Kenali Empat Strategi Musuh Jauhkan Umat dari Islam (Bag. 1)

Kenali Empat Strategi Musuh Jauhkan Umat dari Islam (Bag. 1)

0 110
pict_votreesprit blog

Oleh: Maharevin *

ALHIKMAHCO,– Sebetulnya, bila kita ingin membuka mata ini lebih lebar, banyak sekali pihak yang ingin menghancurkan Islam, bukan hanya zionis atau kaum liberal. Sementara itu, umat Islam banyak diserang dari beragam sisi. Selain isu pernikahan lintas agama, persamaan gender, hedonisme, pluralisme, relativitas, hingga feminisme terus memborbardir tak henti. Maka penting bagi setiap muslim untuk memahami metode serangan musuh, lewat perang pemikiran ini.

Pertama, dengan menimbulkan keraguan (Tasykik). Biasanya embusan isunya adalah kriminalitas, kemiskinan, atau hal negatif lainnya yang selalu dikaitkan dengan Islam. Dengan maksud, ingin mematahkan persepsi syariat Islam bisa menjadi solusi permasalahan negeri ini. Hal ini untuk menggiring pada kesimpulan “Oh, jangan sampai konsep Islam diterapkan di Indonesia, buktinya yang melakukan kriminalitas banyak orang Islam, malahan korupsi banyak terjadi di Departemen Agama.

Bila kita kaji kembali isu tersebut, tentu kesimpulan seperti itu tidaklah adil. Sebab bagaimana pun juga yang mayoritas yang selalu terekspose. Sebagai agama yang memiliki prosentase sebesar 80 persen, tentu tidak bisa dijadikan alasan segala kriminalitas yang dilakukan orang Islam harus dikaitkan dengan Islamnya.

Bila kita melancong ke beberapa tempat mayoritas Kristen, tentu para pelanggar kriminalitas, atau orang miskinnya, akan ditemukan orang-orang yang beragama Kristen. Aneh bin fakta, bila hukum yang digunakan di negeri ini tidak berlandaskan Islam, lantas mengapa ketika ada pelanggaran, agama Islamlah yang harus menanggung segala bentuk pelanggaran tersebut? Inilah contoh lain dari perang pemikiran. Di mana logika berpikir benar-benar dibenturkan, untuk menggoyahkan keyakinan, menimbulkan keraguan.

Keberadaan media juga memiliki pengaruh tersendiri dalam menggiring persepsi khalayak ke dalam satu opini publik yang sama. Misalnya dituliskan dalam salah satu judul di surat kabar nasional, “Menikah Beda Agama Contoh Kemajemukan.” Selintas tiada yang salah dengan judul ini, namun bila kita kaji kembali maknanya, pernikahan beda agama, khususnya wanita muslim ke laki-laki kafir, haram hukumnya.

Namun dengan terbitnya artikel ini seolah-olah menjadi pembenaran kemajemukan penduduk Indonesia menjadi alasan boleh menikah dengan yang berbeda agama. Inikan dahsyat sekali dampaknya. Sebab kristenisasi pun kerap menjadikan pernikahan sebagai cara mereka menghancurkan generasi Islam.

Kedua, dengan menghilangkan kebanggaan terhadap Islam (Taswih). Multikulturalnya penduduk Indonesia, kerap dipaksakan untuk menerima agama di luar Islam. Bukan hanya itu saja, makna fundamental atau orang yang memegang teguh ajaran Islam, kerap dicemooh dengan kalimat sok suci.

Hal tersebut membuat orang yang ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik menjadi takut dikatakan sok suci. Contohnya sederhana, semisal ada wanita yang ingin berjilbab, tak pelak selalu ada kalimat, jangan sok suci, jibabkan dulu hati. Malu dong kalau udah berjilbab tapi masih maksiat!

Beragam kriminalitas, kerap dikaitkan dengan orang Islam. Media lagi-lagi menjadi senjata musuh guna menanamkan bahwa ajaran Islam itu tidak terlalu benar dan tidak suci-suci amat. Ketika ada aksi terorisme, banyak media yang mengarahkan ke Islam, bagi yang imannya lemah, hal ini tentu mengurangi kadar kebanggan (izzah) seorang muslim pada ajarannya.  [bersambung]

lihat juga tulisan sebelumnya 

Penulis adalah jurnalis Tabloid Alhikmah dan Alumnus UIN Bandung angkatan 2008

Komentar ditutup.