Istri Minta Cerai, Ingin Tinggal dengan Keluarganya

Istri Minta Cerai, Ingin Tinggal dengan Keluarganya

2 353
KH Miftah Faridl

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Ustadz, saya ingin menanyakan beberapa hal terkait permasalahan yang saya hadapi. Sebelumnya izinkan saya menjelaskan dulu duduk perkaranya. Saya adalah seorang TKI yang bekerja di luar negeri. Saya pulang kadang setahun sekali. Untuk beberapa tahun terakhir, saya pulangnya setiap 2 bulan sekali dengan libur 3 sampai 4 minggu. Kondisi tersebut membuat rumah tangga kami mulai mengalami goncangan. Hingga akhirnya, istri saya yang tidak tahan dengan jarang pulangnya saya, meminta saya menceraikannya.

 

Hal yang ingin saya tanyakan, berdosakah saya bila mengabulkan permintaan istri untuk minta cerai mengingat, pertama: ia tidak bisa melayani saya karena ibunya selalu ikut tidur bersamanya, walaupun saya sudah mengikhlaskan hal tersebut karena saya sudah memiliki seorang putra dan seorang putri.

 

Kedua, ketika ia disuruh memilih antara saya atau keluarganya, dia malah memilih tinggal bersama keluarganya. Ketiga, jika saya ingin menikah lagi, perempuan seperti apa yang disarankan untuk saya? Sekian ustadz yang ingin saya tanyakan. Terimakasih.

(SB, Aceh// 0812695xxxx )

 

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Keluarga yang ideal memang kalau suami istri dan anak-anak berada di tempat yang sama, suami berpisah dengan istri atau dengan anak-anak hanya dalam waktu-waktu tertentu saja seperti pada waktu bekerja. Dengan suasana seperti itu pembinaan keluarga menjadi lebih efektif, banyak kesempatan berdialog, shalat berjamah dengan keluarga dll.

 

Tapi apa yang Anda alami yaitu suami bekerja di tempat yang jauh dari rumah atau keluarga dan ketemu dengan istri dan anak-anak hanya sekali dalam jangka beberapa bulan, sebenarnya banyak juga dialami oleh saudara-saudara kita dan mereka tetap harmonis, rumah tangga mereka tetap utuh. Mereka hadapi keadaan tersebut dengan ridlo dan ikhlas demi masa depan mereka.

 

Mereka saling percaya, mereka juga menjaga kehormatan mereka masing-masing. Bahkan jarang ketemu itu menjadi pendorong untuk lahirnya rasa kangen dan rindu yang bisa menjadi awal lahirnya cinta kasih.

 

Apa yang Anda alami, dimana istri tidak siap untuk menghadapi realitas, harus Anda sikapi dengan penuh kearifan. Kalau masih memungkinkan solusinya lebih baik tidak dengan talak tapi dengan cara yang lain. Talak itu hanya boleh dan baik dilakukan kalau sudah tidak ada jalan lain, apalagi kalau sudah ada anak-anak, maka solusi talak itu harus dipertimbangkan masak-masak, setelah musyawarah dengan berbagai pihak dan beberapa kali sholat istikhoroh.

 

Kalau istri tetap mendesak minta talak dan sudah tidak siap melayani Anda, lahir batin, maka talak yang Anda lakukan setelah mempertimbangkannya masak-masak, insya Allah Anda tidak berdosa. Walaupun sebagai suami istri sudah pisah karena talak tersebut tapi hubungan kekeluargaan sebagai muslim tidak boleh pisah. Apalagi istri atau bekas istri Anda itu adalah ibu anak-anak Anda.

 

Kalau kemudian Anda bermaksud menikah lagi dengan wanita lain selain memenuhi ketentuan wanita yang shalehah juga harus siap menerima putra atau putri Anda. Putra atau putri Anda harus bangga dan bahagia dengan kehadiran ibu lain (istri baru Anda).

 

Apa yang Anda alami harus menjadi pelajaran; Kekecewaan atau kegagalan masa lalu jangan sampai terulangi, tapi Anda harus siap menerima segala-galanya kalau kemudian ia telah menjadi istri Anda. Ingat sesoleh-solehnya istri kita tidak akan sesoleh Khadijah istri Rasulullah atau Siti Fatimah putri Rasulullah SAW. Siap menerima apa adanya dan dengan cerdas berusaha memperbaikinya.

BERITA TERKAIT