Kata Sang Marbot Masjid: “Biar Allah yang Gaji Saya“

Kata Sang Marbot Masjid: “Biar Allah yang Gaji Saya“

1 1552

JALANAN di pengujung Kota Bandung mulai memadat, dan senja pun mulai membuka tirainya menuju malam. Kumandang adzan saling bersahutan. Tersirat langkah kaki tua mulai menapaki altar rumah kebesaran Allah Swt.

Terlihat dengan wajah tulus nan sederhana namun tetap penuh harap, Lelaki berkopiah hitam mulai menapaki sudut-sudut masjid untuk mempersiapkan tamu-tamu Allah yang terpanggil hatinya.

Gemuruh bising jalanan kota kembang tersebut, menjadi saksi indah pengabdian seorang marbot masjid di masa-masa sisa hidupnya. Dialah Heru Widaryono. Pria asal Semarang ini genap empat tahun mengabdikan dirinya untuk merawat singasana Allah. Jalan kehidupanlah yang telah menuntun beliau hingga seperti ini.

Heru yang pada awalnya berprofesi sebagai supir pribadi di sebuah instansi ini, masih memiliki seorang tanggungan anak belia berumur 7 tahun, Bima. Jalan hidup Heru mulai berubah saat ia tahu sang istri tercintanya telah lelah dan memutuskan untuk pergi karena tak tahan dengan himpitan ekonomi yang keluarga tengah dijalani. Tanpa seutas katapun ia memilih pergi dan meninggalkan buah hatinya bersama Heru.

Bagai nahkoda yang kehilangan arah di lautan, kehidupan Heru mulai berubah 180 derajat. Kembali menata kehidupan dari awal sepertinya tidak mudah, apalagi harus membangun cinta baru dengan wanita yang lebih baik.

Setelah memutuskan untuk berpisah dengan istrinya, Heru tidak serta merta berputus asa, Heru sadar bahwa masa depan anaknya masih panjang, sehingga pekerjaan menjadi supir pribadi pun harus ia tinggalkan demi mengurus anaknya yang masih ranum tersebut.

Waktu terus berganti, setelah semua kejadian itu berlalu, Heru harus kembali membangun dan menata sisa hidupnya bersama anak tercinta. Dengan modal ijazah SMA, ia berusaha mencari kerja apa pun di Bandung selagi halal dan dapat memenuhi kebutuhan sang anak.

Dari Timut ke Barat, Selatan ke Utara dijelajahinya. Namun apa daya, mungkin rezeki belum memihak, hingga suatu ketika, seorang ibu pemiliki Restoran Hudori-Cibiru menawarkannya untuk menjadi penjaga masjid yang juga milik keluarga tersebut. Tanpa pikir panjang, Heru langsung menerimanya.

Menjadi marbot memang tidak berpenghasilan seperti menjadi supir seperti dulu, namun intensitas dan kualitas waktu bersama anaknya akan tetap terjaga. Dirinya yang sudah berumur setengah abad ini juga ingin sekali mendekatkan diri kepada Allah. Baginya apalagi yang harus dicari di dunia ini selain Ridho Allah.

Meski usianya sudah 50 tahun, perawakan Heru masih terlihat tegap dan gagah, mencari pekerjaan lain atau kembali menjadi supir bisa saja ia lakukan. Namun, ketika hatinya berkata lain dan membawanya menjadi seorang marbot masjid, maka rasa-rasanya pekerjaan lain akan terasa sia-sia jika tak diringin dengan ibadah.

Menjadi marbot juga tidak semudah apa yang orang pikir. Masjid Al-Hudori berada tepat di pinggir jalan Cibiru Hilir, sehingga banyak sekali orang yang kerap kali melakukan shalat dan beristirahat sejenak ketika lelah dalam perjalanan. Heru menyayangkan, banyak sekali orang yang datang ke masjid namun kesadaran menjaga rumah Allah-nya masil ‘Nol’.

“Banyak orang yang istirahat dan makan di sini, tapi sampahnya dibuang sembarangan, padahal sudah disiapkan tempat sampah,” sesal Heru.

Bagi Heru, rumah Allah adalah rumah umat muslim juga, sehingga umat muslim di seluruh dunia juga harus menjaga rumahNya, seperti menjaga kebersihan dan keindahannya. Selama menjadi marbot, ternyata tingkat kecintaannya kepada Islam juga semakin bertambah. Dengan hidup sederhana dan menggantungkan diri dengan Allah ia merasa hidup lebih sempurna dan bahagia, meski hanya dengan Bima anaknya. Selain Waktu shalatnya juga semakin tertata dan tepat waktu, Bapak kelahiran 16 Juni ini juga berkesempatan memberikan suri tauladan yang baik kepada anaknya untuk menyegerakan shalat dan turut memakmurkan masjid.

Ingin mencari pekerjaan lain? Rasanya tidak. Heru sudah terlanjur cinta dengan profesinya sekarang. Urusan rezeki Heru tidak pernah mengkhawatirkan, karena baginya rezeki, jodoh, dan mati ada di tangah Allah. Dengan menjadi marbot ia juga yakin bahwa anaknya akan menjadi anak yang sholeh dan pintar dengan apa yang selama ini ia contohkan kepada anaknya.

“Karena rezeki sudah diatur sama Allah, jadi saya yakin Allah menjanjikan kesempurnaan hidup bagi hambaNya yang patuh, biar Allah yang gaji saya,” pungkas Heru mantap. (dhea/alhikmah/ed.kevin)

Like & Share berita ini untuk berbagi inspirasi