Jetc Elmir, Bisnis Sembari Travelling Bersama Anak

Jetc Elmir, Bisnis Sembari Travelling Bersama Anak

0 53

“…keluarga adalah urusan utama. Meski banyak desainer lain yang mampu menyeimbangkan dunianya dengan keluarga,

ALHIKMAHCO,– Kala menginjak tanah Sumba, matanya terpukau dengan limpahan ciptaan Allah di tanah yang juga disebut Bumi Marapu itu. Pantai-pantai yang landai, padang-padang sabana yang membentang sepanjang daratan, peninggalan budaya Megalitikum yang memikat, dan tentu saja tenun. Sebab untuk tenunlah ia berada di sana. Di sampingnya, putrinya berusia 3.5 tahun, Keykha berseru ceria, turut kagum dengan segala pesona Sumba.

Kecintaan Jetc Elmir pada dunia kain tradisional tak perlu diragukan. Sejak menempuh S1 di Kriya Tekstil FSRD ITB, ia banyak berkutat dengan tenun-tenun tradisional. Pun setelah menikah, ia banyak melakukan perjalanan bersama sang suami, dan barulah ia sadar betapa mempesonanya tenun-tenun yang justru banyak tak dihiraukan masyarakat. Maka ketika mengambil S2, didalaminya tenun tradisional sambil memburunya di desa-desa adat di belahan timur Indonesia.

Awalnya, tidak terbesit sedikit pun di hati Jetc, keinginan membangun brand hijab L’Mira Ethnique yang telah ia kelola sejak tiga tahun lalu. Namun, tahun 2012 menjadi tonggak lahirnya keinginan itu. Ia melahirkan Keykha. Jetc merasa kesulitan mencari pakaian-pakaian yang breastfeeding-friendly, terutama pakaian untuk pergi ke acara khusus.

Ia sadar, perlunya mencari pakaian tepat, terutama karena ia adalah muslimah yang tidak boleh memperlihatkan aurat. “Lalu saya kombinasikan semua kebutuhan saya: baju muslim yang ramah untuk ibu menyusui, dan tentunya menambahkan salah satu ikon keindahan Indonesia, yaitu kain tradisional. Jadilah saat 2012 akhir, saya rintis L’Mira Ethnique,” ungkap Jetc, ditemui Alhikmah Oktober 2015 lalu.

Namun kala memburu kain tenun di desa-desa adat Indonesia, tak mungkin ia meninggalkan putrinya yang masih kecil. Jetc enggan meminjam jasa babysitter selama ia masih mampu mengasuh Keykha. Akhirnya, diboyongnya Keykha mengelilingi Payakumbuh, Bali, Sumba, sampai dengan Flores.

Keputusannya membawa Keykha ini direstui sang suami. Pasangan hidupnya itu sadar passion Jetc yang begitu menggelegak pada tenun tradisional, dan ia pun membolehkan Jetc melakukan pekerjaannya asal melakukan komunikasi dengan baik. Suami Jetc sendiri, dalam pekerjaannya kerap melakukan perjalanan ke laut selama sebulan. Sehingga, ketika suaminya melaut, Jetc memanfaatkannya untuk mencari tenun, agar bulan berikutnya ia bisa total menghabiskan waktu bersama suami.

11881710_817162875063673_665959866_n“Kalau aturan dari suami saya: komunikasikan semuanya dengan suami. Yang penting anak selamat, kami berdua aman dan sehat, dan pada saat dia pulang, kami bisa menikmati hari bersama dan tidak sibuk sendiri-sendiri,” jelas Jetc. Sebab, katanya, jika Jetc sibuk sedikit saja suaminya pasti komplain.

Meski mendapat izin dari suami, tak lantas membuat Jetc pergi begitu saja memboyong anak. Setiap rencana perjalanan ia atur dan rinci sedemikian rupa agar aman dan nyaman bagi Keykha. Ia mengupayakan desa-desa adat yang ia temui baby-friendly agar mudah ditempuh. Pula sekalipun tidak baby-friendly, Jetc mencari hal-hal yang bisa diantisipasi.

Keykha yang saat bayi begitu cengeng dan sulit lepas darinya, Jetc sadari justru semakin mandiri. Barangkali seiring dengan perjalanan yang terus menerus dijalani, Keykha semakin paham dengan pekerjaan dan kecintaannya pada tenun. Yang membuat Jetc bangga, permen dan balon bukanlah kosakata yang biasa Keykha bicarakan selayaknya anak seusianya. Keykha justru senang membahas jenis tenun.

Sebab itu ia mengaku sangat dekat dengan putri semata wayangnya itu. Saking dekatnya, jika Keykha sakit, tak jarang malah ia yang perlu mengorbankan semua aktivitas bisnisnya demi merawat Keykha. “Hampir di setiap perjalanan, saya mengajak anak saya. Dan saya cenderung lebih suka melakukan aktivitas yang tidak perlu sampai meninggalkan dia,” katanya.

Sambil terus menjalankan bisnis L’Mira Ethnique, Jetc juga memfokuskan dirinya menanamkan nilai-nilai Islam pada putrinya. Sedari kecil sekali, Keykha diajaknya untuk selalu sholat berjamaah meski putrinya belum baligh. Jetc pun sangat tegas dalam urusan pakaian Keykha. Selama ini, tak pernah ia memberikan pakaian yang potongannya pendek pada Keykha.

“Kalau jilbab memang Keykha masih on-off, karena dia masih belum baligh juga. Tapi yang penting buat saya, dia terbiasa mengenakan baju panjangnya untuk menutup aurat,” tutur Jetc.

Kini, bisnis hijab L’Mira Ethnique miliknya makin berkembang. Brand hijabnya tergabung dalam salah satu e-commerce terlaris yaitu Hijup. Pun Oktober lalu, ia sempat ditawari tempat secara gratis dalam event fashion terbesar di Indonesia, Jakarta Fashion Week.

Awalnya, ia tergiur untuk melakukan fashion show, untuk memperdalam dunia fashion designer yang ia geluti. Lama kelamaan, saat ia memasuki tahap terakhir persiapan event tersebut, Jetc sampai pada kesimpulan bahwa ia tak siap mendalami dunia fashion designer secara total. Sekali masuk dunia fashion dengan serius, maka Jetc yakin ia tak akan puas sampai di situ.

Ia menilai energinya tak akan cukup, terutama ia memikirkan keluarganya. Bagi Jetc, keluarga adalah urusan utama. Meski banyak desainer lain yang mampu menyeimbangkan dunianya dengan keluarga, Jetc tahu suatu saat dia akan memilih salah satu di antara keduanya. Dunia fashion designer, bagi Jetc, hanyalah kemasan semata, tanpa esensi. Dan ia takut jika sampai terperangkap di dunia tersebut.

Ia sendiri mengingatkan diri, bahwa tujuannya membangun L’Mira Ethnique adalah untuk mengenalkan tenun tradisional ke tengah masyarakat, bukan materi semata. Dunia fashion designer dan travelling ke sudut-sudut negeri Indonesia hanyalah salah satu jembatan bagi Jetc untuk mencapai cita-citanya: mengenalkan tenun dan menyejahterakan pengrajin tenun yang saat ini masih di bawah garis kemiskinan.

“Semoga amalan ini jadi amal jariyah bagi saya,” pungkasnya.

(Aghniya/Alhikmah)