiada berbatas, Islam memberikan beberapa batasan dan etika dalam hal bercanda. Karena, seringkali orang yang bercanda bila tidak diberi batasan akan berlebihan, sehingga bisa menimbulkan permasalahan dan menjatuhkan wibawa. Dalam beberapa riwayat, bercanda yang berlebihan akan mematikan hati. [i]

Etika yang paling utama ketika bercanda adalah perkataan yang benar tidak mengandung dusta. Ia tidak mengada-ada cerita-cerita khayalan supaya orang lain tertawa. Dalam hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda: “Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad).[ii] Rasulullah SAW memang suka bercanda, akan tetapi candanya beliau, tidak pernah menyakiti dan jujur. [iii]

Selain itu, Rasulullah SAW menganjurkan agar ketika bercanda tidak mengandung unsur menyakiti perasaan salah seorang di antara orang-orang yang berkumpul. Allah SWT pernah mengingatkan umat-Nya dalam Firman-Nya berikut ini : “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Isra’: 53).

Bercanda juga tidak boleh dilakukan terhadap orang yang lebih tua, perkara yang serius, misalnya talak. Atau ketika situasi sedang serius, misalnya sedang berada di majelis hakim, atau terhadap perempuan yang bukan mahram.

Hal yang lebih penting, ketika bercanda tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam. Mengenai hal ini, Allah SWT berfirman “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”. (QS. At-Taubah [9]: 65-66). [iv]

 

[i] Saiful Hadi el Sutha, (2007) , Mutiara Hikayat, Gelora Aksara Pratama, hlm. 127

[ii] Salim bin Ied,(2005) Ensiklopedi Larangan Jilid 3, Bogor: Pustaka Imam Syafi’i, hlm. 79

[iii] Saiful Hadi el Sutha, op.cit, hlm. 127

[iv] Abdul Aziz bin Fathi, (2007), Ensikloperdi adab Islam Jilid 2, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, hlm. 372-373