Jogokariyan, Romantika Dakwah di Kampung Komunis

    0 649

    “Saya kira kalau ditanyakan rahasianya, ya, keikhlasan para da’i dalam menyampaikan dakwahnya. Tanpa digaji, semua kompak menyemarakkan dan memakmurkan masjid,”

     

    ALHIKMAHCO,– Siapa yang tak kenal Masjid Jogokariyan? Berdiri kukuh di tengah kampung, masjid biru berlantai tiga itu tak pernah sepi dikunjungi para jamaah. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga yang sepuh tumplek blek di sana. Bukan hanya kesohor lantaran semaraknya shalat berjamaahnya, namun dari sisi sejarah, berdirinya Masjid Jogokariyan memiliki kisah yang tak bisa diabaikan.

    Berkesempatan langsung bersilaturahim ke sana, selain berjumpa dengan salah satu takmirnya, alhikmah juga bersua dengan satu tokoh masyarakat yang menjadi saksi sejarah perkembangan Masjid Jogokariyan dari masa lampau hingga kini.

    20151211_125758Ternyata, pembaca, Masjid Jogokariyan yang mampu menampung sekira seribu jamaah ini dulunya hanyalah sepetak langgar berukuran 9×15 meter berlantai satu. Bukan hanya itu, masjid yang berdiri di tanah wakaf ini dibangun di kampung yang dulunya dikuasai orang-orang Merah, atau yang dikenal Komunis-PKI.

    Demikian yang dikisahkan biro Rumah Tangga Masjid Jogokariyan Sudi Wahyono, medio Desember 2015. “Dulu, latar belakang di sini basisnya PKI, masyarakat banyak yang tergabung dalam Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) PKI,” ucap Sudi mengawali ceritanya.

    “Kemudian ada juragan yang juga tokoh-tokoh Muhammadiyah cabang Karangkajen (dari kampung sebelah) yang melihat di sini banyak pekerja pengusaha batik. Niat awalnya, agar para pekerja itu bisa shalat berjamaah di masjid,” lanjut Sudi.

    Sudi memaparkan beberapa ulama yang terlibat menggagas Masjid Jogokariyan. Di antaranya ada H Zarkoni, Amin Sa’id, Dul Manan, yang mudanya Muhammad Chamid.

    Adapun penamaan Jogokariyan sendiri, Sudi mengisahkan ini bagian dari usaha para pendiri mengikuti Sunnah Rasul Saw. Seperti masjid pertama yang dibangun bernama Masjid Quba, karena didirikan di daerah Quba. Pun Masjid Nabawi saat ini, dulu bernama Masjid Bani Salamah, karena berada di wilayah Bani Salamah. Maka penamaan Jogokariyan sebagai nama masjid pun disepakati.

    “Secara tidak langsung, agar kita tahu di wilayah tersebut ada masjid. Kewajiban dakwah kita di wilayah itu. Juga agar masyarakat lebih merasa memiliki masjid ini,” papar Sudi.

    Sudi melanjutkan ceritanya, pendirian masjid memang termasuk mudah, tapi saat perkembangan dakwahnya yang ada perlawanan. Seringkali mereka menyalakan petasan, pokoknya mengganggu ketika kita ada kegiatan. Tak jarang gangguannya sampai ke tingkat adu fisik.

    Bahkan, imbuh Sudi, Kesenian Lekra begitu gencar mengampanyekan ideologi komunisnya. Sampai-sampai menggelar Pagelaran Ketoprak bertema Matini Gusti Allah (Matinya Allah Swt). Segitu bencinya mereka terhadap Islam, sampai menjadikan Allah sebagai olok-olokan.

    Kisah ini dibenarkan tokoh masyarakat yang juga saksi sejarah perjuangan Islam di era 1966, H. Muhammad Chamid.  “Masjid ini resmi dibangun tahun 1967 di atas tanah wakaf Bapak Jazuri. Situasi Jogokariyan saat itu, termasuk kampung merah, dulu banyak PKI,” tegas bapak berusia 71 ini membenarkan kisah yang dipaparkan Sudi Wahyono.

    “Kita masih minoritas. Islamnya juga banyak yang Islam abangan, tidak shalat, orang-orang mabuk sambil berjudi pemandangan biasa saat itu,” lanjutnya, melengkapi.

    Namun karena basis ‘orang-orang Merah’, perkembangan dakwah di kawasan Jogokariyan ini tak semudah membalikan telapak tangan.

    “Mereka sering mengganggu aktivitas ibadah kita. Misalnya, ketika shalat dibunyikan mercon. Kita memang banyak dimusuhi. Akan tetapi, tak menyurutkan semangat teman-teman (angkatanya) untuk berdakwah,’ ungkap H. Chamid mengenang.

    Chamid bercerita, pemuda-pemuda muslim saat itu masih sedikit, sekira lima orang. Mereka dengan getol berdakwah khususnya mengajak anak-anak untuk rajin datang ke masjid. Lewat anak-anak yang dibina inilah, satu persatu orang tuanya tersadarkan dan mau datang ke masjid. Bahkan, imbuhnya, sekarang banyak mantan PKI yang menjadi muadzin, shalat berjamaahnya tidak ketinggalan.

    Mengutip istilah Sudi Wahyono, pola dakwah saat itu adalah Potong Generasi. Menjadikan anak-anak sebagai kader dakwah, untuk mendakwahi orang tuanya yang masih PKI.

    20151211_154000Sebetulnya tak banyak yang diberikan saat itu, H. Chamid mengaku, hanya kajian-kajian seminggu tiga kali yang disebut Selosor Sore. Di dalamnya selain diajarkan mengaji, juga lebih ditanamkan akidah dan akhlak Nabi Muhammad Saw., namun itu yang membuat anak-anak kerasan di masjid. Mengenai perkembangan dakwah dan Masjid Jogokariyan hingga seperti ini, beliau mengaku tidak pernah terpikir sejauh itu. Bahkan, untuk perkembangan luas masjidnya saja, tidak terbesit sebesar sekarang.

    “Saya kira kalau ditanyakan rahasianya, ya, keikhlasan para da’i dalam menyampaikan dakwahnya. Tanpa digaji, semua kompak menyemarakkan dan memakmurkan masjid,” ujar H. Chalid yang kini menghabiskan hari-harinya sebagai penjaga lapangan Futsal Jogokariyan.

    Alhamdulillah,” ucapnya tak lupa bersyukur. Sebab baginya perkembangan Jogokariyan hingga seperti sekarang tak luput dari keberkahan dakwah yang telah digagas teman-teman dan para pendahulunya.

    Tak banyak yang bisa beliau ceritakan, dua kali mengalami Struk membuatnya lupa banyak hal. Namun yang luar biasa, pembaca, beliau berusaha untuk berjamaah di masjid meski harus duduk di kursi saat shalat. “Iya Zuhur sampai Isya kalau bisa saya usahakan datang ke masjid. Tapi Subuh saya shalat di rumah,” ucapnya.

    Di pengujung percakapan, H. Muhammad Chamid menyampaikan harapan sekaligus pesan, khususnya pengurus Masjid Jogokariyan, agar tetap menjaga amanahnya. “Jangan sampai masjid disalahgunakan demi kepentingan pribadi yang justru merusak nilai dakwah. Semoga Masjid Jogokariyan lebih maju dan baik lagi,” pungkasnya. (Maharevin/Alhikmah)