Jokowi Minta Pisahkan Agama dan Politik, Yusril : Pernyataannya Ahistoris

Jokowi Minta Pisahkan Agama dan Politik, Yusril : Pernyataannya Ahistoris

1 106

ALHIKMAH.CO–Pakar Hukum Tata Negara Prof. Yusril Ihza Mahendra menilai pernyataan Presiden Jokowi untuk memisahkan agama dan politik beberapa waktu lalu merupakan pernyataan yang tak sesuai dengan pijakan bernegara dan ahistoris alias tidak sesuai dengan sejarah bangsa ini.

“Dalam konteks historis seperti itu, secara filosofis mustahil kita akan memisahkan agama dari negara, dan memisahkan agama dari politik. Karena itu, saya dapat mengatakan bahwa ajakan Presiden Jokowi itu bersifat a-historis, atau tidak punya pijakan sejarah samasekali,” tegas Yusril dalam keterangan tertulisnya kepada Alhikmah, Rabu (29/3/2017).

Menurut Yusril, falsafah negara Indonesia yaitu Pancasila justru menjadi cermin bagaimana agama dan politik saing berkelindan.

“Debat hubungan agama dengan negara menjadi topik hangat dalam sidang2 BPUPKI ketika the founding fathers merumuskan falsafah bernegara kita, yang berujung dengan kompromi, baik melalui Piagam Jakarta 22 Juni maupun kompromi tanggal 18 Agustus 1945 yang melahirkan kesepakatan Pancasila sebagai landasan falsafah bernegara kita,” katanya.

Karenanya, ia menilai ucapan Jokowi dapat menimbulkan kesalahpahaman. “Persoalan hubungan agama dan negara itu bukan persoalan sederhana yang bisa diungkapkan dalam satu dua kalimat seperti dalam pidato Presiden Jokowi di Barus, Sibolga, Sumatera Utara minggu akhir Maret yang lalu, karena hal itu dengan mudah dapat menimbulkan kesalah-pahaman,” pungkasnya. (mr/rilis)