Jangan Biarkan Sifat Ananiyah Bersemayam di Hati

Jangan Biarkan Sifat Ananiyah Bersemayam di Hati

1 298
source; getcover

ANANIYAH atau yang biasa disebut egois adalah sikap mementingkan diri sendiri dan tidak mempunyai kepedulian terhadap orang lain. [i] Pengertian ini diambil dari kata dasar ananiyah itu sendiri. Kata ananiyah berasal dari ana dalam bahasa Arab yang artinya saya atau aku. Kemudian mendapatkan kata iyah yang menjadi keakuan.

Dalam akhlak Islam, sikap ananiyah tidak dibenarkan. Karena setiap manusia itu di samping mempunyai kewajiban terhadap Allah, juga mempunyai kewajiban untuk bermasyarakat. [ii] Sifat Ananiyah hanya akan melahirkan sifat egosentris, yakni mengutamakan kepentingan dirinya di atas kepentingan orang lain. Mereka melihat hanya dengan sebelah mata bersikap dan mengambil tindakan hanya didorong oleh kehendak nafsu.

Dari sifat ananiyah yang hanya memperturutkan hawa nafsunya sendiri, akan lahir sifat-sifat lain yang juga berdampak negatif dan merusak. Misalnya sifat bakhil, tamak, mau menang sendiri, dzalim, dan meremehkan orang lain. Jika dibiarkan, sifat ini akan berkembang menjadi sifat congkak dan dengki.

Jelas sikap ini merupakan perbuatan tercela yang dibenci Allah SWT. Orang yang egois biasanya membangga-banggakan dirinya sendiri, menganggap orang lain hina dan rendah. Sikap keakuan atau egoistis merupakan tabir tebal yang hanya akan menghalangi masuknya cahaya kebenaran. Kalau sifat sombong dan dengki saja harus dijauhi, demikian juga hal-hal yang akan menyebabkan munculnya sikap yang tercela itu, pun harus dijauhi. [iii]

Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk saling menghargai dan mementingkan kepentingan orang lain daripada kebaikan dan kepentingan pribadi. Sebagaimana yang termaktub dalam firman-Nya berikut ini : …Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan…. (QS. al-Hasyr [59]: 9).[iv] Sebab dalam suatu riwayat, orang yang egois bukanlah termasuk umat Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda “Barangsiapa yang tidak mau memikirkan urusan sesama orang Muslim, maka ia bukan termasuk golongan mereka.” (H.R Ahmad)[v]

[i] Tuti Yustiani, (2008), Be Smart Pendidikan Agama Islam, Bandung: Grafindo, hlm. 25

[ii] Mochtar Efendy, (2001), Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Universitas Sriwijaya, hlm. 104

[iii] Toto Tasmara, (2000), Menuju Muslim Kaffah, Jakarta: Gema Insan Pers, hlm. 150

[iv] Ahmad Abdul Ghaffar, (2004), Jakarta: Gema Insan Pers, hlm. 58

[v] Tuti Yustiani, op.cit, hlm. 25