Jangan Salah Pilih, Tinggalkanlah Kesibukan yang Tak Bermanfaat!

Jangan Salah Pilih, Tinggalkanlah Kesibukan yang Tak Bermanfaat!

1 242

SALAH satu sifat orang Muslim adalah dia menyibukkan dirinya dengan perkara yang mulia, sekaligus menjauhkan diri dari hal-hal yang hina, rendah, dan tidak bermanfaat. Sebagaimana yang termaktub dalam hadits berikut: Dari Abu Hurairah r.a, dia berkata “telah bersabda Rasulullah SAW,”Sebagian dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya,” (HR. Tirmidzi).

Hadits di atas juga diriwayatkan melalui Qurrah bin Abdurahman, dari Zuhri, dan dari Abu Salamah. Tentang hadits ini,mereka berkata, “Hadits ini kalimatnya pendek tetapi padat berisi.” Hadits ini pun semakna dengan haditsnya Abu Dzar dalam beberapa riwayat, “Barangsiapa yang menilai ucapan dengan perbuatannya, maka dia akan sedikit bicara dalam hal yang tidak berguna bagi dirinya.”

Dalam riwayat Imam Malik menyebutkan bahwa sampai kepadanya keterangan bahwa seseorang berkata kepada Luqman: Apa yang menjadikan engkau mencapai derajat seperti yang kami saksikan sekarang?” Jawabnya, berkata benar, menunaikan amanah dan meninggalkan apa yang tidak berguna bagi diriku.” [i]

Sebaliknya, di dalam kitab Faidhul Qadhir disebutkan, barangsiapa yang meninggalkan perkara yang bermanfaat, maka ia akan disibukan dengan suatu perkara yang mudharat, dan itu merupakan tanda buruknya keislaman bagi dirinya. Aktivitas yang tidak bermanfaat itu hanyalah kegiatan-kegiatan yang bersifat sekunder dengan segala macam bentuk dan jenisnya. [ii]

Menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak bermanfaat adalah suatu kesia-siaan sekaligus merupakan pertanda lemahnya iman dan jauhnya orang tersebut di hadapan Allah. Sebagaimana yang dapat dikutip dari hadits berikut: “Tanda bahwa Allah menjauh dari seseorang, yaitu dijadikannya orang itu sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna bagi kepentingan akhiratnya,”(HR. al Hasan).[iii] Sebab itu, seorang Muslim harus mempunyai skala prioritas, baik dalam berilmu, beramal, di atas dasar yang kuat dan kokoh.   [iv]

[i] Daqiq al-Ied, (2001), Syarah Hadits Arba’in Imam Nawawi, Yogyakarta: Media Hidayah, cet. 10, hlm.73

[ii] Husain Bin ‘Audah, (2007), Prioritas dalam Ilmu Amal dan Dakwah, Jakarta: Pustaka Imam Syafi’I, hlm. 68

[iii] Muhyiddin Yahya bin Syaraf, (2007), Hadits Arba’in Nawawiyah, Indonesia: Maktab Dakwah dan Bimbingan Jaliyat Rabwah, hlm. 41

[iv] Husain Bin ‘Audah, op.cit, hlm 1