Kehidupan di Kamp Pengungsian, Muslim Rohingya Merepotkan?

Kehidupan di Kamp Pengungsian, Muslim Rohingya Merepotkan?

0 75

SUARA bacaan Al-Quran terdengar keras di seluruh penjuru penampungan pengungsi Rohingya di Tempat Penampungan Ikan di Kuala Cangkoy, Kecamatan Lapang, Lhoksukon, Aceh Utara. Sebuah bangunan di pojok lapangan disulap menjadi mushala kecil. Di situlah beberapa pria membaca ayat-ayat Al-Quran menggunakan loud speaker, menjadikan suasana pengungsian di bibir pantai itu tak ubahnya perkampungan penduduk asli di Aceh.

Pengungsi Rohingya tengah membaca Al-Quran di sebuah lapangan, yang dijadikan mushala. Selain mushala, di sudut lain bangunan itu terdapat tiga bangsal darurat. Tampak dua orang lelaki kurus dan hitam terbaring di atasnya. Sesekali salah satunya bangun dan mengoleskan sesuatu pada bagian tubuh tertentu. “Itu bangsal untuk merawat mereka yang sakit, mas,” kata salah seorang petugas Imigrasi kepada kami.

Pengungsi Rohingya yang sakit. Ia sesekali bangun dari bangsal darurat untuk mengambil minum/kiblat.net
Pengungsi Rohingya yang sakit. Ia sesekali bangun dari bangsal darurat untuk mengambil minum/kiblat.net

Pengungsi Rohingya yang sakit. Ia sesekali bangun dari bangsal darurat untuk mengambil minum. Kehidupan di kawasan itu masih ramai, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB saat kami tiba bersama relawan yang mengantar bantuan. Seluruh potret kehidupan masih “komplit,” termasuk pengungsi yang mengerumuni mobil pengangkut bantuan. Sebuah insiden kecil terjadi.

Mobil pengangkut bantuan milik sebuah LSM dari Aceh Tamiang itu dihiasi banner yang (mungkin) dimaksudkan mengajak orang untuk bersimpati kepada penderitaan Muslim Rohingnya. Termasuk gambar potongan jasad yang dipanggang di atas api membara. “Mereka marah, karena teringat kejadian buruk yang pernah mereka alami,” kata seorang warga desa kepada kami.