Istilah Islam Nusantara Dinilai Hanya Jargon Politik, Bukan Wacana Ilmiah

Istilah Islam Nusantara Dinilai Hanya Jargon Politik, Bukan Wacana Ilmiah

0 106
pict_ar rahmah

ALHIKMAHCO,– Wacana Islam Nusantara kini menuai banyak kritik dari para ulama dan cendekiawan muslim di Indonesia. Belum adanya definisi yang jelas tentang Islam Nusantara, menjadikan istilah ini dipertanyakan dari sisi ilmiah dan akademik.

Salah satunya adalah Cendekiawan Muslim peneliti Islamic Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Dr. Adian Husaini. Menurutnya, Islam Nusantara yang sebetulnya bukan istilah baru tersebut belum jelas pendefinisiannya.

“Definisinya selama ini belum jelas, seperti mereka tidak serius mengembangkan wacana Islam Nusantara ini,” katanya, ditemui Alhikmah.co di Masjid Salman ITB, Kamis (18/06/2015).

Memang, katanya, jika definisinya merujuk pada pendekatan budaya, Rasulullah sendiri selalu memerhatikan budaya dalam dakwahnya. Hanya saja, budaya tersebut diambil jika memang baik dan sesuai dengan ajaran Islam. “Bukan mengikuti budaya, karena tidak semua budaya itu baik,” lanjut murid Ulama Pakar Peradaban Islam Nusantara Prof. SMN Al Attas ini.

Hanya Jargon Politik

Pun, ketika menanggapi Said Aqil Siradj yang membandingkan Islam Nusantara dengan Islam Arab, Dr. Adian merasa perbandingan tersebut tidak relevan. “Islam Nusantara hanya sekadar jargon politik, tanpa wacana ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut,” kata Doktor Pemikiran Islam jebolan ISTAC Malaysia ini.

Ketika dinyatakan Timur Tengah memiliki banyak konflik, katanya, para penunggang wacana Islam Nusantara tidak memahami perang seperti apa yang masyarakat Timur Tengah hadapi.

“Apa salah kalau Palestina berperang melawan Israel? Apa salah kalau mujahidin Syria melawan Assad? Kan tidak. Mereka sedang membela haknya,” tuturnya. Ia menambahkan, menyatakan Timur Tengah sebagai wilayah rawan konflik itu terlalu mengeneralisir. Padahal, tidak semua negeri di Timur Tengah berperang. (Aghniya/Alhikmah)