Istri Memakai Nama Suami di Belakang Namanya. Boleh?

Istri Memakai Nama Suami di Belakang Namanya. Boleh?

0 219
KH Athian Ali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ustadz, belakangan ini kerap saya dengar dan saksikan, setelah menikah, seorang istri memakai nama suami di belakang nama resminya. Misal: Siti Munawaroh menikah dengan Ilham Bakrie. Kemudian ia menambahkan nama suaminya, sehingga menjadi Siti Munawaroh Bakrie.

Padahal, sependek pengetahuan saya, seorang pria/wanita muslim hanya diperbolehkan menambahkan nama ayahnya di belakang nama dirinya. Bagaimana sudut pandang Islam tentang hal ini?  Terima kasih atas pencerahannya.
Shafiya Khansa – Baleendah, Bandung

Jawaban

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Sastrawan Barat Shakespeare terkenal dengan ungkapannya What’s in a name?  Namun, dalam Islam ada perintah memberi nama seseorang dengan nama yang baik. Ada yang Sunnah, misalnya memberi nama yang baik dan disandarkan dengan nama Allah; Abdullah, Abdurrahman. Pun ada yang terkategori makruh, misalnya: memberi nama “si Pelit”, “Si buruk rupa”, “Si Bengal”.  Ada pula yang haram, misalnya: memberi nama “setan” atau “iblis”, dan lainnya.

Satu lagi, nama tidak harus terkait dengan asmaul husna. Asalkan artinya memang baik. Menggunakan bahasa daerah setempat pun tidak ada masalah. Misal: Asep Dermawan, Budi Mulia.

Terkait dengan pertanyaan saudari shafiya, tentang hukum penisbatan nama suami di belakang nama istri, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, ketika proses pembuatan nama itu sendiri, suami (siapapun) hampir pasti sama sekali tidak mengetahui. Belum lagi sepasang suami-istri itu terikat oleh ikatan pernikahan, yang sewaktu-waktu mungkin saja terputus dengan adanya perceraian. Ketika itu terjadi,  maka hendak disandarkan kemana lagi nasab sang istri? Meskipun kita tahu bahwa suami memiliki kedudukan sangat tinggi bagi istrinya, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallammengatakan seandainya sujud kepada manusia diperbolehkan niscaya seorang istri diperintahkan untuk sujud kepada suaminya. Hal ini tidak mengubah, bahwa nasab seseorang perempuan selamanya disandarkan kepada ayah kandungnya. Dan nasab itu tidak bisa lepas sampai kapanpun, meski sang ayah telah meninggal dunia.

Seperti Firman Allah, yang artinya: “panggillah mereka kepada bapak-bapak mereka itu lebih adil di sisi Allah…” (QS Al-Ahzab:5)

Kedua, betapa luarbiasa kecewanya orang tua, ketika seorang anak yang telah ia besarkan selama ini, lebih bangga menyandarkan namanya kepada suami, ketimbang ayahnya sendiri. Betapa terluka perasaan orang tua kita melihatnya. Ada unsur pengingkaran seorang wanita kepada keluarganya dimana hal itu bertentangan dengan sifat kebajikan, ihsan dan akhlak yang mulia.

Selain itu, bisa kita lihat dalam Shirah, para istri Rasul SAW menikah dengan manusia yang paling mulia nasabnya. Namun, tak seorang pun dari mereka yang dinisbatkan kepada nama beliau (SAW). Bahkan mereka semua masih dinisbatkan kepada ayah mereka meskipun kafir.

Maka, menurut hemat saya, sangat tidak tepat, seorang istri menyandarkan nama pada suami. Jika memang harus ada tambahan nama di belakang nama seorang wanita, maka sebaiknya disandarkan kepada ayah kandungnya. Jikapun tidak menggunakan penyandaran, hal ini tidak menjadi soal. Wallahua’lam.

*pembaca dapat berkonsultasi untuk rubrik Syariah bersama KH Athian Ali, Lc, MA dengan mengirimkan pertanyaan ke email redaksi: redaksi.alhikmahco@gmail.com