Kembali Ke Thibbun Nabawi Lewat Ruqyah Syar’iyyah

Kembali Ke Thibbun Nabawi Lewat Ruqyah Syar’iyyah

0 145
from_barokahasyifa.com

BEGITU banyak macam pengobatan yang ditawarkan bagi mereka yang sedang tidak dalam keadaan sehat. Mulai dari pengobatan medis dengan andalan obat kimianya, pengobatan alternatif, herbal, maupun yang ingin kembali dengan pengobatan gaya Rasulullah atau yang biasa dikenal dengan Thibbun Nabawi. Meski kesemua pengobatan ini meyajikan cara dan penanganan yang berbeda, tetapi tujuannya sama yaitu untuk menyembuhkan penyakit yang dirasakan dalam diri seseorang.

Seorang muslim pasti mengetahui, Al-Quran selain sebagai petunjuk dan pedoman hidup umat manusia juga merupakan obat. Al Qur’an adalah obat yang baik bagi jiwa yang baik dan qalbu yang hidup. Ia tidak sekadar menyembuhkan namun juga mengubah keseluruhan hidup manusia.

“Kenapa saya sakit? Kenapa penyakit ini tidak sembuh-sembuh juga? Kenapa saya yang dipilih untuk menerima sakit ini?” beberapa pertanyaan ini mungkin sering muncul ketika kita dalam keadaan sakit.  Artinya kebanyakan orang yang dalam keadaan sakit masih fokus dengan penyakitnya, orang lupa bahwa dia punya dosa, padahal Allah menggugurkan dosanya itu lewat sakitnya tadi.

Penyembuhan dengan Al-Quran telah dicontohkan Rasulullah Saw., salah satu metodenya adalah ruqyah syar’iyyah. Metode ini bukan hal yang baru. Ia laksana sunnah yang hampir punah. Banyak yang mengira ruqyah itu adalah bagian dari hal mistik dan tabu, sulit dan meragukan pengaruhnya terhadap kesehatan ummat. Padahal, ia adalah senjata dan kemudahan dari Allah untuk menuntaskan berbagai belenggu sihir-sihir ad-dunya yang mengikat qalbu kaum mukminin di muka bumi ini.

Dalam bahasa Arab, Ruqyah berarti mantra, Ruqyah Syar’iyyah adalah mantra yang disyariatkan (mantra dari al Qur’an, doa Rasulullah atau doa kita sendiri) yang sesuai dengan tatacara yang telah Rasulullah SAW ajarkan. Jadi tidak heran jika ada hadits yang mengatakan meminta ruqyah itu tidak boleh, atau bahkan syirik karena ruqyah dimaksud adalah Ruqyah Syirkiyyah atau yang mengandung kesyirikan di dalamnya. Adalah hal yang mustahil perkataan Rasulullah SAW bertabrakan dengan perkataannya yang lain apalagi dengan al Qur’an yang sudah jelas kebenarannya.

Dalam QS Fushilat : 44, “….Katakanlah, bagi segenap orang-orang yang beriman Al-Qur’an menjadi petunjuk dan juga obat”. Ayat ini hanya ditunjukan kepada orang-orang yang beriman. Allah memberitakan langsung dengan firman-Nya bahwa Al Qur’an yang selama ini kita baca adalah obat, hanya saja selama ini kita belum meniatkannya untuk pengobatan.

Dalam ayat yang lain, Allah menyampaikan kabar gembira bahwa seluruh Al Qur’an ini obat. “Kami turunkan dari Al-Qur’an ini, yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang mukmin.” (Al Israa’: 82). Keseluruhan Al Qur’an ini adalah obat, tidak parsial, semuanya adalah obat.

Selanjutnya Allah memberitakan dengan jelas bahwasannya target pengobatan al Qur’an ini adalah qalbu manusia. “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yunus: 57)

Rasulullah Saw., kemudian menambahkan keterangan yang terang benderang, bahwasanya apa yang ada didalam dada kita itu ada Qalbu (jantung) sebagai pengatur utama kumpulan energi biolistrik dalam tubuh yang memengaruhi kesehatan ruhani dan jasmani manusia.

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah qalbu.” (HR Bukhari dan Muslim).