KAMMI Bandung Gelar Seminar Bertajuk Sosialisasi Empat Pilar MPR-RI

KAMMI Bandung Gelar Seminar Bertajuk Sosialisasi Empat Pilar MPR-RI

0 42

 

ALHIKMAHCO,– Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bandung menggelar seminar bertajuk “Sosialisasi 4 Pilar MPR-RI” di Gedung Indonesia Menggugat, Selasa (31/5/2016). Acara ini menghadirkan salah seorang anggota DPR-RI T.B. Soemandjaja dan Wakil Ketua MPR-RI, Hidayat Nur Wahid sebagai pembicara.

“Empat pilar yang dimaksud di sini adalah; Pancasila, UUD 1945, Ketetapan MPR-RI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” sambut Ketua KAMMI Bandung, Khoirul Aziz Sukma mengawali acara.

“Menurut saya, sosialisasi empat pilar ini sangat penting bagi kita, karena mengetahui Pancasila sebagai jiwa dari Undang-undang yang berlaku hari ini,” lanjutnya.

Sementara itu, penyampaian materi dibuka oleh T.B. Soemandjaja. Dalam pembahasannya, ia menyinggung beberapa masalah yang terjadi di masyarakat terkait Pancasila.

Setidaknya, lanjut Soemandjaja, ada tiga permasalahan dasar yang kerap dijumpai di masyarakat soal pancasila. Pertama, terkait pengejaan yang sering kali keliru. Seperti tulisan ‘UUD 1945 NKRI’ yang masih sering ditulis ‘UUD 1945 NRI’, dan tulisan ‘Bhineka Tunggal Ika’ yang harusnya tertulis ‘Bhinneka Tunggal Ika’.

Kedua, kesepakatan untuk memaknai sila-sila dalam Pancasila itu sendiri. Setiap masyarakat masih memiliki pandangannya masing-masing mengenai Pancasila, terlebih hari ini Pendidikan Kewarganegaraan tidak lagi masuk dalam kurikulum pendidikan.

“Dan saya sangat menganjurkan Pendidikan Kewarganegaraan untuk kembali disertakan dalam kurikulum pendidikan,” ungkapnya.

Ketiga, yaitu terkait selang sengketa dalam Pancasila. Menurut TB Soemandjaja sampai hari ini masyarakat saja masih dibingungkan dengan sosialisasi Pancasila yang terbagi ke dalam tiga versi. Yaitu tentang apakah peresmian Pancasila terjadi pada 1 Juni 1945, 22 Juni 1945, dan 18 Agustus 1945.

Selain TB Soemandjaja, Hidayat Nur Wahid pun turut menyampaikan pendapatnya mengenai sosialiasi empat pilar ini. Ia menyinggung soal akar sejarah pancasila, katanya, dasar negara Indonesia itu akan diberi nama Pancadarma, sebelum pada akhirnya datanglah seorang ahli bahasa kepada Ir. Soekarno untuk menggantinya menjadi Pancasila.

Pria asal Klaten ini berpendapat, sampai hari ini Sang Ahli Bahasa pun tidak tercatat jelas tentang siapa beliau di buku sejarah mana pun. “Tetapi, banyak sejarawan menduga bahwa M. Yamin yang memungkinkan terbukti sebagai ahli bahasa tersebut,” tandasnya.

Di akhir kesempatannya dalam menyampaikan materi, Ia juga mengatakan bahwa meskipun Indonesia ini negara terbuka, tetapi Indonesia tetaplah memiliki sebuah ideologi sebagai pondasi dari dasar hukum negara. (Irfan/ed.pn/Alhikmah)