Jalan Terjal Para Dai, Haruskah Terhenti?

Jalan Terjal Para Dai, Haruskah Terhenti?

0 52
pict. blog harmoko1924

DAKWAH bukan jalan lempang tiada berbatu tajam. Itu adalah pilihan yang menanjak lagi sukar. Penuh kesabaran cum pengorbanan. Satu tujuannya, menyampaikan ajaran Tauhid ke relung hati setiap insan, hingga akhirnya terbentuk masyarakat yang berserah diri dalam naungan aturan kewahyuan. Maka tak heran, bila Allah menyebutkan untaian kalimat dakwah lebih mulia dari alam semesta dan seisinya.

Seperti yang para Anbiya, Rasulullah, dan para sahabat rasakan. Jalan hidup yang dipilih harus dibayar dengan keringat, darah, dan air mata. Cercaan, tudingan, hingga terbunuh adalah resiko yang menghadang.

Lihat kisah Nabi Nuh yang telah berdakwah ratusan tahun, namun hanya puluhan orang yang mau mengikuti ajakannya. Sisanya Allah tenggelamkan ke dalam banjir besar, termasuk anak dan istrinya. Atau lihat Rasulullah yang dituding gila, penipu, juga penyihir, semasa memproklamirkan kerasulannya di hadapan penduduk musyrikin. Padahal sebelum itu, beliau dikenal sebagai pemuda yang dijuluki Al-Amin (terpercaya).

Demikian dua cuplik contoh tauladan dakwah. Di mana perjalanannya tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan. Tidak sekadar berceloteh di depan layar, membahas kaifiyat shalat dan fadhilah sedekah, setelah selesai lalu dibayar hingga puluhan juta rupiah.

Syahdan, dalam dunia dakwah, akan ada senantiasa golongan yang ingkar dan memusuhi para pelanjut risalahNya. Selalu muncul orang-orang yang menghantam dan tidak rela Islam menjadi rahmat bagi semesta alam. Hingga hari ini pun demikian. iblis berwujud manusia kerap merongrong barisan umat Islam agar tercerai berai. Beragam isu, kebencian, dan ketakutan dibuat sedemikian rupa, hingga pilihan yang tersisa adalah menjauhkan diri dari Islam.

Di titik ini, para juru dakwah akan berhadapan dengan beragam polemik. Banyak hal yang dipunya harus dilepas. Bisa itu harta, kawan, pekerjaan, atau keluarga. Ketika apa yang dipunya, malah berbalik menjadi pengganjal dakwah, apakah akan dilepaskan atau tetap dipertahankan? Juga ketika, seorang dai dibenci masyarakat hingga keluarga terdekat karena perjuangan dakwahnya, maka hanya ada dua pilihan, rehat atau terus berdakwah?

Masalah dalam hidup itu bagaikan air mendidih. Namun, penyikapan kitalah yang akan menentukan dampaknya. Semisal, kita bisa menjadi lembek seperti wortel. Mengeras seperti telur. Atau harum seperti kopi. Wortel dan telur bukan mempengaruhi air. Mereka malah berubah oleh air. Sementara kopi malah mengubah air dan membuatnya menjadi harum.

Syahdan, dalam setiap masalah, selalu tersimpan mutiara yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja, tapi apakah kita dapat tetap bersyukur saat kita ditimpa masalah? Ada tiga reaksi orang, saat masalah datang, yaitu: Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh dan mengasihani diri sendiri. Ada yang mengeras, marah-marah, dan menyalahkan pihak lain. Ada yang justru semakin harum, menjadi semakin kuat dan bijaksana.

Kembali ke dakwah, pembaca. Ketika kita menghadapi sebuah permasalahan dalam jalan dakwah, akan menjadi apa kita? Menjadi lembek dengan mengurangi kadar intensitas dakwah? Menjadi keras hingga tak mengindahkan syariat? Atau tetap berdakwah tanpa terpengaruhi oleh masalah tersebut? Hingga akhirnya lewat dakwah kitalah perubahan itu terjadi nyata. Waullahu a’alam []

*Jurnalis Tabloid Alhikmah cum Alumnus UIN Bandung angkatan 2008