Ketika Hubungan tak Direstui Orang Tua

Ketika Hubungan tak Direstui Orang Tua

0 201

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Ummi yang saya hormati, ada sedikit cerita mengenai kehidupan saya. Saya mempunyai seseorang yang saya sayangi, dia seorang mualaf sejak sebelum bertemu. Dia pun mengidap penyakit polio di kaki kanannya.

Namun hubungan kami tidak direstui kedua orang tua. Sedangkan orang tua dia justru merestui kami. Orang tua saya beranggapan saya terkena peletnya. Bahkan Ayah bilang, jika saya menikah dengan seorang mualaf, maka amal ibadah kedua orang tua saya tidak diakui Allah. Jujur, saya tidak percaya. Saya yakin pertemuan kami adalah kehendak Allah Swt. Saya tahu semua itu ayah dan ibu lakukan karena menginginkan saya mendapatkan lelaki yang lebih dari dia. Hanya karena kondisi fisik yang tidak sempurna, orang tua begitu membencinya.

Namun, pada ibadah umrah kemarin yang saya jalani dengan kedua orang tua, saat sedang mengelilingi Kabah saya selalu dibayang-bayangi oleh senyumnya. namun yang saya rasakan kami  semakin hari semakin khusuk dalam menjalankan setiap perintah Allah bersamaan. Seperti shalat lima waktu, dengan cara saling mengingatkan. Ummi, saya begitu mengasihaninya, sehingga air mata tak kuasa saya bendung. Tahajud, Istikharah saya jalani demi mendapatkan jawaban dari masalah ini.

Apa yang harus saya lakukan Ummi ? Saya sebetulnya percaya restu Ibu adalah restu Allah.. Apakah bila hubungan ini tidak direstui orang tua, itu berarti hubungan ini tidak direstui Allah?  Apakah saya salah mencintai seorang mualaf yang memiliki cacat fisik? Mohon nasehat dan saran Ummi. Oiya, bagaimana cara berjumpa Ummi? Terimakasih..

(Dewi G – Bumi Allah)

Wa’alaikumu Salam Wr Wb.

Semoga Allah memberikan petunjuk dan kemudahan untuk ukhti Dewi. Adalah sebuah kewajaran jika orang tua merasa khawatir mengenai anaknya, apalagi menyangkut pernikahan. Secara umum orang tua akan berhati-hati untuk menerima laki-laki yang akan menjadi calon mantunya, apalagi yang kelihatan mempunyai kekurangan secara fisik.

Kekurangan fisik selalu mengindikasikan keterbatasan, namun bukan terbatas segalanya. Karena itu biasanya orang memiliki kekurangan fisik harus menunjukkan dia mampu mengatasi keterbatasannya. Maaf, mungkin orang tua berpikir tentang calon suami ukhti Dewi, nanti akan terbatas memberi nafkah, terbatas melindungi terbatas dalam hal tertentu yang mungkin akan jadi pemicu masalah rumah tangga Dewi di kemudian hari.

Ukhti Dewi juga harus memahami, tidak mudah bagi orang tua untuk menerima orang yang memiliki kekurangan, bagi Dewi mudah tapi bagi orang tua tidak. Karena itu calon Dewi itu yang harus bisa menyakinkan orang tua, bisa membuktikan bahwa ia mampu untuk memimpin dan membina rumah tangga dengan baik. Calon suami Dewi harus membuktikan bahwa ia mampu sebagai imam yang memahami dan melaksanakan agama dengan baik sehingga kelak rumah tangganya menjadi lingkungan yang sehat bagi kehidupan beragama ukhti Dewi.

Seandainya orang tua ragu karena dia mualaf, maka orang tua bisa memberikan tes bacaan Al Qurannya, shalatnya, ibadahnya dan pemahaman agamanya. Semua yang meragukan dan yang membuat khawatir orang tua harus dibuktikan dan dijawab oleh calon suami ukhti Dewi.

Mengenai amal ibadah yang tidak diterima disebabkan menikah dengan seorang mualaf itu tidak ada keterangan dalilnya. Adapun orang tua yang menikahkan anaknya dengan orang yang tidak beriman maka jadi dosa besar bagi orang tuanya. Mungkin maksud orang tua, mereka khawatir seorang mualaf akan kembali kafir. Jika orang itu kafir kembali maka otomatis seorang perempuan beriman harus cerai dari suami kafir.

Ukhti Dewi, restu orang tua sangatlah penting, maka restu harus didapatkan. Karena orang tua mempunyai pertimbangan yang lebih baik, mereka lebih berpengalaman, dan lebih memahami anaknya sendiri. Maka berlemah lembut berbicara dengan mereka, bersabarlah untuk mendiskusikan masalah ini. Ajak pula mereka untuk shalat istikharah, agar petunjuknya bertambah kuat mendekati kebenaran.

Ukhti Dewi juga harus hati-hati dengan kenyamanan dan kekhusyukan ibadah dalam kebersamaan calon suami. Harus dijaga hijabnya, hijab pula perasaan. Karena justru syetan akan membuat seolah-olah sesuatu yang baik padahal itu buruk. Ukhti Dewi seharusnya nyaman dan beribadah bareng orang tua, agar mereka membantu dalam istikharahnya, bukan nyaman ibadah sama calon suami.

Tidak salah mencintai seorang mualaf dan cacat fisik. Tetapi jangan sampai, karena terlanjur cintanya, kita malah menyakiti orang tua. Saking cintanya kita malah dibutakan dari kebenaran. Teruslah memohon petunjuk kepada Allah, mudah-mudah Ia memberikan jalan kemudahan. Wallohu’alam.

Untuk bertemu ummi, bisa minta jadwal terlebih dahulu ke LPKK Cahaya Islam 022. 70414472.